Menu

Mode Gelap
InJourney Airports Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT TOD MRT, Ketika Stasiun Membentuk Ekonomi Baru Ibu Kota Dari Tim Alfa hingga Ubi Bombing, Upaya Padamkan Karhutla Way Kambas Jelang Kedatangan Kapal Garibaldi, Pangkalan TNI AL Bergerak 2 Fungsi Subsidi BBM Bocor, Ekonomi Rakyat Boncos Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

Uncategorized

Penunjukan Jubir Aceh Picu Polemik, Publik Soroti Konsistensi Sikap terhadap Warisan Hasan Tiro

badge-check


 Penunjukan Jubir Aceh Picu Polemik, Publik Soroti Konsistensi Sikap terhadap Warisan Hasan Tiro Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Keputusan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menunjuk Nurlis Effendi sebagai juru bicara pemerintah menuai beragam reaksi publik. Sejumlah kalangan menilai penunjukan ini tidak sekadar keputusan administratif, melainkan menyentuh sensitivitas sejarah dan simbol perjuangan Aceh.

Polemik mencuat setelah kembali beredar pernyataan lama Nurlis yang pernah mengkritik keras sosok Hasan Tiro—figur yang selama ini dianggap sebagai simbol perjuangan rakyat Aceh. Dalam rekam jejak tersebut, ia disebut pernah melontarkan istilah kontroversial yang kini dipersoalkan ulang oleh publik, khususnya para pejuang Aceh.

Sejumlah pengamat menilai, dalam konteks Aceh yang sarat dengan memori konflik dan rekonsiliasi, aspek simbolik tidak bisa dilepaskan dari kebijakan politik.

“Di Aceh, figur seperti Hasan Tiro bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi juga representasi identitas kolektif. Maka, setiap sikap terhadapnya akan selalu dibaca secara politis,” ujar seorang analis politik lokal.

Suara kritis juga datang dari kalangan pemuda. Putra Gara, Presiden Gerakan Pemuda Aceh Bersatu (GPAB), menilai pemerintah perlu lebih peka terhadap aspek historis dalam setiap kebijakan politik. Menurut dia, penunjukan tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa nilai-nilai perjuangan dapat dinegosiasikan.

“Ini bukan sekadar soal jabatan juru bicara. Ada dimensi moral dan historis yang harus dijaga. Pemerintah seharusnya memberikan penjelasan terbuka agar tidak menimbulkan tafsir negatif di tengah masyarakat,” ujar Gara.

Di sisi lain, ada pula pandangan yang melihat keputusan ini sebagai bagian dari dinamika politik pasca-konflik. Penunjukan figur dengan latar belakang berbeda dinilai bisa dibaca sebagai upaya merangkul berbagai spektrum pandangan dalam pemerintahan.

Namun, pendekatan ini tetap menyisakan pertanyaan tentang batas kompromi terhadap simbol-simbol perjuangan.

Hingga kini, Pemerintah Aceh belum memberikan penjelasan resmi yang komprehensif terkait pertimbangan di balik penunjukan tersebut. Minimnya komunikasi publik justru memperlebar ruang spekulasi dan memperkuat persepsi adanya inkonsistensi sikap.

Sejumlah elemen masyarakat sipil mengingatkan pentingnya transparansi dalam pengambilan keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan figur publik dan narasi sejarah. Mereka menilai, tanpa klarifikasi yang memadai, polemik ini berpotensi berkembang menjadi krisis kepercayaan.

Di tengah situasi tersebut, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya soal sosok yang ditunjuk, melainkan juga arah nilai yang hendak ditegakkan oleh pemerintah daerah. Apakah kebijakan ini merupakan bagian dari strategi rekonsiliasi yang lebih luas, atau justru mencerminkan pergeseran sikap terhadap warisan perjuangan?
Sejauh ini, jawaban atas pertanyaan tersebut masih menunggu penjelasan resmi dari pihak pemerintah.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

26 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia

25 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi

25 Agustus 2026 - 18:58 WIB

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

25 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya

25 Agustus 2026 - 14:52 WIB

Maulid di Simpang Kelaping Jadi Momentum Menghidupkan Masjid dan Memperkuat Kebersamaan Warga

25 Agustus 2026 - 12:28 WIB

Santunan KEMALA Berbuah Inspirasi, Anak Yatim Mitra Istiqomah Tunjukkan Hafalan dan Karakter

25 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Masyarakat Reubee Antusias Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

25 Agustus 2026 - 09:14 WIB

Isnaeni Anggap Ngeles Alasan Kepolisian Blokir Rekening Koordinator AMPB

25 Agustus 2026 - 08:34 WIB

Trending di RAGAM