Wartatrans.com, MAKASSAR — Pengamat Timur Tengah, Pizaro Gozali Idrus, menyoroti rapuhnya kekuatan militer Israel dalam acara Silaturrahim Akbar Pendukung Kemerdekaan Palestina di Gedung Teater Sekolah Islam Athirah, Makassar, Ahad (10/5/2026).
Dalam paparannya, Pizaro menyebut citra Israel sebagai “tentara terbaik dunia” mulai runtuh seiring berbagai fakta di lapangan yang menunjukkan lemahnya ketahanan militer mereka dalam menghadapi perang asimetris.

Menurut dia, salah satu simbol kegagalan itu terlihat dari performa Tank Merkava, kendaraan tempur andalan Israel yang selama ini dikenal memiliki teknologi canggih dan bernilai tinggi.
“Tank Merkava yang harganya sangat mahal ternyata tidak mampu menghadapi Roket Al-Yasin. Ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi bukan jaminan kemenangan di medan perang,” ujar Pizaro di hadapan peserta kegiatan.
Ia menilai, perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga strategi, mentalitas, dan daya tahan psikologis pasukan.
Pizaro mengungkapkan, dampak dari lemahnya performa Tank Merkava juga disebut memengaruhi citra industri pertahanan Israel di pasar internasional. Menurut dia, sejumlah pihak mulai mempertanyakan efektivitas alutsista tersebut setelah konflik berkepanjangan di Gaza.
Dalam kesempatan itu, Pizaro juga mengutip pemberitaan media Israel yang dinilainya mulai terbuka mengenai kondisi perang yang dihadapi Tel Aviv. Ia menyebut, untuk pertama kalinya muncul pengakuan dari media internal Israel mengenai kekalahan dalam perang.
“Bahkan media mereka sendiri mulai mengakui kenyataan di lapangan. Ada surat kabar online Israel yang menyebut bahwa untuk pertama kalinya Israel mengalami kekalahan perang,” katanya.
Pizaro yang pernah meliput konflik di Suriah menegaskan, perang asimetris sering kali memperlihatkan bahwa kelompok dengan jumlah lebih kecil tetap dapat memberikan tekanan besar terhadap kekuatan militer yang lebih modern.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi psikologis tentara Israel yang disebut mengalami tekanan berat akibat konflik berkepanjangan. Menurutnya, sejumlah laporan menunjukkan adanya gangguan mental dan trauma di kalangan personel militer Israel.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.30 WITA itu turut diisi pembacaan puisi Palestina dan penggalangan donasi kemanusiaan untuk rakyat Palestina melalui Wahdah Inspirasi Zakat.*** (Rintoh)

























