Menu ✖

Mode Gelap
Gangguan LRT Jabodebek Pagi Hari, Penumpang Jatimulya-Dukuh Atas Dialihkan di Halim Belajar dari Bogor dan Semarang, Djoko Setijowarno Ingatkan Lima Tantangan Trem Bali Korban Tewas Karhutla Gunung Bromo Bertambah Jadi Empat Orang, Dua Relawan Luka Bakar Serius KRL Buatan INKA Bermasalah Lagi, Dua Rangkaian Gangguan hingga 5 Perjalanan Dibatalkan KAI Siapkan Integrasi LRT Jakarta dan Stasiun Manggarai, 8,17 Juta Aktivitas KRL Tercatat Hingga 2026, KAI Rawat 17.025 Bantalan Rel KA Beton dan 3.556 Bantalan Sintetis

RAGAM

Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir

badge-check


 Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir Perbesar

Wartatrans.com, PIDIE JAYA — Ketika kami tiba, matahari memancar begitu terik. Debu yang beterbangan menempel pada bodi mobil yang masih berlumpur, membawa aroma tanah yang menyengat. Sesekali, tercium pula bau anyir kematian bercampur wangi kayu kering seperti dari rawa-rawa. Udara terasa sepat, kering, dan menekan.

Desa ini seperti baru tersadar dari mimpi buruk—sunyi, namun menyimpan riuh duka yang belum benar-benar surut. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena tanah yang gembur dan lengket, tapi juga oleh cerita-cerita yang tertinggal di setiap sudutnya.

Sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu yang melewati Meunasah Mandang, Dayah Useh, dan Gampong Pante Beureune, Kabupaten Pidie Jaya, lanskap berubah menjadi hamparan puing. Tumpukan kayu bersilang, besar dan kecil, bercampur lumpur, ranting, serta sisa-sisa kehidupan yang diseret arus dari hulu. Kayu-kayu itu seperti tulang belulang hutan yang dilucuti paksa—penanda betapa kuat, brutal, dan tak terduganya banjir bandang ini. Jembatan yang masih berdiri di kejauhan, bersama alat berat yang bekerja perlahan, seolah mengingatkan bahwa bencana sebesar ini mustahil dipulihkan dengan tergesa-gesa. Dan di balik semua itu, manusia pula yang menjadi penyebab paling biadabnya.

Di antara serpihan itu, seorang lelaki berdiri dengan kamera di tangan. Langkahnya hati-hati, seakan setiap pijakan adalah bentuk penghormatan bagi yang tak selamat dan rasa bersalah bagi warga yang rumahnya digerus kayu-kayu dari hutan jauh. Ia merekam apa yang tak cukup dituturkan oleh kata-kata—sebuah tekad agar kehancuran ini tidak menguap begitu saja.

Tak jauh darinya, sebatang kayu besar tergeletak dengan angka hitam tertera di permukaannya. Entah itu bekas penandaan pembalakan, atau hanya jejak robohnya pohon raksasa. Namun rasanya mustahil ini murni peristiwa alam. Ada campur tangan manusia, yang tak pernah merasa cukup. Di sisinya, seorang lelaki terdiam. Pandangannya kosong, tercekat—seolah dingin yang tiba-tiba menyergap.

Pada kesempatan lain, pemandangan paling menohok muncul ketika dua anak kecil melintasi jalan berlumpur, diapit tumpukan kayu di kiri-kanan. Langkah mereka kecil, namun tegar. Bagi mereka, reruntuhan ini bukan sekadar latar tragedi, tapi kenyataan yang harus mereka lalui lebih cepat dari usia yang seharusnya. Lumpur yang menempel di kaki mereka seakan menjadi simbol masa depan yang tetap harus ditapaki, meski penuh ketidakpastian. Tapi mereka tersenyum, menyapa—tanpa kesedihan di wajah. Justru kami yang melihat mereka dibuat terenyuh; ada luka yang sulit dijelaskan, dalam, dan menyakitkan.

Di sudut lain, tiga lelaki berhenti setelah membersihkan rumah mereka. Tubuh mereka lelah, pakaian masih kotor oleh lumpur yang seolah enggan benar-benar hilang. Berhari-hari mereka mengeruk lumpur, tetapi belum juga selesai. Tingginya endapan lumpur dan minimnya alat membuat proses pembersihan terasa tak kunjung tamat. Di belakang mereka, sebuah mobil putih terkubur sebagian—diam dan tak berdaya—menjadi penanda betapa dahsyatnya lumpur dan kayu yang pernah menguasai ruang hidup mereka. Istirahat singkat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda untuk menata napas sebelum kembali berjuang.

Masih di jalur yang sama, seorang lelaki berdiri sendiri di atas tumpukan kayu yang seharusnya dialiri air. Sosoknya tampak kecil di tengah ribuan kubik kayu, menegaskan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam. Namun keberaniannya berdiri dan menatap kehancuran itu menunjukkan pengakuan—bahwa kehilangan harus dihadapi, bukan dihindari.

Dan di tengah semua itu, sebuah kontras muncul begitu kuat: bendera Merah Putih tetap berkibar. Di sekelilingnya, bekas banjir dan reruntuhan masih jelas terlihat. Kibaran itu tidak hanya simbol negara, melainkan tanda keteguhan, martabat, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa identitas dan kebersamaan tidak ikut terseret banjir.

Banjir bandang di Pidie Jaya ini bukan hanya merusak ruang fisik, tetapi memaksa warganya berhadapan dengan kenyataan tentang kehilangan dan permulaan kembali. Namun di balik kayu-kayu berserakan, jeda kelelahan, dan tanah yang belum pulih, satu hal tetap bertahan: daya hidup.

Meunasah Mancang dan Dayah Usen di Kecamatan Meurah Dua masih berdiri. Luka belum benar-benar sembuh. Namun harapan—seperti bendera yang terus berkibar—tetap dijaga agar tidak runtuh.***

Keterangan Foto: Seorang lelaki melintasi lautan kubik kayu di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Desember 2025.

Tulisan dan foto: Pilo Poly

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Korban Tewas Karhutla Gunung Bromo Bertambah Jadi Empat Orang, Dua Relawan Luka Bakar Serius

16 Oktober 2026 - 21:21 WIB

KPK Mengonfirmasi Clue Pejabat Jateng yang Kena OTT di Klaten adalah Ahmad Luthfi.

16 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Menebar Kebaikan di Tanjung Barat Jaksel, PJBW & GPIB Berbagi Ratusan Paket Nasi Siap Saji ke Para Penerima Manfaat

16 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Masyarakat ALA Desak Presiden Prabowo Sahkan Provinsi Baru, Bendera Alam Pedang Jadi Simbol Marwah Gayo

16 Oktober 2026 - 17:47 WIB

Catatan Iwan Piliang: Indonesia Bisa Membuat Pesawat, tetapi Mengapa Sulit Menerbangkan Mimpi?

16 Oktober 2026 - 17:34 WIB

Asap Karhutla Kalimantan Terdeteksi di Jakarta

16 Oktober 2026 - 15:48 WIB

Korban Dugaan Keracunan MBG Batang Mencapai 717 Orang, SPPG Bawang Ditutup Permanen

16 Oktober 2026 - 14:49 WIB

ORARI Lokal Bener Meriah, Turun Kejalan Gelar Bakti Sosial Pembagian Masker, untuk Antisipasi Kabut Asap

16 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Mantan Kapolda NTB Hadi Gunawan Maju Pimpin Demokrat, Kantongi 11 Surat Dukungan

16 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Arsip Sejarah Seulawah Agam: Pernah Disebut Goldberg, Benarkah Gunung Emas?

16 Oktober 2026 - 09:47 WIB

Trending di RAGAM