Menu

Mode Gelap
Liburan Sekolah, Penjualan Tiket Diskon Kapal PELNI Tembus 214 Ribu Penumpang Maskapai FlyJaya Mulai Terbangi Rute Halim-Ketapang PP ISU ISI Jadi Tonggak Gerakan Kreatif Mahasiswa Pascasarjana ISI Padangpanjang Menhub Resmikan Stasiun JIS, Perkuat Konektivitas Transportasi Publik Jakarta Pelabuhan Tanjung Kalian Groundbreaking Dermaga II dan Peningkatan Kapasitas Dermaga I Stasiun JIS Resmi Beroperasi, Naik KRL Cuma Rp1 hingga 28 Juni

RAGAM

Bos PLN Beberkan Kronologi Mati Lampu Jawa, Catatan Blackout RI Masih Menganga

badge-check


 Bos PLN Beberkan Kronologi Mati Lampu Jawa, Catatan Blackout RI Masih Menganga Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN akhirnya buka suara soal pemadaman listrik bergilir yang menghantam Pulau Jawa.

Kronologinya sederhana: dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas besar mendadak gangguan teknis. Pasokan daya langsung anjlok, cadangan operasi menipis, dan PLN terpaksa melakukan pengaturan beban supaya sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) tidak runtuh total.

“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Manajemen beban ini akan segera dihentikan seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem,” ujar Direktur Utama PLN dalam pernyataan resmi, Minggu (21/6/2026).

Tak lama, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TSJL) PLN, Gregorius Adi Trianto, ikut berkomentar.

Ia menambahkan PLN kini mengoptimalkan pembangkit lain dan mengatur operasi sistem agar keseimbangan pasokan terjaga. Pemadaman bergilir menyasar Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, Pati, Banjarnegara, Surabaya, Pasuruan, dan Sidoarjo dengan durasi 3-5 jam per wilayah.

PLN menegaskan ini murni masalah operasional pembangkit, bukan kelangkaan bahan bakar.

Ironinya, sistem Jamali selama ini dibanggakan karena kapasitas terpasang sekitar 44.857 Megawatt (MW) menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lebih dari separuh kapasitas nasional.

Tapi, fakta di lapangan menunjukkan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tumbang ,sudah cukup memaksa warga padam bergilir. Artinya keandalan pembangkit dan _reserve margin_ jauh lebih menentukan dibanding sekadar tumpukan Megawatt (MW).

Catatan _blackout_ masif Indonesia sebenarnya berulang dan punya pola yang sama. Pada 4 Agustus 2019, Jawa-Bali padam total hingga Jabodetabek sampai Jawa Tengah lumpuh.

Awalnya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN menyebut gangguan gas turbin di PLTU Suralaya dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin (PLTGU) Cilegon, lalu meralatnya ke gangguan sisi transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 500 kiloVolt (kV) Ungaran-Pemalang yang gagal menyalurkan daya dari timur ke barat.

Dampaknya merembet ke KRL Commuter Line, MRT Jakarta, jaringan Telkomsel, Indosat, XL Axiata, 3, Smartfren, lampu lalu lintas, bahkan delapan kebakaran karena warga menyalakan lilin.

Rentetan itu berlanjut. Mei 2025 hampir seluruh Bali gelap gulita beberapa jam akibat kendala transmisi Jawa-Bali dan kabel bawah laut, sementara data PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN mencatat gangguan transmisi menyumbang sekitar 40% penyebab blackout nasional.

April 2026 Jakarta-Tangerang-Bekasi dua kali dihantam padam, karena gangguan gardu induk dan manajemen beban, membuat stasiun MRT, eskalator, lift, dan sistem tapping TransJakarta CSW berhenti.

Paling baru, 22 Mei 2026 cuaca ekstrem memutus Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kiloVolt (kV) Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi, memicu _power swing_ yang menjalar ke pembangkit lain hingga Medan dan Sumatera bagian utara-tengah padam.

Pengamat ekonomi energi Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai,pola ini membantah mitos “kapasitas besar otomatis aman”.

“Kelebihan Megawatt (MW) tidak menjamin keandalan. Jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), kesiapan pembangkit, sampai manajemen operasi jauh lebih menentukan stabilitas pasokan listrik nasional,” ujarnya,pada Minggu (21/6/2026).

Singkatnya, sumber kronologi Black Out Jawa 2026 sudah jelas: dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) down, Jamali kewalahan. Tapi, deretan blackout 2019-2026 menunjukkan penyakit lama yang belum sembuh.

Kalau PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN hanya menambah pembangkit tanpa menguatkan transmisi, menjaga _reserve margin_, dan membuka data gangguan real-time, maka permintaan maaf Dirut PLN akan terus diulang setiap kali Megawatt (MW) besar kalah oleh satu-dua unit yang mati.*** (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

InJourney Group Gelar Pelatihan bagi Pelaku Pariwisata di Labuan Bajo

22 Juni 2026 - 15:05 WIB

Ruben Onsu dan Quinn Salman Sambut Positif Film Ghost Buzzer

22 Juni 2026 - 14:58 WIB

KKP Lepasliarkan 30 Hiu Penangkaran ke Kepulauan Seribu, Perkuat Konservasi Biota Laut

22 Juni 2026 - 14:49 WIB

Trauma Healing Pasca Gempa,  Aksi Nyata PSI Sulteng di Lembantongoa

22 Juni 2026 - 13:37 WIB

PSI Peduli Dampingi Warga Lembantongoa Bangkit: Dapur Umum, Paket Bantuan hingga Trauma Healing

22 Juni 2026 - 13:32 WIB

Arus Barang Tumbuh Dua Digit, Kinerja Pelindo Regional 2 Lampaui Target

22 Juni 2026 - 10:11 WIB

Alumni SMA Muhammadiyah 6 Jakarta Angkatan ’86 Siap Gelar Reuni Akbar, Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial

21 Juni 2026 - 20:39 WIB

Hazwar Hamid Resmi Pimpin Pemuda Muhammadiyah Bori’matangkasa, Mobil Sehat Turut Diluncurkan

21 Juni 2026 - 17:45 WIB

Catatan Iwan Piliang: Pejuang Konten

21 Juni 2026 - 05:40 WIB

Polisi Tingkatkan Patroli Malam, Situasi Kamtibmas Aceh Tengah Tetap Kondusif

20 Juni 2026 - 19:58 WIB

Trending di JALUR