Menu

Mode Gelap
Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota 38 Persen Transaksi QRIS Nasional Terpusat di Jakarta, Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Sinyal Ketimpangan Digital 35 Negara dan Indonesia Adopsi Registrasi Biometrik, Pengamat: Tak Kebal Penipuan Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah

Uncategorized

GPAB Pertanyakan Status Bencana Aceh, Soroti Pemulihan Hingga Tiga Tahun

badge-check


 GPAB Pertanyakan Status Bencana Aceh, Soroti Pemulihan Hingga Tiga Tahun Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Presiden Gerakan Pemuda Aceh Bersatu (GPAB), Putra Gara, melontarkan kritik keras terhadap pemerintah pusat yang hingga kini belum menetapkan bencana di Aceh sebagai bencana nasional, meski pemulihan diperkirakan memakan waktu hingga tiga tahun.

Pernyataan itu merespons keterangan Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, yang mengungkapkan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana November 2025 membutuhkan waktu panjang akibat luasnya kerusakan.

Gara menilai, pernyataan tersebut justru mempertegas bahwa skala bencana di Aceh tidak bisa dipandang sebagai kejadian biasa. Ia menyebut, lambannya penetapan status hanya akan memperburuk kondisi masyarakat yang hingga kini masih berjuang di tengah keterbatasan.

“Ini bukan sekadar soal angka atau durasi pemulihan. Ini menyangkut hajat hidup puluhan ribu warga, menyangkut kemanusiaan. Jika butuh waktu sampai tiga tahun, lalu apa lagi yang ditunggu untuk menetapkan ini sebagai bencana nasional?” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa dampak bencana telah menjalar ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari krisis kemanusiaan, terganggunya ekosistem lingkungan, hingga tekanan sosial dan ekonomi yang semakin dalam di tengah masyarakat.

Menurut Gara, kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan permukiman hanyalah bagian yang terlihat. Di balik itu, terdapat kerusakan ekologis yang berpotensi memicu bencana berulang, serta hilangnya mata pencaharian masyarakat yang memperparah kerentanan sosial.

“Ketika sungai belum dinormalisasi, hutan terganggu, dan tata ruang tidak segera dibenahi, maka kita sedang membiarkan siklus bencana terus berulang. Ini bukan lagi soal teknis, ini soal keberpihakan,” ujarnya.

GPAB menilai, tanpa penetapan status bencana nasional, respons pemerintah akan cenderung parsial dan tidak terkoordinasi secara maksimal. Padahal, kata Gara, kondisi di Aceh membutuhkan intervensi luar biasa, baik dari sisi anggaran, kebijakan, maupun mobilisasi sumber daya nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa keterlambatan dalam pengambilan keputusan akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, terutama kelompok rentan yang paling terdampak.

“Jangan biarkan masyarakat Aceh menanggung beban terlalu lama. Negara harus hadir secara utuh. Ini bukan hanya soal pembangunan kembali, tetapi tentang memulihkan martabat dan kehidupan manusia,” kata Gara.

Sebelumnya, Mendagri menyebutkan bahwa kerusakan akibat bencana mencakup berbagai sektor dengan jumlah terdampak lebih dari 40.000 orang, serta perlunya pembangunan kembali infrastruktur secara permanen sebagai bagian dari proses pemulihan jangka panjang.*** (Jasa/Agam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

13 Tahun, Mengabdi Direktur Ernawati Komit Bawa PT CMN Melayani Sepenuh Hati

3 Juli 2026 - 12:41 WIB

Cost Sharing ala Carpooling: Solusi Atasi Kemacetan, Biaya Energi dan Emisi Karbon

3 Juli 2026 - 12:28 WIB

Trending di RAGAM