Wartatrans.com, JAKARTA — Di usia ke-77 tahun, sosok Dewi Motik Pramono tetap memancarkan energi yang sulit ditandingi. Senyumnya hangat, langkahnya ringan, dan semangatnya seakan tak pernah menua. Tidak heran jika perayaan ulang tahunnya dilakukan di banyak tempat oleh banyak kalangan. Jejak pengabdiannya sebagai seorang sosio-entrepreneur telah menyentuh begitu banyak orang, lintas profesi dan generasi.
Bagi saya pribadi, beliau adalah sosok yang sangat menginspirasi. Bukan hanya karena kiprahnya di ruang publik, tetapi karena kerendahan hati yang tetap terjaga di tengah reputasi besar yang dimilikinya. Ada banyak tokoh besar yang tampak tinggi di panggung, namun menjaga jarak dalam keseharian. Namun, Bu Dewi Motik justru sebaliknya. Semakin dikenal, semakin terasa hangat dan membumi.


Saya teringat lawatan ke China dan Mongolia pada tahun 2019. Dalam perjalanan itu, kami sempat tidur dalam satu kamar. Malam yang mestinya menjadi waktu istirahat berubah menjadi ruang panjang penuh cerita. Beliau berkisah tentang masa muda, tentang perjuangan, tentang cinta, tentang jatuh bangun kehidupan dengan begitu cair dan jujur. Obrolan kami berlangsung hingga dini hari. Dari pukul 12 malam hingga pukul 3 pagi, waktu seolah bergerak cepat di tengah percakapan yang mengalir tanpa jarak.
Yang menarik, di sela perjalanan padat itu kami ternyata memiliki kebiasaan yang sama pada sepertiga malam: tahajud dan zikir. Di tengah aktivitas internasional, hotel-hotel megah, dan jadwal perjalanan yang melelahkan, beliau tetap menjaga kedekatan spiritualnya. Dari situ saya belajar bahwa ketenangan seorang tokoh besar bukan hanya lahir dari pengalaman, tetapi juga dari kedalaman hubungan dengan Tuhan.
Kenangan lain hadir saat berada di Kuching, Malaysia. Dalam sebuah gala dinner, beliau tampil begitu membaur. Tidak ada kesan eksklusif ataupun menjaga citra berlebihan. Bahkan beliau ikut bergoyang menikmati musik bersama peserta lain dengan penuh keceriaan. Sosoknya terasa sangat hidup, hangat, dan menyenangkan bagi siapa saja di sekitarnya.
Namun mungkin salah satu hal yang paling membekas bagi saya adalah kesederhanaannya. Di China, beliau dengan santai menikmati sate kaki lima tanpa gengsi sedikit pun. Padahal banyak orang dengan status sosial tinggi sering kali menciptakan jarak dengan kehidupan sederhana. Bu Dewi Motik justru menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan yang mengelilinginya, tetapi oleh kemampuannya tetap membumi di mana pun berada.
Di usia yang ke-77 ini, Dewi Motik Pramono bukan hanya menjadi simbol perempuan tangguh, tetapi juga teladan tentang bagaimana menjaga semangat hidup, kesederhanaan, spiritualitas, dan cinta pada sesama secara bersamaan. Sosok yang tetap bersinar tanpa harus meninggalkan kerendahan hati.
Selamat ulang tahun, Bu Dewi Motik. Semoga kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan selalu menyertai setiap langkah pengabdian.***
Duren Tiga – 2026.

























