Wartatrans.com, JAKARTA — Ada kalanya sebuah pertemuan yang sederhana justru meninggalkan kesan yang mendalam. Sekian puluh tahun bersahabat dengan suaminya, baru kali ini saya mendapatkan momen berfoto bersama Teteh Mulya. Sebuah foto yang mungkin tampak biasa, namun menyimpan cerita luar biasa di baliknya.
Kesempatan itu hadir setelah saya mendengarkan langsung kisah perjuangannya mendampingi anak-anak yatim di Tanah Suci. Dengan penuh kerendahan hati, beliau bercerita bagaimana dirinya berupaya agar anak-anak yatim yang dibawanya dapat memperoleh kesempatan yang sangat istimewa: mencium pintu Ka’bah dan melaksanakan salat di kawasan antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah yang dikenal sebagai Multazam, tempat yang diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa.

Yang membuat saya semakin kagum adalah cara beliau mewujudkan harapan tersebut. Tidak dengan kekuasaan, jabatan, atau fasilitas khusus, melainkan dengan ketulusan dan bahasa tubuh yang mampu menyentuh hati para penjaga serta “laskar Mekah” yang bertugas mengatur jamaah di sekitar Ka’bah. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan, beliau menyampaikan maksudnya agar anak-anak yatim itu diberi kesempatan mendekat ke tempat yang selama ini hanya mereka impikan.
Mendengar kisah itu, saya membayangkan wajah-wajah bahagia anak-anak yatim yang akhirnya bisa menyentuh pintu Ka’bah, memanjatkan doa di Multazam, dan merasakan kedekatan spiritual yang mungkin akan mereka kenang sepanjang hidup. Di balik kebahagiaan mereka, ada perjuangan seorang perempuan yang lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri.
Kisah Teteh Mulya mengajarkan bahwa ketulusan memiliki bahasa yang dipahami oleh siapa pun, bahkan ketika kata-kata tidak cukup. Kebaikan yang lahir dari hati sering kali mampu membuka jalan yang tampaknya sulit ditembus.
Masya Allah. Dari cerita itu saya belajar bahwa kemuliaan bukan hanya tentang seberapa dekat kita dengan Ka’bah, tetapi juga tentang seberapa besar usaha kita membawa orang lain mendekat kepada-Nya.Semoga catatan ini dapat menjadi pengingat bahwa ketulusan dan kasih sayang selalu menemukan jalannya sendiri.




























