Menu

Mode Gelap
BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga InJourney Airports Kebut Persiapan Optimalisasi Bandara Husein Sastranegara Layanan Perdana Umrah di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta Berjalan Lancar

Uncategorized

Kartun Tidak Harus Lucu (Mengenang Kartunis Rosyid)

badge-check


 Kartun Tidak Harus Lucu (Mengenang Kartunis Rosyid) Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada satu ironi menarik dalam dunia kartun Indonesia: seorang kartunis yang karya-karyanya penuh humor justru dikenal sebagai pribadi yang tenang, serius, dan tidak banyak bicara. Itulah kesan pertama ketika berjumpa dengan Anwar Rosyid pada tahun 1976. Sosok yang selama ini dibayangkan ceplas-ceplos, penuh gelak tawa, dan nyinyir khas pelawak, ternyata tampil sederhana, kalem, bahkan cenderung pendiam.

Padahal, selepas peristiwa 1965 hingga dekade 1970-an, nama Rosyid termasuk salah satu kartunis paling produktif di Indonesia. Kartun-kartunnya hadir hampir setiap minggu di berbagai media cetak nasional seperti majalah Intisari, harian Sinar Harapan, majalah psikologi Anda, hingga media berbahasa Jawa seperti Djaka Lodhang dan Penyebar Semangat. Pada masa ketika profesi kartunis belum banyak dilirik, Rosyid sudah menjadikan kartun bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup kreatif.

Rosyid duduk diapit kawan kartunis lainnya.

Dari Yogyakarta pula lahir sejumlah nama kartunis yang kemudian membentuk ekosistem seni humor visual yang khas. Nama-nama seperti FX Subroto, Teguh Budiarto, Ashady, M. Wachied, Stephanus Bambang Nugroho, Gunawan Raharjo, Agoes Djoemianto, hingga Non-O S Purwono menjadi bagian dari generasi yang kemudian melahirkan komunitas PAKYO — Paguyuban Kartunis Yogyakarta.

Namun di antara para kartunis itu, Rosyid memiliki jalur humor yang berbeda. Ia tidak menghadirkan ledakan tawa spontan atau punchline yang keras. Kartun-kartunnya justru bergerak pelan, seperti bisikan kecil yang baru terasa lucu beberapa saat kemudian. Pembaca sering kali harus berhenti, merenung, bahkan “mengunyah” gambar-gambarnya sebelum menemukan letak humornya. Ketika makna itu muncul, senyum pun datang diam-diam.

Humor Rosyid bekerja seperti angin sore di Malioboro: lembut, samar, tetapi meninggalkan jejak panjang di kepala pembacanya.

Kartun-kartunnya lahir dari tradisi humor Yogyakarta yang halus dan mengendap. Dalam banyak karyanya, absurditas tampil secara tenang dan wajar. Seekor monyet belajar memanjat pohon kelapa, padahal itu naluri alaminya. Alien dari luar angkasa datang jauh-jauh ke bumi hanya untuk memesan nasi goreng. Kelucuan bukan terletak pada peristiwa itu sendiri, melainkan pada ironi yang tersembunyi di baliknya.

Di tangan Rosyid, humor menjadi medium refleksi. Monyet adalah simbol manusia modern yang kehilangan naluri alaminya karena terlalu banyak teori. Alien adalah metafora tentang keterasingan manusia di tengah dunia modern yang dingin. Sementara nasi goreng tampil sebagai simbol kerakyatan yang sederhana namun universal.

Latar belakang Rosyid sebagai mahasiswa teknik perminyakan di UPN turut memberi warna pada logika visualnya. Ada cara berpikir teknis yang bertemu dengan kehalusan budaya Jawa. Kartun-kartunnya seperti teka-teki kecil yang mengajak pembaca menafsir kehidupan.

Secara semiotik, simbol-simbol dalam karya Rosyid terbuka bagi banyak tafsir. Sedangkan secara hermeneutik, humor-humornya menghadirkan semacam filsafat eksistensial: bahwa hidup sering absurd, dunia tidak selalu masuk akal, tetapi manusia tetap perlu tertawa agar mampu bertahan.

Karena itu, kartun bagi Rosyid bukan sekadar hiburan. Kartun adalah ruang refleksi sosial dan kemanusiaan. Humor tidak dipakai untuk mempermalukan, melainkan untuk memahami manusia dengan lebih jernih. Ia tidak menggugat dunia dengan kemarahan, tetapi dengan senyum kecil yang menyimpan renungan panjang.

Kehalusan itu pula yang membuat karya-karyanya terasa sangat “Yogya”: santun, intelektual, penuh sindiran lembut, tetapi dalam. Sama seperti pribadi Rosyid sendiri yang dikenal rendah hati dan jauh dari hiruk-pikuk panggung seni.

Kini, perjalanan kreatif itu telah selesai. Pada Selasa, 6 Mei 2026, Anwar Rosyid meninggal dunia di Yogyakarta setelah beberapa bulan sakit. Kepergiannya menandai berakhirnya satu generasi humor visual yang percaya bahwa kartun tidak harus gaduh untuk bisa menggugah.

Barangkali benar ungkapan yang pernah disinggung Prof. Chryshnanda Dwilaksana: “lihat kartun dahulu, tertawa belakangan.” Humor Rosyid memang bukan humor yang meledak di permukaan. Ia hadir perlahan dari alam bawah sadar pembacanya. “Telat ngguyu”, tertawa yang tertunda.

Dan mungkin di situlah esensi terbesar karya-karya Rosyid: humor tidak selalu harus lucu seketika. Kadang humor justru menjadi cara paling serius untuk memahami kehidupan.

Selamat jalan, Rosyid. Kartun-kartunmu akan tetap hidup, diam-diam mengajak orang tersenyum dan berpikir panjang.*** (Non-O)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan

2 Juli 2026 - 22:05 WIB

Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan

2 Juli 2026 - 21:58 WIB

Tangis Haru Iringi Peresmian Akses Enang-Enang, Gotong Royong Akhiri Keterisolasian Warga

2 Juli 2026 - 16:23 WIB

Kepala BNN RI Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Sambut Hari Bhayangkara ke-80

2 Juli 2026 - 13:08 WIB

Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025

2 Juli 2026 - 13:06 WIB

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

2 Juli 2026 - 11:20 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA