Menu ✖

Mode Gelap
BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua Catatan Iwan Piliang: Ketika Komunikator Lebih Menonjol daripada Pesan ASDP Pastikan Pendampingan Penumpang Berlanjut Pascainsiden KMP Batumandi Prabowo Terima Rekomendasi DEN, Bahas Strategi Penguatan Ekonomi Nasional Dispora Aceh Tuntaskan Bantuan Olahraga di Lima SMA/SMK Agara, Masri Amin Suntik Semangat Generasi Emas Pangkalan PLP Tanjung Priok Kerahkan Kekuatan Armada untuk Tangani Kebakaran KMP Batumandi di Selat Sunda

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Catatan Kartini

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Catatan Kartini Perbesar

Wartatrans.com — Nama Raden Ajeng Kartini tidak pernah lahir dari ruang yang terang. Ia tumbuh dari “gelapnya” kehidupan perempuan—ruang yang dibatasi adat, dibungkam tradisi, dan dipersempit oleh cara pandang yang menempatkan perempuan sekadar pelengkap.

Namun dari ruang gelap itu, lahir cahaya.

Cahaya itu bernama pemikiran.

Dan pemikiran itu menjelma dalam pena.

Pena Kartini tidak sekadar menulis, ia menggugat. Ia menari di atas kertas, menggoreskan kegelisahan, harapan, sekaligus keberanian seorang perempuan yang sadar bahwa dirinya sedang terkungkung. Kata demi kata yang ia tuliskan bukan hanya luapan hati, tetapi juga bentuk perlawanan yang sunyi.

Surat-surat itu melesat jauh, menembus batas ruang dan budaya, hingga sampai ke tangan sahabatnya di Belanda, Stella Zeehandelaar. Bagi Stella, tulisan Kartini bukan sekadar cerita pribadi, melainkan jeritan kolektif perempuan yang terbelenggu.

Stella pun tidak tinggal diam. Ia membalas dengan semangat yang sama—bahkan mungkin lebih lantang. Sebagai perempuan yang hidup dalam arus pemikiran emansipasi di Eropa, Stella menyalakan api keberanian dalam diri Kartini. Ia menjadi cermin sekaligus penyulut, bahwa perempuan berhak berpikir, berhak bersuara, dan berhak menentukan hidupnya sendiri.

Dari korespondensi itulah kita belajar:

bahwa pembodohan terhadap perempuan adalah bentuk lain dari penjajahan.

Penjajahan tidak selalu datang dengan senjata. Ia bisa hadir dalam larangan belajar, dalam pembatasan ruang gerak, dalam keyakinan yang diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.

Kartini memahami satu hal yang mendasar:

kesetaraan bukanlah kebencian terhadap laki-laki. Kesetaraan adalah upaya membuka tirai kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.

Kartini tidak sedang melawan kodrat, tetapi melawan ketidakadilan yang dibungkus atas nama kodrat. Ia tidak ingin menggantikan laki-laki, tetapi ingin berdiri sejajar sebagai manusia yang utuh.

Karena pada akhirnya, di hadapan Tuhan, manusia tidak dinilai dari jenis kelamin, melainkan dari kemuliaannya sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan berbuat.

Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia adalah pengingat bahwa “gelap” itu masih bisa ada—dalam bentuk yang lebih halus, lebih modern, dan kadang tak disadari.

Maka tugas kita hari ini bukan sekadar mengenang Kartini, tetapi melanjutkan keberaniannya: berpikir, mempertanyakan, dan memperjuangkan keadilan—bagi siapa pun, tanpa kecuali.

Selamat Hari Kartini. Semoga cahaya itu tidak pernah padam.***

Duren Sawit 2026

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Catatan Iwan Piliang: Ketika Komunikator Lebih Menonjol daripada Pesan

21 Oktober 2026 - 08:09 WIB

Catatan Iwan Piliang: Ketika Solusi Karhutla Terbentur Birokrasi

20 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Satpol PP Fakfak Beri Tenggat 3×24 Jam, Bangunan Liar di Pasar Kelapa Dua Terancam Dibongkar

20 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Bupati Fakfak Pimpin Sertijab Sekda Definitif Arif H. Rumagesan, Tekankan Sinergi OPD

20 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Jelang Akhir Tahun, TPK Koja Kembali Gelar Donor Darah Target 100 Pendonor

20 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Sewa Bus DAMRI, Pilihan Tepat untuk Perjalanan Bersama yang Nyaman

19 Oktober 2026 - 22:52 WIB

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

19 Oktober 2026 - 22:42 WIB

Persoalan Aceh Singkil Tak Kunjung Tuntas, Mahasiswa Kirim Petisi ke Presiden Prabowo

19 Oktober 2026 - 21:48 WIB

Dua Kali Tak Penuhi Panggilan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

19 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Cegah Abrasi Pantura Jawa, AHY Tanam Mangrove Berteknologi HexBricks

19 Oktober 2026 - 18:28 WIB

Trending di RAGAM