Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah tekanan embargo ekonomi dan berbagai sanksi internasional yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, Iran tetap berupaya membangun fondasi ekonomi yang bertumpu pada kekuatan dalam negeri. Berbagai keterbatasan yang mereka hadapi memaksa negara tersebut mengembangkan kemandirian di sejumlah sektor strategis dan memperkuat ekonomi rakyat sebagai penopang kehidupan masyarakat.
Dari pengalaman itu, ada pelajaran yang dapat dipetik oleh Indonesia. Sebuah bangsa tidak akan mudah tumbang hanya karena tekanan dari luar apabila memiliki fondasi ekonomi yang kuat, rakyat yang produktif, serta kepemimpinan yang berpihak pada kepentingan publik.

Di sisi lain, kondisi Indonesia hari ini masih menyisakan berbagai persoalan yang mengundang keprihatinan. Kasus korupsi yang terus bermunculan seolah menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Tidak sedikit uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat justru terseret ke dalam praktik penyalahgunaan kekuasaan.
Fenomena tersebut memunculkan rasa miris di tengah masyarakat. Namun demikian, keprihatinan itu tidak boleh berubah menjadi pesimisme yang berlebihan. Menyebut Indonesia bangkrut atau gagal bukanlah solusi. Negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk produktif yang besar, serta potensi ekonomi yang luar biasa untuk berkembang.
Yang harus dilawan bukanlah Indonesia, melainkan korupsinya. Yang harus diganyang adalah para koruptor yang merampas hak rakyat. Sebab korupsi bukan sekadar tindak pidana, melainkan pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan dan masa depan bangsa.
Indonesia membutuhkan pembangunan yang berpijak pada ekonomi kerakyatan, memberikan ruang yang luas bagi usaha kecil, petani, nelayan, pedagang, serta pelaku UMKM untuk tumbuh dan berkembang. Ketika rakyat diberi kesempatan dan perlindungan yang memadai, kesejahteraan akan tercipta dari bawah dan menguatkan bangsa secara keseluruhan.
Namun pertanyaan yang terus mengemuka adalah: siapakah pemimpin yang mampu membawa Indonesia ke arah tersebut?
Pemimpin yang dibutuhkan bukan sekadar sosok yang pandai berbicara atau tampil di panggung politik. Indonesia memerlukan pemimpin yang memiliki integritas, keberanian melawan korupsi, kesederhanaan dalam hidup, serta keteguhan untuk menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, keluarga, maupun golongan.
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar lahir dari kepemimpinan yang kuat dan jujur. Karena itu, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi juga oleh kualitas para pemimpinnya dan keberanian rakyatnya untuk mengawal jalannya pemerintahan.
Mari tetap optimis. Indonesia tidak sedang bangkrut. Indonesia hanya sedang menghadapi ujian besar. Dengan memberantas korupsi, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan menghadirkan kepemimpinan yang amanah, cita-cita mewujudkan rakyat yang sejahtera bukanlah mimpi yang mustahil.
Ganyang koruptornya, majukan Indonesia, sejahterakan rakyatnya. Pertanyaannya kini, siapakah yang siap menjadi pemimpin bagi perubahan itu?***
Duren Sawit – 2026.




























