Menu ✖

Mode Gelap
Kemenhub Dorong Penguatan Kolaborasi Ekosistem Maritim Kemenhub Dorong Layanan Penumpang Lebih Mudah dan Terintegrasi saat di Bandara Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

RAGAM

Bos PLN Beberkan Kronologi Mati Lampu Jawa, Catatan Blackout RI Masih Menganga

badge-check


 Bos PLN Beberkan Kronologi Mati Lampu Jawa, Catatan Blackout RI Masih Menganga Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN akhirnya buka suara soal pemadaman listrik bergilir yang menghantam Pulau Jawa.

Kronologinya sederhana: dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas besar mendadak gangguan teknis. Pasokan daya langsung anjlok, cadangan operasi menipis, dan PLN terpaksa melakukan pengaturan beban supaya sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) tidak runtuh total.

“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Manajemen beban ini akan segera dihentikan seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem,” ujar Direktur Utama PLN dalam pernyataan resmi, Minggu (21/6/2026).

Tak lama, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TSJL) PLN, Gregorius Adi Trianto, ikut berkomentar.

Ia menambahkan PLN kini mengoptimalkan pembangkit lain dan mengatur operasi sistem agar keseimbangan pasokan terjaga. Pemadaman bergilir menyasar Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, Pati, Banjarnegara, Surabaya, Pasuruan, dan Sidoarjo dengan durasi 3-5 jam per wilayah.

PLN menegaskan ini murni masalah operasional pembangkit, bukan kelangkaan bahan bakar.

Ironinya, sistem Jamali selama ini dibanggakan karena kapasitas terpasang sekitar 44.857 Megawatt (MW) menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lebih dari separuh kapasitas nasional.

Tapi, fakta di lapangan menunjukkan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tumbang ,sudah cukup memaksa warga padam bergilir. Artinya keandalan pembangkit dan _reserve margin_ jauh lebih menentukan dibanding sekadar tumpukan Megawatt (MW).

Catatan _blackout_ masif Indonesia sebenarnya berulang dan punya pola yang sama. Pada 4 Agustus 2019, Jawa-Bali padam total hingga Jabodetabek sampai Jawa Tengah lumpuh.

Awalnya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN menyebut gangguan gas turbin di PLTU Suralaya dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin (PLTGU) Cilegon, lalu meralatnya ke gangguan sisi transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 500 kiloVolt (kV) Ungaran-Pemalang yang gagal menyalurkan daya dari timur ke barat.

Dampaknya merembet ke KRL Commuter Line, MRT Jakarta, jaringan Telkomsel, Indosat, XL Axiata, 3, Smartfren, lampu lalu lintas, bahkan delapan kebakaran karena warga menyalakan lilin.

Rentetan itu berlanjut. Mei 2025 hampir seluruh Bali gelap gulita beberapa jam akibat kendala transmisi Jawa-Bali dan kabel bawah laut, sementara data PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN mencatat gangguan transmisi menyumbang sekitar 40% penyebab blackout nasional.

April 2026 Jakarta-Tangerang-Bekasi dua kali dihantam padam, karena gangguan gardu induk dan manajemen beban, membuat stasiun MRT, eskalator, lift, dan sistem tapping TransJakarta CSW berhenti.

Paling baru, 22 Mei 2026 cuaca ekstrem memutus Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kiloVolt (kV) Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi, memicu _power swing_ yang menjalar ke pembangkit lain hingga Medan dan Sumatera bagian utara-tengah padam.

Pengamat ekonomi energi Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai,pola ini membantah mitos “kapasitas besar otomatis aman”.

“Kelebihan Megawatt (MW) tidak menjamin keandalan. Jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), kesiapan pembangkit, sampai manajemen operasi jauh lebih menentukan stabilitas pasokan listrik nasional,” ujarnya,pada Minggu (21/6/2026).

Singkatnya, sumber kronologi Black Out Jawa 2026 sudah jelas: dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) down, Jamali kewalahan. Tapi, deretan blackout 2019-2026 menunjukkan penyakit lama yang belum sembuh.

Kalau PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN hanya menambah pembangkit tanpa menguatkan transmisi, menjaga _reserve margin_, dan membuka data gangguan real-time, maka permintaan maaf Dirut PLN akan terus diulang setiap kali Megawatt (MW) besar kalah oleh satu-dua unit yang mati.*** (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Apa yang Dibahas Jokowi Saat Sambangi Prabowo di Kertanegara Jelang MK Putus Perkara Gibran?

7 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Usai Putusan MK, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Gibran dari Ruang Kerjanya

7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot

7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Bengkel Kreatif Aceh Multi Vision, 15 Tahun Mengembangkan Karya dan Ekonomi Kreatif Aceh

7 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Trending di RAGAM