Wartatrans.com, ACEH BESAR — Gunung Seulawah Agam di Aceh Besar menyimpan jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Dalam sejumlah referensi kegunungapian Indonesia, gunung ini tercatat memiliki beberapa nama lain, di antaranya Selawadjanten dan Goldberg, selain Seulawah Agam.
Informasi mengenai nama-nama tersebut kembali menjadi perbincangan setelah beredar unggahan yang mengklaim ditemukannya foto dan dokumen sejarah Seulawah Agam dari arsip KITLV di Leiden, Belanda. Namun, keaslian foto, keterangan ekspedisi, dan penanggalan arsip yang disebut berasal dari 1925 masih perlu diverifikasi lebih lanjut.
Dokumen Baseline Kegunungapian Indonesia yang memuat data Gunung Seulawah Agam turut mencatat nama Goldberg dan Selawadjanten sebagai nama lain gunung tersebut. Catatan ini memperlihatkan bahwa penyebutan Seulawah Agam dalam literatur lama memang memiliki variasi.
Goldberg dan Misteri Gunung Emas
Nama Goldberg menarik perhatian karena dalam bahasa Jerman, kata Gold berarti emas dan Berg berarti gunung. Gabungan kedua kata itu secara harfiah dapat dimaknai sebagai gunung emas.
Meski demikian, penyebutan Goldberg belum dapat dijadikan bukti bahwa Seulawah Agam memiliki kandungan emas yang melimpah. Belum ditemukan bukti yang cukup dalam sumber yang ditelusuri untuk memastikan alasan historis di balik penggunaan nama tersebut.
Karena itu, pertanyaan apakah nama Goldberg berkaitan dengan potensi mineral, penamaan geografis pada masa kolonial, atau alasan lainnya masih membutuhkan penelitian sejarah dan geologi lebih lanjut.
Jejak kolonial lainnya terlihat pada nama Kawah Heutsz, yang berada di lereng utara Seulawah Agam. Nama tersebut berkaitan dengan Christiaan Snouck Hurgronje? Bukan. Nama Heutsz merujuk pada Joannes Benedictus van Heutsz, tokoh militer dan pemerintahan kolonial Belanda yang memiliki peran penting dalam Perang Aceh.

Kawah Heutsz dan Catatan Letusan 1839
Seulawah Agam merupakan gunung api tipe strato yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.726 meter di atas permukaan laut berdasarkan publikasi Badan Geologi.
Catatan kegunungapian menyebutkan bahwa aktivitas erupsi terakhir yang tercatat terjadi pada 12–13 Januari 1839 di Kawah Heutsz. Peristiwa tersebut dikategorikan sebagai letusan freatik, yakni letusan yang melibatkan uap akibat interaksi air dengan material panas di dalam sistem gunung api.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa Seulawah Agam bukan hanya memiliki arti penting dalam lanskap alam Aceh, tetapi juga menyimpan rekam jejak aktivitas vulkanik yang telah terdokumentasi sejak masa lalu.
Sementara itu, klaim mengenai ekspedisi KNIL pada 12 Maret 1925 yang disebut melibatkan dua tentara Belanda dan tiga pemandu Aceh, lengkap dengan kamera kayu berukuran besar, masih membutuhkan pencocokan dengan katalog arsip asli. Hal serupa berlaku untuk gambar kartu pos dan peta yang diklaim berasal dari dekade 1920-an.
Menelusuri Sejarah, Menjaga Identitas Aceh
Terlepas dari persoalan autentikasi foto, keberadaan nama-nama lama Seulawah Agam menjadi pintu masuk untuk menggali lebih jauh sejarah geografi Aceh pada masa kolonial.
Arsip lama dapat membantu menjelaskan bagaimana wilayah Aceh dipetakan, dinamai, dan didokumentasikan oleh pemerintah kolonial. Namun, setiap temuan perlu diperiksa berdasarkan sumber primer, tanggal pembuatan, keterangan katalog, dan konteks sejarahnya.
Bagi masyarakat Aceh, Seulawah Agam bukan sekadar gunung api. Gunung ini merupakan bagian dari bentang alam dan identitas daerah yang menyimpan kisah panjang tentang manusia, alam, serta perjalanan sejarah.
Kini, pertanyaan mengenai asal-usul nama Goldberg menjadi peluang bagi peneliti sejarah, ahli geologi, dan pemerhati budaya untuk melakukan penelusuran lebih mendalam.
Apakah Goldberg sekadar nama yang digunakan dalam pemetaan kolonial, atau memiliki kaitan dengan karakteristik geologi Seulawah Agam? Jawabannya membutuhkan penelitian yang dapat mempertemukan bukti sejarah dengan data ilmiah.*** (Jasa/PG)






















