Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah derasnya arus globalisasi, peran generasi muda dalam menjembatani budaya lintas negara menjadi semakin krusial. Sosok itu tercermin dalam diri Beby Salsabila Mulyono, penulis skenario dan content creator yang kini dikenal sebagai representasi Ambassador Culture of Asia.
Beby memulai langkahnya di industri televisi sebagai Junior Kreatif dalam sinetron Cinta di Langit Taj Mahal yang tayang di ANTV. Pengalaman itu menjadi pintu masuk menuju berbagai proyek besar lainnya seperti Surga Yang Kedua di SCTV, hingga serial Azab, Pintu Berkah, dan Kisah Nyata. Dalam sejumlah judul tersebut, ia terlibat aktif dalam pengembangan ide cerita dan alur dramatik, bahkan beberapa episodenya meraih top rating.

“Bagi saya, menulis itu bukan sekadar pekerjaan, tapi cara untuk menyampaikan nilai dan budaya. Cerita bisa menjadi jembatan yang menghubungkan banyak latar belakang,” ujar Beby.
Pengalaman lintas budaya yang ia miliki menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kreatifnya. Saat menempuh studi bahasa di Korea Selatan, Beby tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga menyerap dinamika kehidupan dan budaya setempat. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam film Do Wa Ju Se Yo pada 2024.
“Saya ingin menunjukkan bahwa pengalaman sebagai mahasiswa di luar negeri bukan hanya soal belajar di kelas, tapi juga memahami cara hidup, budaya, dan cara berpikir yang berbeda,” katanya.
Pada 2025, Beby kembali terlibat dalam proyek sinetron Terlanjur Indah produksi MD TV. Keterlibatan ini semakin memperkuat posisinya sebagai kreator yang mampu menggabungkan perspektif lokal dan internasional dalam satu karya.
Kemampuan bahasa menjadi salah satu kekuatan utama Beby. Selain fasih berbahasa Indonesia dan Inggris, ia juga menguasai bahasa Korea, serta memiliki pengalaman belajar Bahasa Arab Fusha selama satu tahun. Ia juga pernah mengikuti program pertukaran pelajar di Perth, Australia.
“Bahasa adalah kunci untuk membuka budaya. Semakin banyak bahasa yang kita pahami, semakin luas cara kita melihat dunia,” ungkapnya.
Ke depan, Beby berencana melanjutkan studinya untuk memperdalam Bahasa Arab di Yordania atau Kairo, Mesir, serta mempelajari Bahasa Mandarin di Zhejiang University, Hangzhou, China. Langkah ini menjadi bagian dari komitmennya dalam memperluas pemahaman terhadap budaya Asia.
Di ranah digital, Beby aktif sebagai content creator di TikTok dan Instagram. Ia membagikan konten seputar kehidupan mahasiswa di Korea, budaya populer Asia, hingga pengalaman lintas negara. Konten tersebut mendapat respons luas dan membuka peluang berbagai kerja sama.
“Saya ingin konten yang saya buat bukan hanya menghibur, tapi juga memberi perspektif baru tentang Asia. Kita punya banyak kesamaan, dan itu yang ingin saya tunjukkan,” tuturnya.
Perjalanan Beby menunjukkan bahwa peran duta budaya tidak selalu hadir dalam forum resmi. Melalui karya, bahasa, dan konsistensi, ia membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi penghubung antarbangsa—membawa wajah Asia yang lebih dekat, hangat, dan saling memahami.*** (Daus)





























