Menu

Mode Gelap
Percikan Mutia: Merawat Keunggulan, Menyalakan Peradaban Percikan Mutia: Menolak Rayuan Menjaga Kehormatan Percikan Mutia: Investasi Kecil  Menjaga Keutuhan Rumah Tangga Dica Melo Mulai Jajal Dunia Akting Lewat FTV Indosiar Penumpang KA Ciremai Naik 9 Persen pada Januari–Mei 2026, Layani 126.580 Pelanggan Percikan Mutia: Melukis Takdir di Atas Kanvas Kehidupan

Uncategorized

Catatan Halimah Munawir: Belajar Ketulusan dari Teteh Mulya di Tanah Suci

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Belajar Ketulusan dari Teteh Mulya di Tanah Suci Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada kalanya sebuah pertemuan yang sederhana justru meninggalkan kesan yang mendalam. Sekian puluh tahun bersahabat dengan suaminya, baru kali ini saya mendapatkan momen berfoto bersama Teteh Mulya. Sebuah foto yang mungkin tampak biasa, namun menyimpan cerita luar biasa di baliknya.

Kesempatan itu hadir setelah saya mendengarkan langsung kisah perjuangannya mendampingi anak-anak yatim di Tanah Suci. Dengan penuh kerendahan hati, beliau bercerita bagaimana dirinya berupaya agar anak-anak yatim yang dibawanya dapat memperoleh kesempatan yang sangat istimewa: mencium pintu Ka’bah dan melaksanakan salat di kawasan antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah yang dikenal sebagai Multazam, tempat yang diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa.

Yang membuat saya semakin kagum adalah cara beliau mewujudkan harapan tersebut. Tidak dengan kekuasaan, jabatan, atau fasilitas khusus, melainkan dengan ketulusan dan bahasa tubuh yang mampu menyentuh hati para penjaga serta “laskar Mekah” yang bertugas mengatur jamaah di sekitar Ka’bah. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan, beliau menyampaikan maksudnya agar anak-anak yatim itu diberi kesempatan mendekat ke tempat yang selama ini hanya mereka impikan.

Mendengar kisah itu, saya membayangkan wajah-wajah bahagia anak-anak yatim yang akhirnya bisa menyentuh pintu Ka’bah, memanjatkan doa di Multazam, dan merasakan kedekatan spiritual yang mungkin akan mereka kenang sepanjang hidup. Di balik kebahagiaan mereka, ada perjuangan seorang perempuan yang lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri.

Kisah Teteh Mulya mengajarkan bahwa ketulusan memiliki bahasa yang dipahami oleh siapa pun, bahkan ketika kata-kata tidak cukup. Kebaikan yang lahir dari hati sering kali mampu membuka jalan yang tampaknya sulit ditembus.

Masya Allah. Dari cerita itu saya belajar bahwa kemuliaan bukan hanya tentang seberapa dekat kita dengan Ka’bah, tetapi juga tentang seberapa besar usaha kita membawa orang lain mendekat kepada-Nya.Semoga catatan ini dapat menjadi pengingat bahwa ketulusan dan kasih sayang selalu menemukan jalannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Percikan Mutia: Merawat Keunggulan, Menyalakan Peradaban

8 Juni 2026 - 00:38 WIB

Percikan Mutia: Menolak Rayuan Menjaga Kehormatan

7 Juni 2026 - 23:34 WIB

Percikan Mutia: Investasi Kecil  Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

7 Juni 2026 - 22:30 WIB

Dica Melo Mulai Jajal Dunia Akting Lewat FTV Indosiar

7 Juni 2026 - 22:19 WIB

Percikan Mutia: Melukis Takdir di Atas Kanvas Kehidupan

7 Juni 2026 - 21:40 WIB

Ribuan Warga Meriahkan Fun Bike dan Senam Sehat Kodim Sragen, Sepeda Motor Jadi Hadiah Utama

7 Juni 2026 - 20:37 WIB

Babinsa Dampingi Pemeriksaan Kesehatan Calon Relawan Gizi di Nogosari

7 Juni 2026 - 20:30 WIB

Patroli Malam Koramil Puhpelem, Warga Mengaku Lebih Tenang

7 Juni 2026 - 20:21 WIB

Car Free Day (CFD) Kota Langsa Dimeriahkan Hiburan Dan Pameran UMKM 

7 Juni 2026 - 18:19 WIB

Catatan Iwan Piliang: Film Solata Raih Penghargaan di Sofia, Bulgaria

7 Juni 2026 - 13:52 WIB

Trending di RAGAM