Menu

Mode Gelap
Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul KA Lokal Kian Diminati, KAI Layani 4,6 Juta Pelanggan pada Semester I 2026 PTDI Relokasi ke Kertajati, Pemerintah Bidik Pasar Aviasi Rp2.200 Triliun Hari Keterampilan Pemuda Sedunia, KAI Perkuat Talenta Adaptif untuk Masa Depan Perkeretaapian

EKOBIS

Aplikasi MyPertamina Bikin DPP APTRINDO Catat Kerugian Rp90 Miliar/Bulan

badge-check


 Jajaran DPP APTRINDO Perbesar

Jajaran DPP APTRINDO

Wartatrans.com, JAKARTA – Aplikasi MyPertamina bikin Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (DPP APTRINDO) catatkan kerugian hingga Rp90 miliar. Kenapa?

Ya, para pengusaha angkutan barang itu mempertanyakan sikap Pertamina terhadap kelancaran angkutan logistik, menyusul beragam kesulitan mendapatkan bahan bakar solar subsidi, sehingga distribusi barang menjadi terhambat.

Ketua DPP Aptrindo Gemilang Tarigan menyampaikan, permasalahan itu telah berulang kali disampaikan kepada pihak Pertamina, namun, belum juga memberikan solusi yang tepat.

“Mulai dari kelangkaan solar subsidi di SPBU, terutama di daerah-daerah hingga persoalan QR Code MyPertamina,” ujarnya di Jakarta, Senin (15/12/2025).

Menurutnya, saban melaporkan kesulitan yang terjadi, pihaknya selalu dipingpong, mereka punya beribu alasan.

“Pertanyaan kami, Pertamina ini suport distribusi logistik nasional enggak se?” tegasnya.

Misalnya soal berlarut-larutnya persoalan implementasi QR CodeMyPertamina dalam pembelian BBM Subsidi Bio Solar yang hingga saat ini akhirnya menghambat operasional angkutan barang dan mengganggu kelancaran distribusi logistik nasional.

“Kami telah sampaikan berbagai persoalan ke pihak Pertamina, namun tidak pernah ada solusi. Kami menilai perusahaan BUMN yang satu itu kurang berpihak pada kelancaran distribusi logistik,” kata dia.

DPP APTRINDO juga telah dua kali melaksanakan audiensi ke manajemen PT Pertamina Patra Niaga (Pusat), tetap tidak ada solusinya.

“Alasannya sangat klasik. PT Pertamina Patra Niaga mengaku tidak bisa memberikan solusi karena hanya menjalankan kuota yang bersumber dari BP Migas,” ungkapnya.

DPP APTRINDO mencatat saat ini 3.000 truk tidak bisa mengisi solar subsidi, karena QR Code MyPertamina telah diblokir.

“Dampak pemblokiran yang tidak jelas itu kami kehilangan pendapatan Rp90 miliar per bulan. Distribusi barang juga menjadi terhambat,” imbuhnya.

Kondisi ini berdampak langsung pada, terhentinya operasional kendaraan angkutan barang, kerugian ekonomi yang harus ditanggung pengusaha dan pengemudi, terganggunya rantai pasok dan distribusi logistik nasional

Lebih memprihatinkan, proses pengajuan ulang maupun pengurusan QR Code yang terblokir membutuhkan waktu 7 hingga 14 hari, bahkan dalam banyak kasus berlarut-larut tanpa kepastian
penyelesaian.

Selama periode tersebut, kendaraan praktis tidak dapat beroperasi, sementara kewajiban operasional dan biaya tetap terus berjalan.

Gemilang menegaskan, beragam problem, dan hilangnya solar subsidi Pertamina di lapangan menjadi persoalan yang sangat sistemik berskala nasional.

Keluhan serupa disampaikan pengusaha dan pengemudi truk di berbagai daerah, mulai dari kawasan industri, pelabuhan, hingga jalur distribusi antardaerah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan belum sepenuhnya mempertimbangkan
realitas operasional dunia angkutan barang, yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi logistik nasional.

Kebijakan Nasional Tanpa Dukungan Layanan yang Memadai DPP APTRINDO mengkritisi keras ketidakseimbangan antara skala kebijakan dan kesiapan sistem
layanan pengaduan.

DPP APTRINDO menegaskan bahwa kendala akses QR Code MyPertamina semakin memperparah kondisi iklim bisnis dunia angkutan barang. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gelar NAFEF 2026, AirNav Dorong Efisiensi Bahan Bakar Penerbangan

15 Juli 2026 - 17:38 WIB

Ditjen Hubdat Groundbreaking Charging Station BRT Cekungan Bandung

15 Juli 2026 - 17:10 WIB

Ada Agenda Besar, Kemenhub-Korlantas Polri Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

15 Juli 2026 - 09:47 WIB

Mulai Rp5.000 Saja, DAMRI Antar Wisatawan dari Kota Denpasar ke Desa Wisata Penglipuran

14 Juli 2026 - 20:22 WIB

Modernisasi Alat, IPC TPK Panjang Resmi Operasikan QCC 004

14 Juli 2026 - 20:13 WIB

Kemenhub Uji Coba Pengawasan ETLE, Ada 140.309 Pelanggaran Kendaraan Angkutan Barang

14 Juli 2026 - 19:58 WIB

Prihatin DPS Dipailitkan, INSA dan Iperindo Ingatkan Pentingnya Kebijakan Berpihak

14 Juli 2026 - 16:54 WIB

Top, Garuda Indonesia Maskapai Tepat Waktu 4 Bulan Berturut-turut

14 Juli 2026 - 16:02 WIB

Melalui ACWG-RASA, InJourney Airports Perkuat Konektivitas ASEAN-China

14 Juli 2026 - 15:20 WIB

Meruorah Komodo Labuan Bajo Borong 2 Penghargaan Bergensi Expedia Group

14 Juli 2026 - 13:26 WIB

Trending di EKOBIS