Wartatrans.com, JAKARTA — Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Di dalamnya ada kehidupan yang tumbuh, bernapas, dan saling bergantung. Ada satwa yang membesarkan anak-anaknya, ada sumber air yang menghidupi manusia, dan ada keseimbangan alam yang bekerja tanpa pernah meminta imbalan.
Namun, ketika api melahap hutan, semua itu bisa lenyap dalam hitungan jam. Satwa kehilangan tempat tinggal, pepohonan menjadi abu, sementara asap menyebar melintasi batas wilayah, memasuki rumah-rumah, dan mengancam kesehatan manusia.
Di balik peristiwa itu, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kemajuan harus dibayar dengan kehancuran kehidupan?
Kebakaran hutan memang dapat dipengaruhi cuaca panas dan kondisi alam. Namun, aktivitas manusia, pembukaan lahan, kelalaian, serta dugaan pembakaran yang disengaja juga harus diselidiki secara serius. Sebab, ketika api berulang kali menghanguskan kawasan hutan, kita tidak cukup hanya menyalahkan musim kemarau.
Kita harus berani memeriksa cara manusia memperlakukan alamnya sendiri.
Yang paling menyedihkan, satwa liar menjadi korban yang tak mampu menyampaikan kesaksiannya. Mereka tidak memahami kepentingan bisnis, tidak mengenal perebutan lahan, dan tidak pernah ikut mengambil keputusan yang menghancurkan habitatnya. Mereka hanya berusaha bertahan hidup di rumah yang perlahan-lahan dilalap api.
Ketika satwa keluar dari hutan dan memasuki permukiman, kita sering menganggapnya sebagai ancaman. Padahal, boleh jadi, kitalah yang terlebih dahulu merampas ruang hidup mereka.
Di sinilah kemanusiaan kita diuji. Sejauh mana kita mampu menghormati kehidupan lain yang tidak memiliki suara untuk membela dirinya?
Pemerintah tentu tidak boleh tinggal diam. Pemadaman api merupakan langkah darurat, tetapi pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, dan pemulihan ekosistem jauh lebih menentukan untuk masa depan.
Siapa pun yang terbukti sengaja membakar hutan atau melakukan pelanggaran yang menyebabkan kerusakan lingkungan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hukum tidak boleh kehilangan keberanian hanya karena berhadapan dengan kepentingan ekonomi atau kekuatan modal.
Hutan juga tidak boleh dipandang semata-mata sebagai aset yang bisa menghasilkan keuntungan. Ia adalah warisan kehidupan yang harus dijaga bersama. Nilainya tidak hanya terletak pada kayu, lahan, atau komoditas yang dihasilkan, tetapi juga pada udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan keanekaragaman hayati yang menopang keseimbangan alam.
Sebab, keuntungan ekonomi mungkin dapat dihitung dalam angka, tetapi kehilangan sebuah ekosistem tidak selalu bisa dipulihkan dengan uang.
Pada akhirnya, persoalan kebakaran hutan bukan hanya tentang api yang membesar atau pepohonan yang menghitam. Ini adalah persoalan tentang pilihan manusia: menjaga kehidupan atau mengorbankannya demi kepentingan sesaat.
Ketika hutan kehilangan rumah, satwa kehilangan kehidupan, dan manusia kehilangan kepedulian, sesungguhnya yang terbakar bukan hanya hutan, melainkan juga nurani kita.
Kita mungkin tidak mampu menghentikan seluruh bencana alam. Namun, kita tidak boleh membiarkan keserakahan, kelalaian, dan pembiaran menjadi alasan bagi kehancuran yang seharusnya dapat dicegah.
Sebab, menjaga hutan bukan semata-mata urusan pencinta lingkungan. Menjaga hutan adalah tanggung jawab siapa pun yang masih ingin mewariskan kehidupan yang layak kepada generasi berikutnya.
Hutan tidak meminta banyak dari manusia. Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk tetap hidup. Dan barangkali, dari cara kita memperlakukan hutan hari ini, sejarah kelak akan menilai seberapa jauh kita pernah menjadi manusia.***
(Penulis adalah Staff Ahli di Kementrian Pertanian RI)






















