Wartatrans.com, JAKARTA — Upaya menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan industri keuangan digital syariah mulai menunjukkan hasil. Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) mencatat telah melaksanakan 249 program kolaborasi bersama 55 perguruan tinggi sejak 2022 melalui inisiatif AFSI Academic Partner (AAP).
Data ini muncul di tengah kekhawatiran atas minimnya talenta digital di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital memproyeksikan kebutuhan 12 juta tenaga digital pada 2030, dengan potensi kekurangan mencapai 3–6 juta orang. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat hanya 19 persen tenaga kerja nasional yang memiliki keterampilan digital pada 2025—jauh tertinggal dari negara maju yang mencapai lebih dari 50 persen.

Dalam sektor fintech syariah, tantangan ini dinilai lebih kompleks. Pertumbuhan pasar keuangan digital syariah Indonesia diperkirakan mencapai 11,3 persen pada 2029, namun ketersediaan sumber daya manusia dinilai belum memadai.
Wakil Ketua Umum AFSI, Muhamad Ismail, mengatakan perguruan tinggi tidak lagi bisa bergerak sendiri dalam merespons perubahan industri. “Kemitraan dengan pelaku industri dan regulator bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar lulusan relevan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, 17 April 2026.
Program AAP dirancang sebagai platform kolaborasi antara kampus dan industri. Bentuk kegiatannya mencakup pelatihan dosen dan mahasiswa, hibah penelitian, program magang, sertifikasi kompetensi, hingga pengembangan kurikulum bersama.
Selama lebih dari empat tahun, AFSI mencatat 1.721 dosen dan mahasiswa mengikuti workshop fintech syariah. Sebanyak 295 mahasiswa telah memperoleh sertifikasi kompetensi, sementara 133 mahasiswa menjalani magang di industri. Selain itu, 516 mahasiswa terlibat dalam Olimpiade Fintech Syariah Nasional dan 18 perguruan tinggi melakukan peninjauan ulang kurikulum.
Salah satu kegiatan terbaru adalah pelatihan Training of Trainers (ToT) dan workshop batch ke-9 yang digelar pada 13–17 April 2026. Kegiatan ini diikuti 41 dosen dan profesional serta 201 mahasiswa dan peserta umum.
Wakil Kepala Eksekutif Penelitian AFSI, Erika Takidah, menilai program ini membantu kampus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Ia mencontohkan pelatihan yang melibatkan otoritas keuangan, termasuk pembahasan kripto dan blockchain.
“Kolaborasi seperti ini sulit diwujudkan tanpa peran AFSI,” kata Erika.
AFSI menyatakan akan terus memperluas jangkauan program AAP untuk memperkuat ekosistem keuangan digital syariah nasional. Namun, tantangan pemenuhan talenta digital dalam jumlah besar dan berkualitas tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.*** (Dulloh)





























