Menu

Mode Gelap
Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api Gelar RUA 2026, Iperindo Bahas Order Pembangunan Kapal Baru Dalam Negeri masih Sepi Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

RAGAM

Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir

badge-check


 Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir Perbesar

Wartatrans.com, PIDIE JAYA — Ketika kami tiba, matahari memancar begitu terik. Debu yang beterbangan menempel pada bodi mobil yang masih berlumpur, membawa aroma tanah yang menyengat. Sesekali, tercium pula bau anyir kematian bercampur wangi kayu kering seperti dari rawa-rawa. Udara terasa sepat, kering, dan menekan.

Desa ini seperti baru tersadar dari mimpi buruk—sunyi, namun menyimpan riuh duka yang belum benar-benar surut. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena tanah yang gembur dan lengket, tapi juga oleh cerita-cerita yang tertinggal di setiap sudutnya.

Sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu yang melewati Meunasah Mandang, Dayah Useh, dan Gampong Pante Beureune, Kabupaten Pidie Jaya, lanskap berubah menjadi hamparan puing. Tumpukan kayu bersilang, besar dan kecil, bercampur lumpur, ranting, serta sisa-sisa kehidupan yang diseret arus dari hulu. Kayu-kayu itu seperti tulang belulang hutan yang dilucuti paksa—penanda betapa kuat, brutal, dan tak terduganya banjir bandang ini. Jembatan yang masih berdiri di kejauhan, bersama alat berat yang bekerja perlahan, seolah mengingatkan bahwa bencana sebesar ini mustahil dipulihkan dengan tergesa-gesa. Dan di balik semua itu, manusia pula yang menjadi penyebab paling biadabnya.

Di antara serpihan itu, seorang lelaki berdiri dengan kamera di tangan. Langkahnya hati-hati, seakan setiap pijakan adalah bentuk penghormatan bagi yang tak selamat dan rasa bersalah bagi warga yang rumahnya digerus kayu-kayu dari hutan jauh. Ia merekam apa yang tak cukup dituturkan oleh kata-kata—sebuah tekad agar kehancuran ini tidak menguap begitu saja.

Tak jauh darinya, sebatang kayu besar tergeletak dengan angka hitam tertera di permukaannya. Entah itu bekas penandaan pembalakan, atau hanya jejak robohnya pohon raksasa. Namun rasanya mustahil ini murni peristiwa alam. Ada campur tangan manusia, yang tak pernah merasa cukup. Di sisinya, seorang lelaki terdiam. Pandangannya kosong, tercekat—seolah dingin yang tiba-tiba menyergap.

Pada kesempatan lain, pemandangan paling menohok muncul ketika dua anak kecil melintasi jalan berlumpur, diapit tumpukan kayu di kiri-kanan. Langkah mereka kecil, namun tegar. Bagi mereka, reruntuhan ini bukan sekadar latar tragedi, tapi kenyataan yang harus mereka lalui lebih cepat dari usia yang seharusnya. Lumpur yang menempel di kaki mereka seakan menjadi simbol masa depan yang tetap harus ditapaki, meski penuh ketidakpastian. Tapi mereka tersenyum, menyapa—tanpa kesedihan di wajah. Justru kami yang melihat mereka dibuat terenyuh; ada luka yang sulit dijelaskan, dalam, dan menyakitkan.

Di sudut lain, tiga lelaki berhenti setelah membersihkan rumah mereka. Tubuh mereka lelah, pakaian masih kotor oleh lumpur yang seolah enggan benar-benar hilang. Berhari-hari mereka mengeruk lumpur, tetapi belum juga selesai. Tingginya endapan lumpur dan minimnya alat membuat proses pembersihan terasa tak kunjung tamat. Di belakang mereka, sebuah mobil putih terkubur sebagian—diam dan tak berdaya—menjadi penanda betapa dahsyatnya lumpur dan kayu yang pernah menguasai ruang hidup mereka. Istirahat singkat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda untuk menata napas sebelum kembali berjuang.

Masih di jalur yang sama, seorang lelaki berdiri sendiri di atas tumpukan kayu yang seharusnya dialiri air. Sosoknya tampak kecil di tengah ribuan kubik kayu, menegaskan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam. Namun keberaniannya berdiri dan menatap kehancuran itu menunjukkan pengakuan—bahwa kehilangan harus dihadapi, bukan dihindari.

Dan di tengah semua itu, sebuah kontras muncul begitu kuat: bendera Merah Putih tetap berkibar. Di sekelilingnya, bekas banjir dan reruntuhan masih jelas terlihat. Kibaran itu tidak hanya simbol negara, melainkan tanda keteguhan, martabat, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa identitas dan kebersamaan tidak ikut terseret banjir.

Banjir bandang di Pidie Jaya ini bukan hanya merusak ruang fisik, tetapi memaksa warganya berhadapan dengan kenyataan tentang kehilangan dan permulaan kembali. Namun di balik kayu-kayu berserakan, jeda kelelahan, dan tanah yang belum pulih, satu hal tetap bertahan: daya hidup.

Meunasah Mancang dan Dayah Usen di Kecamatan Meurah Dua masih berdiri. Luka belum benar-benar sembuh. Namun harapan—seperti bendera yang terus berkibar—tetap dijaga agar tidak runtuh.***

Keterangan Foto: Seorang lelaki melintasi lautan kubik kayu di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Desember 2025.

Tulisan dan foto: Pilo Poly

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok

27 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324

26 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

26 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

26 Agustus 2026 - 15:03 WIB

KKP Intensifkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Donasi Terkumpul Rp920 Juta

26 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Lomba Tahfiz Warnai Peringatan HUT RI dan Maulid Nabi di Sukadanau

26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

26 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia

25 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi

25 Agustus 2026 - 18:58 WIB

Trending di RAGAM