Menu

Mode Gelap
Perang Apparel Piala Dunia 2026: Hegemoni, Inovasi, dan Cuan Raksasa di Panggung 11 Miliar Dolar Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari Rp80 Triliun Subsidi Mobil Listrik, Industri Untung Rakyat Tetap Naik Motor Normalisasi Ciliwung Telan Anggaran Rp300 M: 1 RT Pasti Hilang, Banjir Belum Tentu  390 Ton Logam Tanah Jarang Bocor, Hilirisasi Indonesia Sangat Dipertanyakan IPC TPK Rayakan 13 Tahun dengan Semangat ESG, Hadirkan Pertumbuhan yang Berdampak Positif

RAGAM

Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir

badge-check


 Sungai itu Terkubur Ribuan Kubik Kayu dan Pasir Perbesar

Wartatrans.com, PIDIE JAYA — Ketika kami tiba, matahari memancar begitu terik. Debu yang beterbangan menempel pada bodi mobil yang masih berlumpur, membawa aroma tanah yang menyengat. Sesekali, tercium pula bau anyir kematian bercampur wangi kayu kering seperti dari rawa-rawa. Udara terasa sepat, kering, dan menekan.

Desa ini seperti baru tersadar dari mimpi buruk—sunyi, namun menyimpan riuh duka yang belum benar-benar surut. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena tanah yang gembur dan lengket, tapi juga oleh cerita-cerita yang tertinggal di setiap sudutnya.

Sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu yang melewati Meunasah Mandang, Dayah Useh, dan Gampong Pante Beureune, Kabupaten Pidie Jaya, lanskap berubah menjadi hamparan puing. Tumpukan kayu bersilang, besar dan kecil, bercampur lumpur, ranting, serta sisa-sisa kehidupan yang diseret arus dari hulu. Kayu-kayu itu seperti tulang belulang hutan yang dilucuti paksa—penanda betapa kuat, brutal, dan tak terduganya banjir bandang ini. Jembatan yang masih berdiri di kejauhan, bersama alat berat yang bekerja perlahan, seolah mengingatkan bahwa bencana sebesar ini mustahil dipulihkan dengan tergesa-gesa. Dan di balik semua itu, manusia pula yang menjadi penyebab paling biadabnya.

Di antara serpihan itu, seorang lelaki berdiri dengan kamera di tangan. Langkahnya hati-hati, seakan setiap pijakan adalah bentuk penghormatan bagi yang tak selamat dan rasa bersalah bagi warga yang rumahnya digerus kayu-kayu dari hutan jauh. Ia merekam apa yang tak cukup dituturkan oleh kata-kata—sebuah tekad agar kehancuran ini tidak menguap begitu saja.

Tak jauh darinya, sebatang kayu besar tergeletak dengan angka hitam tertera di permukaannya. Entah itu bekas penandaan pembalakan, atau hanya jejak robohnya pohon raksasa. Namun rasanya mustahil ini murni peristiwa alam. Ada campur tangan manusia, yang tak pernah merasa cukup. Di sisinya, seorang lelaki terdiam. Pandangannya kosong, tercekat—seolah dingin yang tiba-tiba menyergap.

Pada kesempatan lain, pemandangan paling menohok muncul ketika dua anak kecil melintasi jalan berlumpur, diapit tumpukan kayu di kiri-kanan. Langkah mereka kecil, namun tegar. Bagi mereka, reruntuhan ini bukan sekadar latar tragedi, tapi kenyataan yang harus mereka lalui lebih cepat dari usia yang seharusnya. Lumpur yang menempel di kaki mereka seakan menjadi simbol masa depan yang tetap harus ditapaki, meski penuh ketidakpastian. Tapi mereka tersenyum, menyapa—tanpa kesedihan di wajah. Justru kami yang melihat mereka dibuat terenyuh; ada luka yang sulit dijelaskan, dalam, dan menyakitkan.

Di sudut lain, tiga lelaki berhenti setelah membersihkan rumah mereka. Tubuh mereka lelah, pakaian masih kotor oleh lumpur yang seolah enggan benar-benar hilang. Berhari-hari mereka mengeruk lumpur, tetapi belum juga selesai. Tingginya endapan lumpur dan minimnya alat membuat proses pembersihan terasa tak kunjung tamat. Di belakang mereka, sebuah mobil putih terkubur sebagian—diam dan tak berdaya—menjadi penanda betapa dahsyatnya lumpur dan kayu yang pernah menguasai ruang hidup mereka. Istirahat singkat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda untuk menata napas sebelum kembali berjuang.

Masih di jalur yang sama, seorang lelaki berdiri sendiri di atas tumpukan kayu yang seharusnya dialiri air. Sosoknya tampak kecil di tengah ribuan kubik kayu, menegaskan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam. Namun keberaniannya berdiri dan menatap kehancuran itu menunjukkan pengakuan—bahwa kehilangan harus dihadapi, bukan dihindari.

Dan di tengah semua itu, sebuah kontras muncul begitu kuat: bendera Merah Putih tetap berkibar. Di sekelilingnya, bekas banjir dan reruntuhan masih jelas terlihat. Kibaran itu tidak hanya simbol negara, melainkan tanda keteguhan, martabat, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa identitas dan kebersamaan tidak ikut terseret banjir.

Banjir bandang di Pidie Jaya ini bukan hanya merusak ruang fisik, tetapi memaksa warganya berhadapan dengan kenyataan tentang kehilangan dan permulaan kembali. Namun di balik kayu-kayu berserakan, jeda kelelahan, dan tanah yang belum pulih, satu hal tetap bertahan: daya hidup.

Meunasah Mancang dan Dayah Usen di Kecamatan Meurah Dua masih berdiri. Luka belum benar-benar sembuh. Namun harapan—seperti bendera yang terus berkibar—tetap dijaga agar tidak runtuh.***

Keterangan Foto: Seorang lelaki melintasi lautan kubik kayu di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Desember 2025.

Tulisan dan foto: Pilo Poly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari

12 Juli 2026 - 15:12 WIB

Normalisasi Ciliwung Telan Anggaran Rp300 M: 1 RT Pasti Hilang, Banjir Belum Tentu 

12 Juli 2026 - 15:05 WIB

390 Ton Logam Tanah Jarang Bocor, Hilirisasi Indonesia Sangat Dipertanyakan

12 Juli 2026 - 15:01 WIB

IPC TPK Rayakan 13 Tahun dengan Semangat ESG, Hadirkan Pertumbuhan yang Berdampak Positif

12 Juli 2026 - 07:11 WIB

Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

11 Juli 2026 - 07:53 WIB

Jum’at Berkah Aceh Bangun Ukhuwah Lewat Segelas Kopi dan Sepotong Kue di Masjid tansaran 

10 Juli 2026 - 20:37 WIB

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan

10 Juli 2026 - 18:07 WIB

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

10 Juli 2026 - 17:05 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Trending di EKOBIS