Menu

Mode Gelap
YPAI dan SKN Gelar Deklarasi Perdamaian Pemuda Lintas Agama di Lenteng Agung Semarak Show Art Melukis di Atas Kaos Meriahkan Peunayong, Sempat Padatkan Jalan Khairil Anwar KAI Daop 1 Jakarta Sosialisasikan Keselamatan di Perlintasan Sebidang, Ingatkan Pengendara Jangan Terobos Rel Puluhan Rumah di Kampung Adat Cipta Mulya Sukabumi Ludes Terbakar, 70 KK Terdampak Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Hadapi Bencana “Bang Ali, Mungkin Kini Saatnya Aku Memenuhi Permintaanmu”

SENI BUDAYA

“Bang Ali, Mungkin Kini Saatnya Aku Memenuhi Permintaanmu”

badge-check


 “Bang Ali, Mungkin Kini Saatnya Aku Memenuhi Permintaanmu” Perbesar

Refleksi tentang Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, dan Ruang Kebudayaan yang Kian Menyempit. 

Oleh: Remmy Novaris

Wartatrans.com, JAKARTA — Suatu pagi, telepon Ericsson biru saya berdering. Saat itu telepon seluler masih menjadi barang yang tidak semua orang miliki. Dengan sedikit heran saya mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara yang terasa sangat akrab, meski kami belum pernah sekalipun bertemu.

Saya mengenal suara itu hanya dari siaran televisi dan radio. Karena ragu, saya bertanya pelan, “Maaf, ini Pak Ali, ya?”

“Ya, saya Pak Ali. Saya lagi di rumah sakit mata. Saya habis operasi mata,” jawabnya dengan suara tegas. Lalu tanpa banyak basa-basi beliau berkata, “Tolong selamatkan TIM. Tolong selamatkan TIM.”

Telepon pun terputus.

Saya terpaku. Bagaimana Bang Ali Sadikin mendapatkan nomor telepon saya? Mengapa beliau menghubungi saya? Dan yang lebih penting, apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan Taman Ismail Marzuki (TIM)?

Barangkali beliau mengetahui bahwa saya bersama kawan-kawan seniman dan budayawan cukup sering ikut menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan yang kami anggap mengancam keberadaan TIM sebagai ruang kebudayaan. Namun, saya merasa kemampuan saya saat itu hanyalah turun ke jalan dan menyampaikan kegelisahan.

Permintaan itu terus terngiang bertahun-tahun. Saya berusaha melupakannya karena merasa tidak memiliki kekuatan apa pun untuk memenuhi amanah tersebut.

Hingga suatu hari sebuah SMS masuk ke telepon genggam saya. Saya diminta datang ke rumah Bang Ali di Jalan Borobudur, Jakarta. Saya mengajak pelukis Syahnagra Ismail, namun menjelang hari yang ditentukan ia berhalangan hadir. Yang akhirnya menemani saya adalah penyair Angkatan ’87 sekaligus wartawan Surabaya Post, Yusuf Susilo Hartono. Saya bahkan sudah lupa apakah Helmi Haska ikut atau tidak; menurut pengakuannya, ia hadir pada pertemuan itu.

Kami diterima langsung oleh Bang Ali. Di rumahnya, beliau mencurahkan kegelisahan mengenai Taman Ismail Marzuki—sebuah kawasan seni yang beliau gagas dan bangun ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta pada periode 1966–1977. Dalam pandangan beliau, apa yang telah dibangun dengan semangat memajukan kebudayaan sedang diarahkan ke jalan yang membuat ruhnya perlahan memudar.

Sebagian besar percakapan berlangsung antara Bang Ali dan Yusuf Susilo Hartono. Saya lebih banyak mendengar. Yang masih saya ingat hingga kini bukanlah rincian pembicaraannya, melainkan raut kekecewaan Bang Ali terhadap masa depan TIM.


Taman Ismail Marzuki diresmikan pada 10 November 1968 atas prakarsa Gubernur Ali Sadikin di bekas kompleks Kebun Binatang Cikini. Sejak awal, TIM dirancang bukan sekadar kumpulan gedung pertunjukan, melainkan ruang hidup bagi seniman, sastrawan, pelukis, teaterawan, pemusik, hingga masyarakat yang ingin berdialog dengan kebudayaan. Dari tempat inilah lahir banyak karya penting seni Indonesia dan berkembang berbagai komunitas kreatif lintas generasi.

Namun, perjalanan waktu membawa perubahan. Revitalisasi kawasan memang menghadirkan bangunan baru dan fasilitas yang lebih modern. Di sisi lain, tidak sedikit seniman dan pegiat budaya menyampaikan kritik bahwa transformasi tersebut juga mengubah karakter sosial TIM. Ruang-ruang informal tempat seniman berkumpul, berdiskusi, berdebat, atau sekadar duduk merenung semakin berkurang. Kehadiran area komersial dan kafe dinilai menggeser fungsi TIM sebagai ruang publik kebudayaan.

Saya termasuk orang yang merasakan perubahan itu. Bertahun-tahun saya hadir di TIM. Tempat itu bukan hanya lokasi pertunjukan, tetapi juga rumah kedua bagi para seniman. Kini, perlahan saya merasa tersisih. Ruang-ruang kontemplasi semakin sempit. Tempat bertemu sahabat-sahabat lama semakin sulit ditemukan. Saya mencoba menyesuaikan diri, tetapi kegelisahan itu terus tumbuh.

Dan setiap kali kegelisahan itu datang, suara Bang Ali kembali terdengar di telinga saya:

“Tolong selamatkan TIM.”

Kini saya mulai bertanya kepada diri sendiri. Mungkin inilah saatnya memenuhi permintaan itu. Bukan dengan kemarahan, bukan pula dengan merusak fasilitas yang ada. Tetapi dengan cara yang tetap menghormati ruang publik dan menjunjung nilai kebudayaan.

Barangkali melalui tulisan. Barangkali melalui sikap. Atau bahkan melalui sebuah aksi diam yang mengandung pesan moral.

Karena ada saatnya kata-kata tidak lagi didengar. Ada saatnya teriakan dianggap angin lalu. Dan mungkin, seperti yang kini terus saya renungkan kepada Bang Ali:

“Mungkin hanya dengan diam mereka akhirnya mau mendengar.”

 

(Penulis adalah penyair dan pelaku seni)

Baca Lainnya

Semarak Show Art Melukis di Atas Kaos Meriahkan Peunayong, Sempat Padatkan Jalan Khairil Anwar

25 Juli 2026 - 22:35 WIB

Murtala sukses membawa Ratoh Duek Aceh, bersama Lyn Williams & Gondwana Choir Keliling dunia 

25 Juli 2026 - 14:18 WIB

Jelang HUT ke-36, SCTV Andalkan Dua Sinetron Baru Bertema Cinta Remaja dan Drama Balas Dendam

25 Juli 2026 - 13:59 WIB

Art Spectrum Activity Hadirkan Talkshow dan Melukis Bersama

23 Juli 2026 - 22:09 WIB

Show Art Delapan Bulan Pascabencana Aceh: Meraih Mimpi, Menumbuhkan Harapan Lewat Lukisan di Atas Kaos

23 Juli 2026 - 13:53 WIB

Seniman Dorong Penguatan Ekosistem Seni di Taman Ismail Marzuki

22 Juli 2026 - 19:17 WIB

Felicia dan Vedra Melaju ke Grand Final The Icon Indonesia, Penampilan Top 3 Banjir Standing Ovation

21 Juli 2026 - 23:21 WIB

Minim Sponsor, CGR dan Penerbit Padasan Tempuh Gerakan “Jual Buku untuk Cetak Buku”

19 Juli 2026 - 19:54 WIB

Peringati Hari Anak Nasional, Pameran ARTSPECTRUM Tampilkan Karya 21 Perupa Muda Neurodivergen dan Cerebral Palsy

19 Juli 2026 - 18:36 WIB

Akulah Malaka Itu, Irama Selat Malaka Gaungkan Harapan Baru bagi Aceh

19 Juli 2026 - 10:47 WIB

Trending di SENI BUDAYA