Menu ✖

Mode Gelap
Pembiayaan Elektrifikasi Transjakarta Rp5,07 Triliun KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Naik 3,92 Persen Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan KSOP Muara Angke Kampanye Pemeriksaan Kapal Terkonsentrasi

RAGAM

Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir

badge-check


 Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir Perbesar

Wartatrans.com, PIDIE JAYA — Ketika kami tiba, matahari memancar begitu terik. Debu yang beterbangan menempel pada bodi mobil yang masih berlumpur, membawa aroma tanah yang menyengat. Sesekali, tercium pula bau anyir kematian bercampur wangi kayu kering seperti dari rawa-rawa. Udara terasa sepat, kering, dan menekan.

Desa ini seperti baru tersadar dari mimpi buruk—sunyi, namun menyimpan riuh duka yang belum benar-benar surut. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena tanah yang gembur dan lengket, tapi juga oleh cerita-cerita yang tertinggal di setiap sudutnya.

Sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu yang melewati Meunasah Mandang, Dayah Useh, dan Gampong Pante Beureune, Kabupaten Pidie Jaya, lanskap berubah menjadi hamparan puing. Tumpukan kayu bersilang, besar dan kecil, bercampur lumpur, ranting, serta sisa-sisa kehidupan yang diseret arus dari hulu. Kayu-kayu itu seperti tulang belulang hutan yang dilucuti paksa—penanda betapa kuat, brutal, dan tak terduganya banjir bandang ini. Jembatan yang masih berdiri di kejauhan, bersama alat berat yang bekerja perlahan, seolah mengingatkan bahwa bencana sebesar ini mustahil dipulihkan dengan tergesa-gesa. Dan di balik semua itu, manusia pula yang menjadi penyebab paling biadabnya.

Di antara serpihan itu, seorang lelaki berdiri dengan kamera di tangan. Langkahnya hati-hati, seakan setiap pijakan adalah bentuk penghormatan bagi yang tak selamat dan rasa bersalah bagi warga yang rumahnya digerus kayu-kayu dari hutan jauh. Ia merekam apa yang tak cukup dituturkan oleh kata-kata—sebuah tekad agar kehancuran ini tidak menguap begitu saja.

Tak jauh darinya, sebatang kayu besar tergeletak dengan angka hitam tertera di permukaannya. Entah itu bekas penandaan pembalakan, atau hanya jejak robohnya pohon raksasa. Namun rasanya mustahil ini murni peristiwa alam. Ada campur tangan manusia, yang tak pernah merasa cukup. Di sisinya, seorang lelaki terdiam. Pandangannya kosong, tercekat—seolah dingin yang tiba-tiba menyergap.

Pada kesempatan lain, pemandangan paling menohok muncul ketika dua anak kecil melintasi jalan berlumpur, diapit tumpukan kayu di kiri-kanan. Langkah mereka kecil, namun tegar. Bagi mereka, reruntuhan ini bukan sekadar latar tragedi, tapi kenyataan yang harus mereka lalui lebih cepat dari usia yang seharusnya. Lumpur yang menempel di kaki mereka seakan menjadi simbol masa depan yang tetap harus ditapaki, meski penuh ketidakpastian. Tapi mereka tersenyum, menyapa—tanpa kesedihan di wajah. Justru kami yang melihat mereka dibuat terenyuh; ada luka yang sulit dijelaskan, dalam, dan menyakitkan.

Di sudut lain, tiga lelaki berhenti setelah membersihkan rumah mereka. Tubuh mereka lelah, pakaian masih kotor oleh lumpur yang seolah enggan benar-benar hilang. Berhari-hari mereka mengeruk lumpur, tetapi belum juga selesai. Tingginya endapan lumpur dan minimnya alat membuat proses pembersihan terasa tak kunjung tamat. Di belakang mereka, sebuah mobil putih terkubur sebagian—diam dan tak berdaya—menjadi penanda betapa dahsyatnya lumpur dan kayu yang pernah menguasai ruang hidup mereka. Istirahat singkat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda untuk menata napas sebelum kembali berjuang.

Masih di jalur yang sama, seorang lelaki berdiri sendiri di atas tumpukan kayu yang seharusnya dialiri air. Sosoknya tampak kecil di tengah ribuan kubik kayu, menegaskan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam. Namun keberaniannya berdiri dan menatap kehancuran itu menunjukkan pengakuan—bahwa kehilangan harus dihadapi, bukan dihindari.

Dan di tengah semua itu, sebuah kontras muncul begitu kuat: bendera Merah Putih tetap berkibar. Di sekelilingnya, bekas banjir dan reruntuhan masih jelas terlihat. Kibaran itu tidak hanya simbol negara, melainkan tanda keteguhan, martabat, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa identitas dan kebersamaan tidak ikut terseret banjir.

Banjir bandang di Pidie Jaya ini bukan hanya merusak ruang fisik, tetapi memaksa warganya berhadapan dengan kenyataan tentang kehilangan dan permulaan kembali. Namun di balik kayu-kayu berserakan, jeda kelelahan, dan tanah yang belum pulih, satu hal tetap bertahan: daya hidup.

Meunasah Mancang dan Dayah Usen di Kecamatan Meurah Dua masih berdiri. Luka belum benar-benar sembuh. Namun harapan—seperti bendera yang terus berkibar—tetap dijaga agar tidak runtuh.***

Keterangan Foto: Seorang lelaki melintasi lautan kubik kayu di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Desember 2025.

Tulisan dan foto: Pilo Poly

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam

12 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Rocky Gerung Minta Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ingatkan Prabowo Jangan Terseret Polemik

12 Oktober 2026 - 16:40 WIB

CELIOS Merilis Menteri Terburuk dan Terbaik 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Siapa Saja?

12 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng

12 Oktober 2026 - 12:18 WIB

TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat

12 Oktober 2026 - 11:10 WIB

​Karmila, Demisioner Presma Universitas Bumi Persada, Suarakan Aspirasi Pascabencana Aceh di Ajang Nasional Future Leaders Summit 2026

12 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Karhutla Tembus 10 Hektare di Bagendang, Kalteng

12 Oktober 2026 - 05:09 WIB

Trending di NASIONAL