Wartatrans.com, TAKENGON — Aktor sekaligus Ceh Didong Gayo, Kabri Wali, menyampaikan apresiasi atas diraihnya Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026 oleh penyair senior asal Gayo, LK Ara. Penghargaan tersebut dinilai menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi panjang LK Ara dalam dunia kepenyairan dan kebudayaan Indonesia.
Kabri Wali, yang dikenal sebagai pelaku seni Didong sekaligus aktor film Black Coffee dan Daun di Atas Bantal, juga menyatakan dukungannya terhadap upaya mendorong Didong Gayo agar semakin dikenal di tingkat internasional.

Dalam pertemuan yang berlangsung Senin malam (27/7/2026), Kabri Wali turut memberikan dukungan terhadap gerakan pengusulan Didong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO. Menurutnya, Didong merupakan salah satu kekayaan budaya Gayo yang memiliki nilai seni, sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat yang kuat.
Sebagai seorang Ceh Didong yang tumbuh dan berkecimpung langsung dalam tradisi kesenian Gayo, Kabri Wali dinilai memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan Didong sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai masa depan seni dan budaya Gayo, khususnya upaya membawa kesenian tradisional Gayo ke panggung nasional dan internasional. Gerakan tersebut sebelumnya juga mendapat dukungan dari sejumlah seniman yang memiliki perhatian terhadap perkembangan seni Gayo dan cita-cita menjadikan kebudayaan Gayo semakin dikenal dunia.
Diskusi malam itu turut dihadiri Yus Oloh Guwel, Angga Prasetya dari Bener Meriah, serta akademisi dan budayawan Dr. Salman Yoga S.
Pertemuan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya Gayo.
Dukungan terhadap Didong untuk terus diperkenalkan ke dunia internasional juga menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya Gayo. Dengan kekuatan tradisi, kreativitas seniman, serta dukungan berbagai pihak, Didong diharapkan tidak hanya tetap hidup di tengah masyarakat Gayo, tetapi juga mampu mendapat pengakuan lebih luas sebagai warisan budaya yang memiliki nilai universal.*** (Jasa)





























