Wartatrans.com, SEMARANG — Nama Agustina Wilujeng beberapa hari ini viral di Jawa Tengah khususnya Semarang, tempatnya menjadi Walikota. Ini setelah Agustina disebut ikut ‘bermain’ dalam kasus dugaan korupsi yang dilakukan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Dalam sidang perdana (5/1/2026), Jaksa Penuntut Umum mengungkap Agustina pernah menemui Nadiem sebelum dan sesudah proses pembahasan anggaran DIPA yaitu sekitar Agustus 2020 – April 2021. Pertemuan dilakukan di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Mantan anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDIP ini bertemu terdakwa Nadiem Anwar Makarim dan Hamid Muhammad untuk membahas pengadaan TIK tahun 2021.” kata Jaksa.
Lebih lanjut Jaksa menerangkan bahwa dalam pertemuan tersebut Agustina menanyakan ‘apakah teman-teman saya bisa bekerja?’. Lalu terdakwa Nadiem Makarim menjawab ‘Untuk hal teknis agar dibicarakan kepada Hamid Muhammad’.
Masih menurut Jaksa, selanjutnya Hamid Muhammad merekomendasikan agar Agustina bertemu dengan Dirjen bernama Jumeri. Agustina kemudian mengirim pesan WhatsApp ke Jumeri dan menyampaikan sudah bertemu dengan Nadiem sehubungan proyek pengadaan Chromebook. Dalam kasus dugaan korupsi ini, negara rugi Rp.2,1 triliun.
Maraknya berita tersebut di media cetak dan online membuat warga Semarang menanyakan dan meragukan fakta integritas Walikotanya. Seperti diketahui, saat hari pertama masuk kerja tahun 2026, Agustina memimpin Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemkot menandatangani Pakta Integritas agar tidak Korupsi, Kolusi, dan Nepotismo.
“Apa yang dilakukan Bu Walkot berbanding terbalik. Mengajak orang lain bekerja lurus tapi dirinya sendiri terindikasi KKN,” kata Herry Sudarsono warga Tembalang Semarang. Selain mengeluh, pensiunan TVRI ini memuji Agustina pandai mencari lubang pendapatan.
“Kondisi fiskal kota Semarang pada 2026 sangat fantastis. APBD nya hampir mencapai Rp.5,9 trilliun dimana Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2025 berhasil meningkat 12 persen. Selain itu sanggup memberi dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) kepada tiap RT dan RW sejumlah Rp.25 juta per tahun. Mungkin ini karena Walikotanya sukses menempatkan orang – orangnya di tempat basah,” kata Herry sarkasme.
Akun Instagram dinaskegelapan_kotasemarang juga mengkritik Agustina selaku Walikota. Postingannya sering mempertanyakan kebijakan serta tindakan tidak benar para pemegang kekuasaan Ibukota Jateng. Mulai dari soal pengangkatan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga Lurah, kerja yang tidak benar, penataan UMKM, pencitraan, sampai transparansi anggaran. Setiap update selalu mendapatkan banyak apresiasi bukan hanya dari warga Semarang tapi juga masyarakat Jawa Tengah.*** (Slamet Widodo)
























