Menu

Mode Gelap
KKP Tangkap Kapal Pencuri Ikan Filipina, 25 Rumpon Ilegal Ditertibkan di Maluku Utara KAI Commuter Tambah 13 Perjalanan KRL Lintas Bogor, Operasional Kembali Normal InJourney Tegaskan Komitmen Optimalisasi Layanan Kesiapsiagaan di Seluruh Bandara InJourney Airports Penutupan Bandara Wunopito NTT Diperpanjang hingga Besok Pukul 07.00 WITA Cuaca Aceh Tengah Perlu Diwaspadai, Masyarakat Diminta Antisipasi Hujan Lebat TPA Aisyiyah Jayan, Adakan Acara Maulid Nabi, Cahaya Kelahiran Sang Penghulu Semesta

RAGAM

Peringatan 21 Tahun Damai Aceh Diwarnai Tembakan, Rakyat Aceh Melawan

badge-check


 Peringatan 21 Tahun Damai Aceh Diwarnai Tembakan, Rakyat Aceh Melawan Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang berlangsung di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), diwarnai ketegangan antara massa dan aparat keamanan.

Suasana yang sebelumnya berlangsung khidmat setelah rangkaian zikir dan selawat berubah tegang ketika sejumlah warga mengibarkan bendera Bulan Bintang di kawasan masjid. Aparat kemudian melakukan tindakan pembubaran untuk mengendalikan situasi.

Ketegangan semakin meningkat setelah terdengar suara tembakan peringatan. Massa yang berada di lokasi sempat bertahan dan tidak langsung meninggalkan kawasan tersebut.

Peristiwa itu menjadi perhatian karena terjadi tepat pada momentum peringatan perdamaian Aceh yang menandai lebih dari dua dekade berakhirnya konflik bersenjata. Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi salah satu simbol penting Aceh pun menjadi latar terjadinya insiden tersebut.

Selain persoalan pengibaran bendera, situasi di sekitar lokasi dilaporkan semakin memanas setelah terjadi aksi perusakan kendaraan dan pembakaran sepeda motor. Peristiwa tersebut memperumit upaya aparat mengendalikan kerumunan.

Sejumlah pihak kemudian mengecam tindakan aparat yang dinilai terlalu represif. Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA), misalnya, menyatakan keprihatinannya terhadap penggunaan tindakan keamanan bersenjata dalam situasi yang berlangsung di sekitar tempat ibadah.

Menurut kelompok tersebut, pendekatan keamanan dalam menghadapi masyarakat Aceh perlu mempertimbangkan pengalaman konflik masa lalu serta karakter perdamaian yang telah dibangun sejak penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Namun, insiden tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan simbol identitas dan implementasi sejumlah kekhususan Aceh masih menjadi isu sensitif di tengah masyarakat.

Bagi sebagian masyarakat, pengibaran Bulan Bintang dipandang sebagai ekspresi identitas dan sejarah Aceh. Di sisi lain, penggunaan simbol yang berkaitan dengan sejarah Gerakan Aceh Merdeka tetap memiliki konsekuensi hukum dan politik sehingga membutuhkan penanganan yang hati-hati agar tidak berkembang menjadi konflik baru.

Peristiwa di Baiturrahman juga menimbulkan sorotan terhadap Pemerintah Aceh. Sejumlah kalangan mempertanyakan sejauh mana pemerintah daerah mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah pusat ketika muncul persoalan yang menyentuh isu identitas, keamanan, dan kekhususan Aceh.

Momentum 21 tahun perdamaian seharusnya menjadi pengingat bahwa Aceh telah melewati perjalanan panjang dari konflik menuju rekonsiliasi. Karena itu, setiap insiden yang berpotensi membuka kembali luka masa lalu perlu diselesaikan melalui komunikasi, penegakan hukum yang proporsional, serta mekanisme perdamaian yang telah dibangun selama ini.

Insiden di Masjid Raya Baiturrahman sekaligus menjadi ujian bagi semua pihak. Aparat dituntut mengedepankan pendekatan yang terukur, sementara masyarakat juga diharapkan menjaga ketertiban dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperbesar eskalasi.

Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, perdamaian Aceh tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni. Ia perlu dirawat melalui keadilan, penghormatan terhadap kekhususan Aceh, komunikasi politik yang terbuka, dan kemampuan seluruh pihak menyelesaikan perbedaan tanpa kembali menggunakan kekerasan.

Peristiwa di Baiturrahman semestinya tidak menjadi titik balik menuju ketegangan baru, melainkan momentum untuk mengevaluasi kembali bagaimana perdamaian Aceh dijaga agar tetap menjadi milik seluruh masyarakat.*** (Jasa/Agam)

Baca Lainnya

Cuaca Aceh Tengah Perlu Diwaspadai, Masyarakat Diminta Antisipasi Hujan Lebat

10 September 2026 - 09:25 WIB

Isu Penempatan 80 Ribu Warga Transmigran di ALA Dibantah, Armen Desky: Itu Hoaks dan Saya Tidak Pernah Menyatakan Hal Tersebut

10 September 2026 - 08:56 WIB

Kejaksaan Negeri Langsa Laksanakan  ‎TAHAP II Perkara Dugaan Tindak Pidana Korupsi Pembagunan  ‎Jembatan Kawasan Wisata Hutan MANGROVE ‎

10 September 2026 - 04:55 WIB

Tani Merdeka Indonesia Dukung dan Apresiasi DPR Setujui RUU Reforma Agraria Jadi Usul Inisiatif

9 September 2026 - 20:43 WIB

Pelindo Regional 4 & Kejati Maluku Perkuat Sinergi Hukum

9 September 2026 - 20:41 WIB

Direktur Operasi dan Teknik PJM Pastikan Kesiapan Operasional dan Keselamatan di Banten dan Panjang

9 September 2026 - 20:31 WIB

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pelindo Regional 2 Banten Hadirkan Pelayanan Prima dengan Melayani Sepenuh Hati di Pelabuhan Ciwandan

9 September 2026 - 20:21 WIB

Haornas 2026, H. Fikri Hudi Oktiarwan Ajak Warga Bogor Menjadikan Olahraga sebagai Gaya Hidup

9 September 2026 - 20:14 WIB

Penerbangan Kembali Dibuka, Wagub Jateng Taj Yasin Pastikan MTQ XXXI di Semarang Berjalan Lancar

9 September 2026 - 16:36 WIB

MTQ Nasional XXXI di Semarang, juga Mengadakan Eksibisi Disabilitas Tuli

9 September 2026 - 16:32 WIB

Trending di RAGAM