Wartatrans.com PIDIE – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di SPBU Gintong, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Aceh, menuai keluhan dari sejumlah pengemudi mobil L300.
Mereka mengaku kesal karena harus mengantre hingga dua jam hanya untuk mendapatkan solar, sementara becak yang membawa sejumlah jerigen berkapasitas 30 liter juga terlihat berjejer menunggu giliran pengisian.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pengemudo angkutan mengenai pengaturan antrean dan penyaluran solar di SPBU tersebut. Bagi para sopir L300, solar bukan sekadar bahan bakar, melainkan modal utama untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kami cuma butuh satu tangki, sekitar 40 liter, untuk mencari nafkah dan membayar setoran. Tapi kami harus mengantre solar sampai dua jam,” keluh seorang pengemudi L300 kepada Wartatrans.
Ia mengatakan, lamanya waktu tunggu tidak hanya merugikan pengemudi, tetapi juga berdampak pada penumpang yang menggunakan jasa angkutan mereka.
“Penumpang kami kepanasan dan marah-marah kepada kami. Padahal, kami juga ingin cepat mendapatkan solar supaya bisa melanjutkan perjalanan. Ini semua terjadi karena banyak pengantre solar menggunakan jerigen,” ujarnya dengan nada kesal.
Di tengah antrean tersebut, wartawan Wartatrans sempat mewawancarai salah seorang pengantre yang membeli solar menggunakan jerigen. Pria tersebut mengaku berasal dari Batee dan telah mengantre sejak pagi hari.
“Kami, Bang, dari Batee. Kami sudah mengantre dari pagi. Kami juga diberikan kesempatan mengisi oleh SPBU ini. Setelah satu mobil lewat, kami boleh mengisi satu jerigen berkapasitas 30 liter,” ungkapnya.
Namun, keberadaan becak yang membawa jerigen berkapasitas 30 liter dan ikut mengantre menjadi sorotan para sopir L300. Mereka berharap pengaturan pengisian BBM dapat dilakukan secara lebih tertib dan adil agar kebutuhan kendaraan angkutan umum tidak ikut terhambat.
Selain persoalan panjangnya antrean, muncul pula dugaan di kalangan masyarakat bahwa solar yang dibeli menggunakan jerigen tidak seluruhnya diperuntukkan bagi kebutuhan nelayan. Solar tersebut diduga digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar becak bermotor dan alat berat yang beroperasi di kawasan pertambangan Gempang dan sekitarnya.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan penelusuran dan konfirmasi dari pihak terkait. Belum ada bukti maupun keterangan resmi yang memastikan tujuan akhir penggunaan solar tersebut.
Para pengemudi L300 berharap pihak pengelola SPBU Gintong dan instansi terkait turun tangan untuk mengevaluasi sistem antrean serta memastikan penyaluran solar sesuai ketentuan.
Mereka meminta adanya kejelasan mengenai mekanisme pembelian solar menggunakan jerigen, persyaratan yang berlaku, serta pengawasan terhadap peruntukan BBM bersubsidi.
Bagi para pengemudi kecil, waktu dua jam di antrean bukan persoalan sepele. Waktu tersebut seharusnya bisa digunakan untuk mengangkut penumpang, mencari penghasilan, dan memenuhi kebutuhan keluarga.*** (Kamaruzzaman)






















