Menu ✖

Mode Gelap
KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

RAGAM

Polemik Tambang Emas Dongi-Dongi, Agussalim Tantang Debat Terbuka

badge-check


 Polemik Tambang Emas Dongi-Dongi, Agussalim Tantang Debat Terbuka Perbesar

Wartatrans.com, PALU – Polemik aktivitas pertambangan emas di wilayah Dongi-dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Menanggapi hal itu, Agussalim yang dikenal dengan julukan advokat rakyat angkat bicara.

Ia mengaku prihatin dengan sejumlah pihak yang belakangan ini menyoroti persoalan Dongi-dongi seolah paling memahami kondisi di wilayah tersebut.

“Saya geleng-geleng kepala melihat dinamika Dongi-dongi beberapa hari ini. Saya sudah 18 tahun mendampingi masyarakat Dongi-dongi berjuang. Kalau bicara Dongi-dongi, saya siap debat terbuka,” kata Agussalim di Palu, Minggu malam (8/3/2026).

Menurut Agussalim, sejak 2013 wilayah Dongi-dongi bukan lagi bagian dari kawasan Taman Nasional Lore Lindu karena telah ditetapkan sebagai desa enclave.

“Dongi-dongi itu sudah desa enclave. Sekitar 1.500 hektare wilayahnya telah dilepaskan dari kawasan taman nasional. Jadi kritik yang menyebut wilayah itu masih kawasan konservasi menurut saya salah alamat dan bisa menyesatkan publik,” ujarnya.

Ia pun menantang pihak-pihak yang mengkritik aktivitas di Dongi-dongi untuk melakukan debat terbuka agar persoalan tersebut dibahas secara ilmiah dan tidak berdasarkan asumsi.

“Ketua Komnas HAM Sulteng dan anggota DPRD Sulteng Safri yang paling getol menyoroti Dongi-dongi, mari kita debat terbuka. Biar masyarakat memahami substansinya,” tegasnya.

Agussalim menilai aktivitas masyarakat di Dongi-dongi, seperti berkebun, bertani hingga penambangan emas, merupakan hal yang wajar mengingat status wilayah tersebut sudah menjadi desa enclave.

Ia juga menjelaskan bahwa kawasan Dongi-dongi telah direkomendasikan oleh Bupati Poso Verna G. Inkiriwang pada 2025 sebagai salah satu Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

Rekomendasi tersebut tertuang dalam surat bernomor 600.3.2.4/1279/PUPR/2025 yang diajukan kepada pemerintah provinsi sebagai usulan penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

“Sekitar 73,2 hektare wilayah Dongi-dongi di Kecamatan Lore Utara direkomendasikan menjadi WPR pada Juni 2025. Selain Dongi-dongi, ada 16 desa lain di Poso yang juga direkomendasikan menjadi WPR,” jelasnya.

Menurut Agussalim, pengusulan WPR tersebut merupakan aspirasi masyarakat setempat. Saat ini bahkan telah dibentuk koperasi yang mewadahi aktivitas pertambangan rakyat di kawasan tersebut.

“Syarat WPR itu memang ketika sudah ada aktivitas tambang rakyat. Pemda kemudian merekomendasikan agar ada legalitas berupa IPR. Jadi tidak tepat jika langsung menyebut tambang Dongi-dongi ilegal,” ujarnya.

Ia juga menegaskan memiliki ikatan emosional dengan masyarakat Dongi-dongi karena telah mendampingi perjuangan mereka selama 18 tahun.

“Saya bolak-balik mendampingi masyarakat Dongi-dongi selama 18 tahun. Itu bukan waktu yang singkat,” katanya.

Terkait isu keberadaan situs megalit di wilayah tersebut yang dikaitkan dengan aktivitas tambang, Agussalim meminta semua pihak tidak membuat asumsi tanpa data yang jelas.

“Kalau memang ada situs purbakala yang dilindungi negara di Dongi-dongi, mana surat penetapannya dari pemerintah? Jangan memakai asumsi. Kita harus rasional dan berbasis data,” tegasnya.

Ia pun mengajak semua pihak melihat persoalan Dongi-dongi secara jernih dan mendorong pemerintah untuk melakukan pendampingan terhadap masyarakat, bukan justru menutup aktivitas mereka.

“Jangan-jangan para pengkritik Dongi-dongi ini memang anti terhadap tambang rakyat? Harus jelas sikapnya dari sekarang supaya publik tahu,” tandas Agussalim.*** (RBP)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Kejari Langsa Sita Rp250,9 Juta, Pulihkan Kerugian Negara dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase

30 September 2026 - 02:39 WIB

Trending di RAGAM