Menu

Mode Gelap
Stasiun Pegaden Baru Kembali Ramai, Pelanggan Tembus 16 Ribu pada Triwulan I 2026 Patroli Dialogis Polsubsektor Inggom, Wujudkan Keamanan dan Ketertiban di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok KA Rajabasa Layani 221 Ribu Pelanggan pada Triwulan I 2026, Mobilitas Warga Sumatra Selatan Meningkat Pengukuhan GLS SIGMA SMPIT Sinergi IBS dan Pembekalan TALENTA 2026 Bersama GLN GAREULIS Nasional Di Tengah Kenaikan Harga BBM, PRESSOLIND Diesel Tawarkan Solusi Efisiensi bagi Pengguna Kendaraan Ati Ganda Siap Berbagi Pengalaman di Diskusi Kartini Seni Musik dan Film 2026

RAGAM

Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir

badge-check


 Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir Perbesar

Wartatrans.com, PIDIE JAYA — Ketika kami tiba, matahari memancar begitu terik. Debu yang beterbangan menempel pada bodi mobil yang masih berlumpur, membawa aroma tanah yang menyengat. Sesekali, tercium pula bau anyir kematian bercampur wangi kayu kering seperti dari rawa-rawa. Udara terasa sepat, kering, dan menekan.

Desa ini seperti baru tersadar dari mimpi buruk—sunyi, namun menyimpan riuh duka yang belum benar-benar surut. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena tanah yang gembur dan lengket, tapi juga oleh cerita-cerita yang tertinggal di setiap sudutnya.

Sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu yang melewati Meunasah Mandang, Dayah Useh, dan Gampong Pante Beureune, Kabupaten Pidie Jaya, lanskap berubah menjadi hamparan puing. Tumpukan kayu bersilang, besar dan kecil, bercampur lumpur, ranting, serta sisa-sisa kehidupan yang diseret arus dari hulu. Kayu-kayu itu seperti tulang belulang hutan yang dilucuti paksa—penanda betapa kuat, brutal, dan tak terduganya banjir bandang ini. Jembatan yang masih berdiri di kejauhan, bersama alat berat yang bekerja perlahan, seolah mengingatkan bahwa bencana sebesar ini mustahil dipulihkan dengan tergesa-gesa. Dan di balik semua itu, manusia pula yang menjadi penyebab paling biadabnya.

Di antara serpihan itu, seorang lelaki berdiri dengan kamera di tangan. Langkahnya hati-hati, seakan setiap pijakan adalah bentuk penghormatan bagi yang tak selamat dan rasa bersalah bagi warga yang rumahnya digerus kayu-kayu dari hutan jauh. Ia merekam apa yang tak cukup dituturkan oleh kata-kata—sebuah tekad agar kehancuran ini tidak menguap begitu saja.

Tak jauh darinya, sebatang kayu besar tergeletak dengan angka hitam tertera di permukaannya. Entah itu bekas penandaan pembalakan, atau hanya jejak robohnya pohon raksasa. Namun rasanya mustahil ini murni peristiwa alam. Ada campur tangan manusia, yang tak pernah merasa cukup. Di sisinya, seorang lelaki terdiam. Pandangannya kosong, tercekat—seolah dingin yang tiba-tiba menyergap.

Pada kesempatan lain, pemandangan paling menohok muncul ketika dua anak kecil melintasi jalan berlumpur, diapit tumpukan kayu di kiri-kanan. Langkah mereka kecil, namun tegar. Bagi mereka, reruntuhan ini bukan sekadar latar tragedi, tapi kenyataan yang harus mereka lalui lebih cepat dari usia yang seharusnya. Lumpur yang menempel di kaki mereka seakan menjadi simbol masa depan yang tetap harus ditapaki, meski penuh ketidakpastian. Tapi mereka tersenyum, menyapa—tanpa kesedihan di wajah. Justru kami yang melihat mereka dibuat terenyuh; ada luka yang sulit dijelaskan, dalam, dan menyakitkan.

Di sudut lain, tiga lelaki berhenti setelah membersihkan rumah mereka. Tubuh mereka lelah, pakaian masih kotor oleh lumpur yang seolah enggan benar-benar hilang. Berhari-hari mereka mengeruk lumpur, tetapi belum juga selesai. Tingginya endapan lumpur dan minimnya alat membuat proses pembersihan terasa tak kunjung tamat. Di belakang mereka, sebuah mobil putih terkubur sebagian—diam dan tak berdaya—menjadi penanda betapa dahsyatnya lumpur dan kayu yang pernah menguasai ruang hidup mereka. Istirahat singkat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda untuk menata napas sebelum kembali berjuang.

Masih di jalur yang sama, seorang lelaki berdiri sendiri di atas tumpukan kayu yang seharusnya dialiri air. Sosoknya tampak kecil di tengah ribuan kubik kayu, menegaskan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam. Namun keberaniannya berdiri dan menatap kehancuran itu menunjukkan pengakuan—bahwa kehilangan harus dihadapi, bukan dihindari.

Dan di tengah semua itu, sebuah kontras muncul begitu kuat: bendera Merah Putih tetap berkibar. Di sekelilingnya, bekas banjir dan reruntuhan masih jelas terlihat. Kibaran itu tidak hanya simbol negara, melainkan tanda keteguhan, martabat, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa identitas dan kebersamaan tidak ikut terseret banjir.

Banjir bandang di Pidie Jaya ini bukan hanya merusak ruang fisik, tetapi memaksa warganya berhadapan dengan kenyataan tentang kehilangan dan permulaan kembali. Namun di balik kayu-kayu berserakan, jeda kelelahan, dan tanah yang belum pulih, satu hal tetap bertahan: daya hidup.

Meunasah Mancang dan Dayah Usen di Kecamatan Meurah Dua masih berdiri. Luka belum benar-benar sembuh. Namun harapan—seperti bendera yang terus berkibar—tetap dijaga agar tidak runtuh.***

Keterangan Foto: Seorang lelaki melintasi lautan kubik kayu di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Desember 2025.

Tulisan dan foto: Pilo Poly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengukuhan GLS SIGMA SMPIT Sinergi IBS dan Pembekalan TALENTA 2026 Bersama GLN GAREULIS Nasional

19 April 2026 - 08:59 WIB

Di Tengah Kenaikan Harga BBM, PRESSOLIND Diesel Tawarkan Solusi Efisiensi bagi Pengguna Kendaraan

19 April 2026 - 08:39 WIB

Melalui TJSL, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Perkuat Pelestarian Terumbu Karang dan Ekosistem Laut Kepulauan Seribu

18 April 2026 - 19:09 WIB

Mahasiswa FH Unsyiah Perdalam Peran Advokat dalam Perkara Narkotika Jelang Moot Court Competition XI

18 April 2026 - 17:29 WIB

AHY Ingin Partai Demokrat Membirukan Jawa Tengah, Rinto Subekti Jadi Calon Tunggal Ketua DPD

18 April 2026 - 16:38 WIB

Distribusi Bantuan untuk Warga Lubok Pusaka Terus Berlanjut, Sumur Bor hingga Terpal Disalurkan

18 April 2026 - 15:27 WIB

GLN Gareulis Luncurkan TALENTA 2026, Dorong Literasi sebagai Gerakan Transformatif

18 April 2026 - 15:00 WIB

Tani Merdeka Aceh Tengah Terdepan Menjaga Kedaulatan Pangan

18 April 2026 - 12:11 WIB

Zakat untuk Guru Al-Quran di Gaza, Menjaga Nyala Pendidikan di Tengah Krisis

18 April 2026 - 10:31 WIB

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Trending di EKOBIS