Wartatrans.com, JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN akhirnya buka suara soal pemadaman listrik bergilir yang menghantam Pulau Jawa.
Kronologinya sederhana: dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas besar mendadak gangguan teknis. Pasokan daya langsung anjlok, cadangan operasi menipis, dan PLN terpaksa melakukan pengaturan beban supaya sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) tidak runtuh total.

“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Manajemen beban ini akan segera dihentikan seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem,” ujar Direktur Utama PLN dalam pernyataan resmi, Minggu (21/6/2026).
Tak lama, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TSJL) PLN, Gregorius Adi Trianto, ikut berkomentar.
Ia menambahkan PLN kini mengoptimalkan pembangkit lain dan mengatur operasi sistem agar keseimbangan pasokan terjaga. Pemadaman bergilir menyasar Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, Pati, Banjarnegara, Surabaya, Pasuruan, dan Sidoarjo dengan durasi 3-5 jam per wilayah.
PLN menegaskan ini murni masalah operasional pembangkit, bukan kelangkaan bahan bakar.
Ironinya, sistem Jamali selama ini dibanggakan karena kapasitas terpasang sekitar 44.857 Megawatt (MW) menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lebih dari separuh kapasitas nasional.
Tapi, fakta di lapangan menunjukkan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tumbang ,sudah cukup memaksa warga padam bergilir. Artinya keandalan pembangkit dan _reserve margin_ jauh lebih menentukan dibanding sekadar tumpukan Megawatt (MW).
Catatan _blackout_ masif Indonesia sebenarnya berulang dan punya pola yang sama. Pada 4 Agustus 2019, Jawa-Bali padam total hingga Jabodetabek sampai Jawa Tengah lumpuh.
Awalnya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN menyebut gangguan gas turbin di PLTU Suralaya dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin (PLTGU) Cilegon, lalu meralatnya ke gangguan sisi transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 500 kiloVolt (kV) Ungaran-Pemalang yang gagal menyalurkan daya dari timur ke barat.
Dampaknya merembet ke KRL Commuter Line, MRT Jakarta, jaringan Telkomsel, Indosat, XL Axiata, 3, Smartfren, lampu lalu lintas, bahkan delapan kebakaran karena warga menyalakan lilin.
Rentetan itu berlanjut. Mei 2025 hampir seluruh Bali gelap gulita beberapa jam akibat kendala transmisi Jawa-Bali dan kabel bawah laut, sementara data PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN mencatat gangguan transmisi menyumbang sekitar 40% penyebab blackout nasional.
April 2026 Jakarta-Tangerang-Bekasi dua kali dihantam padam, karena gangguan gardu induk dan manajemen beban, membuat stasiun MRT, eskalator, lift, dan sistem tapping TransJakarta CSW berhenti.
Paling baru, 22 Mei 2026 cuaca ekstrem memutus Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kiloVolt (kV) Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi, memicu _power swing_ yang menjalar ke pembangkit lain hingga Medan dan Sumatera bagian utara-tengah padam.
Pengamat ekonomi energi Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai,pola ini membantah mitos “kapasitas besar otomatis aman”.
“Kelebihan Megawatt (MW) tidak menjamin keandalan. Jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), kesiapan pembangkit, sampai manajemen operasi jauh lebih menentukan stabilitas pasokan listrik nasional,” ujarnya,pada Minggu (21/6/2026).
Singkatnya, sumber kronologi Black Out Jawa 2026 sudah jelas: dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) down, Jamali kewalahan. Tapi, deretan blackout 2019-2026 menunjukkan penyakit lama yang belum sembuh.
Kalau PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN hanya menambah pembangkit tanpa menguatkan transmisi, menjaga _reserve margin_, dan membuka data gangguan real-time, maka permintaan maaf Dirut PLN akan terus diulang setiap kali Megawatt (MW) besar kalah oleh satu-dua unit yang mati.*** (Artha Tidar)


























