Menu ✖

Mode Gelap
Greenpeace Indonesia Gelar Aksi Damai, 11 Aktivis Sempat Ditangkap Aparat BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua Catatan Iwan Piliang: Ketika Komunikator Lebih Menonjol daripada Pesan ASDP Pastikan Pendampingan Penumpang Berlanjut Pascainsiden KMP Batumandi Prabowo Terima Rekomendasi DEN, Bahas Strategi Penguatan Ekonomi Nasional Dispora Aceh Tuntaskan Bantuan Olahraga di Lima SMA/SMK Agara, Masri Amin Suntik Semangat Generasi Emas

RAGAM

Tubuh Alam yang Diam-Diam Terluka

badge-check


 Tubuh Alam yang Diam-Diam Terluka Perbesar

Wartatrans.com — Ada yang diam-diam berubah ketika sebuah hutan ditebang. Bukan sekadar warna hijau yang lenyap dari lanskap, melainkan sesuatu yang lebih halus: ritme kehidupan yang tak kasatmata. Denyut yang mengatur bagaimana akar menyerap air, bagaimana tanah bernapas, dan bagaimana burung membaca musim—semuanya ikut terganggu.

Kita jarang menyebutnya. Namun dalam dunia ilmu, fenomena itu dikenal sebagai fisiologi lingkungan. Istilah yang terdengar teknis ini sejatinya berbicara tentang “tubuh” alam: sistem hidup yang bekerja, beradaptasi, dan bertahan. Sebuah tubuh yang, seperti manusia, bisa lelah, sakit, bahkan mati.

Masalahnya, tubuh itu kini kerap kalah oleh sesuatu yang lain: keputusan.

Dalam praktiknya, kebijakan publik sering bergerak terlalu cepat. Ia memberi izin, membelah ruang, dan mengubah fungsi tanpa cukup mendengar. Ada logika yang terus diulang—pembangunan harus dipercepat, ekonomi harus tumbuh, angka harus meningkat. Dalam logika ini, hutan direduksi menjadi statistik, sungai menjadi proyek, dan tanah menjadi aset.

Padahal tubuh alam tak bekerja dengan logika angka.

Ia bekerja dengan kesabaran.

Di sebuah lereng yang dulu hijau, kini berdiri jalan baru. Aspal membelah tanah, mengubah cara air bergerak. Hujan tak lagi diserap, melainkan mengalir deras, menyeret tanah yang rapuh. Banjir pun datang—bukan sebagai kejutan, tetapi sebagai konsekuensi.

Kita sering menyebutnya bencana alam.

Padahal ia bukan sekadar alam.

Ia adalah keputusan yang tak selesai dipikirkan.

Di titik inilah peran ilmu pengetahuan menjadi krusial. Ketika riset diabaikan—atau hanya dijadikan formalitas dalam dokumen—kebijakan kehilangan arah. Sains bukan sekadar angka di laporan; ia adalah cara membaca tubuh bumi. Tanpanya, kita seperti dokter yang memberi resep tanpa diagnosis.

Dan tubuh yang salah diobati akan memburuk.

Tambang dibuka, pesisir direklamasi, hutan dikonversi. Semua atas nama kebutuhan. Namun pertanyaan mendasarnya jarang dijawab: kebutuhan siapa, dan sampai kapan?

Di balik setiap izin, ada yang tak tercatat dalam neraca ekonomi. Ada satwa yang kehilangan habitat. Ada tanah yang kehilangan kesuburan. Ada air yang kehilangan kejernihan. Fisiologi lingkungan terganggu—perlahan, lalu pasti.

Tubuh alam tidak selalu menjerit.

Kadang ia hanya diam, lalu berubah.

Yang lebih sunyi lagi adalah ketika hukum tak benar-benar hadir. Peraturan ada, tetapi tak ditegakkan. Pelanggaran terjadi, tetapi dibiarkan. Seolah-olah kerusakan bisa dinegosiasikan.

Padahal tidak.

Ada batas yang tak bisa ditawar: daya dukung bumi.

Ketika batas itu dilampaui, tubuh alam akan bereaksi—bukan dengan bahasa manusia, melainkan melalui banjir, longsor, dan kekeringan. Ia berbicara dengan cara yang tak bisa dibantah.

Mungkin persoalannya sederhana, meski dampaknya rumit: kita lupa bahwa kita adalah bagian dari tubuh itu.

Kita mengira bisa berdiri di luar alam—mengatur, mengendalikan, memanfaatkannya. Padahal kita bernapas dari udara yang sama, minum dari air yang sama, dan hidup dari tanah yang sama.

Ketika fisiologi lingkungan terganggu, yang terdampak bukan hanya pohon atau sungai.

Kita juga.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi sekadar kebijakan apa yang dibuat, tetapi kesadaran apa yang melandasinya. Apakah kita masih melihat alam sebagai sesuatu yang hidup—yang perlu didengar, dihormati, dan dijaga?

Ataukah kita terus memandangnya sebagai ruang kosong yang bisa diisi proyek?

Jawabannya mungkin tidak langsung terlihat.

Namun tubuh alam akan merasakannya.

Dan seperti tubuh yang terluka, ia tidak pernah benar-benar lupa.*** (BS)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Catatan Iwan Piliang: Ketika Komunikator Lebih Menonjol daripada Pesan

21 Oktober 2026 - 08:09 WIB

Catatan Iwan Piliang: Ketika Solusi Karhutla Terbentur Birokrasi

20 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Satpol PP Fakfak Beri Tenggat 3×24 Jam, Bangunan Liar di Pasar Kelapa Dua Terancam Dibongkar

20 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Bupati Fakfak Pimpin Sertijab Sekda Definitif Arif H. Rumagesan, Tekankan Sinergi OPD

20 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Jelang Akhir Tahun, TPK Koja Kembali Gelar Donor Darah Target 100 Pendonor

20 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Sewa Bus DAMRI, Pilihan Tepat untuk Perjalanan Bersama yang Nyaman

19 Oktober 2026 - 22:52 WIB

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

19 Oktober 2026 - 22:42 WIB

Persoalan Aceh Singkil Tak Kunjung Tuntas, Mahasiswa Kirim Petisi ke Presiden Prabowo

19 Oktober 2026 - 21:48 WIB

Dua Kali Tak Penuhi Panggilan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

19 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Cegah Abrasi Pantura Jawa, AHY Tanam Mangrove Berteknologi HexBricks

19 Oktober 2026 - 18:28 WIB

Trending di RAGAM