Menu ✖

Mode Gelap
Arus Petikemas Terus Menguat, Terminal Teluk Lamong Catat 2,29 Juta TEUs Sewa Bus DAMRI, Pilihan Tepat untuk Perjalanan Bersama yang Nyaman Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar Kolaborasi Bersama HRI Team Management, IPCC Turut Mendukung Distribusi Unit Kendaraan Balap ke Mandalika Festival of Speed 2026 Persoalan Aceh Singkil Tak Kunjung Tuntas, Mahasiswa Kirim Petisi ke Presiden Prabowo Dua Kali Tak Penuhi Panggilan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

Uncategorized

Kartun Tidak Harus Lucu (Mengenang Kartunis Rosyid)

badge-check


 Kartun Tidak Harus Lucu (Mengenang Kartunis Rosyid) Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada satu ironi menarik dalam dunia kartun Indonesia: seorang kartunis yang karya-karyanya penuh humor justru dikenal sebagai pribadi yang tenang, serius, dan tidak banyak bicara. Itulah kesan pertama ketika berjumpa dengan Anwar Rosyid pada tahun 1976. Sosok yang selama ini dibayangkan ceplas-ceplos, penuh gelak tawa, dan nyinyir khas pelawak, ternyata tampil sederhana, kalem, bahkan cenderung pendiam.

Padahal, selepas peristiwa 1965 hingga dekade 1970-an, nama Rosyid termasuk salah satu kartunis paling produktif di Indonesia. Kartun-kartunnya hadir hampir setiap minggu di berbagai media cetak nasional seperti majalah Intisari, harian Sinar Harapan, majalah psikologi Anda, hingga media berbahasa Jawa seperti Djaka Lodhang dan Penyebar Semangat. Pada masa ketika profesi kartunis belum banyak dilirik, Rosyid sudah menjadikan kartun bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup kreatif.

Rosyid duduk diapit kawan kartunis lainnya.

Dari Yogyakarta pula lahir sejumlah nama kartunis yang kemudian membentuk ekosistem seni humor visual yang khas. Nama-nama seperti FX Subroto, Teguh Budiarto, Ashady, M. Wachied, Stephanus Bambang Nugroho, Gunawan Raharjo, Agoes Djoemianto, hingga Non-O S Purwono menjadi bagian dari generasi yang kemudian melahirkan komunitas PAKYO — Paguyuban Kartunis Yogyakarta.

Namun di antara para kartunis itu, Rosyid memiliki jalur humor yang berbeda. Ia tidak menghadirkan ledakan tawa spontan atau punchline yang keras. Kartun-kartunnya justru bergerak pelan, seperti bisikan kecil yang baru terasa lucu beberapa saat kemudian. Pembaca sering kali harus berhenti, merenung, bahkan “mengunyah” gambar-gambarnya sebelum menemukan letak humornya. Ketika makna itu muncul, senyum pun datang diam-diam.

Humor Rosyid bekerja seperti angin sore di Malioboro: lembut, samar, tetapi meninggalkan jejak panjang di kepala pembacanya.

Kartun-kartunnya lahir dari tradisi humor Yogyakarta yang halus dan mengendap. Dalam banyak karyanya, absurditas tampil secara tenang dan wajar. Seekor monyet belajar memanjat pohon kelapa, padahal itu naluri alaminya. Alien dari luar angkasa datang jauh-jauh ke bumi hanya untuk memesan nasi goreng. Kelucuan bukan terletak pada peristiwa itu sendiri, melainkan pada ironi yang tersembunyi di baliknya.

Di tangan Rosyid, humor menjadi medium refleksi. Monyet adalah simbol manusia modern yang kehilangan naluri alaminya karena terlalu banyak teori. Alien adalah metafora tentang keterasingan manusia di tengah dunia modern yang dingin. Sementara nasi goreng tampil sebagai simbol kerakyatan yang sederhana namun universal.

Latar belakang Rosyid sebagai mahasiswa teknik perminyakan di UPN turut memberi warna pada logika visualnya. Ada cara berpikir teknis yang bertemu dengan kehalusan budaya Jawa. Kartun-kartunnya seperti teka-teki kecil yang mengajak pembaca menafsir kehidupan.

Secara semiotik, simbol-simbol dalam karya Rosyid terbuka bagi banyak tafsir. Sedangkan secara hermeneutik, humor-humornya menghadirkan semacam filsafat eksistensial: bahwa hidup sering absurd, dunia tidak selalu masuk akal, tetapi manusia tetap perlu tertawa agar mampu bertahan.

Karena itu, kartun bagi Rosyid bukan sekadar hiburan. Kartun adalah ruang refleksi sosial dan kemanusiaan. Humor tidak dipakai untuk mempermalukan, melainkan untuk memahami manusia dengan lebih jernih. Ia tidak menggugat dunia dengan kemarahan, tetapi dengan senyum kecil yang menyimpan renungan panjang.

Kehalusan itu pula yang membuat karya-karyanya terasa sangat “Yogya”: santun, intelektual, penuh sindiran lembut, tetapi dalam. Sama seperti pribadi Rosyid sendiri yang dikenal rendah hati dan jauh dari hiruk-pikuk panggung seni.

Kini, perjalanan kreatif itu telah selesai. Pada Selasa, 6 Mei 2026, Anwar Rosyid meninggal dunia di Yogyakarta setelah beberapa bulan sakit. Kepergiannya menandai berakhirnya satu generasi humor visual yang percaya bahwa kartun tidak harus gaduh untuk bisa menggugah.

Barangkali benar ungkapan yang pernah disinggung Prof. Chryshnanda Dwilaksana: “lihat kartun dahulu, tertawa belakangan.” Humor Rosyid memang bukan humor yang meledak di permukaan. Ia hadir perlahan dari alam bawah sadar pembacanya. “Telat ngguyu”, tertawa yang tertunda.

Dan mungkin di situlah esensi terbesar karya-karya Rosyid: humor tidak selalu harus lucu seketika. Kadang humor justru menjadi cara paling serius untuk memahami kehidupan.

Selamat jalan, Rosyid. Kartun-kartunmu akan tetap hidup, diam-diam mengajak orang tersenyum dan berpikir panjang.*** (Non-O)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sewa Bus DAMRI, Pilihan Tepat untuk Perjalanan Bersama yang Nyaman

19 Oktober 2026 - 22:52 WIB

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

19 Oktober 2026 - 22:42 WIB

Persoalan Aceh Singkil Tak Kunjung Tuntas, Mahasiswa Kirim Petisi ke Presiden Prabowo

19 Oktober 2026 - 21:48 WIB

Dua Kali Tak Penuhi Panggilan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

19 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Cegah Abrasi Pantura Jawa, AHY Tanam Mangrove Berteknologi HexBricks

19 Oktober 2026 - 18:28 WIB

BKKP Kemenhub Catat Berbagai Prestasi Strategis

19 Oktober 2026 - 18:26 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Tak Lagi Menunggu Warga Datang, Disdukcapil Kabupaten Bogor Jemput Bola Layani Masyarakat

19 Oktober 2026 - 17:59 WIB

Sungai Cileungsi Kembali Menghitam, H. Fikri Hudi Oktiarwan Minta DLH Kabupaten Bogor Segera Selidiki Dugaan Pencemaran

19 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Trending di SENI BUDAYA