Menu

Mode Gelap
Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur KAI Services Perkuat Kemitraan Strategis melalui Mitra Gathering 2026 7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

SUMBER DAYA

KKP dan Pemprov Aceh Koordinasikan Penanganan Pendangkalan Alur Muara Pascabencana di Pelabuhan Perikanan

badge-check


 KKP dan Pemprov Aceh Koordinasikan Penanganan Pendangkalan Alur Muara Pascabencana di Pelabuhan Perikanan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Provinsi Aceh melakukan koordinasi penanganan pendangkalan alur dan muara sungai pascabencana yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh. Langkah tersebut dilakukan melalui pertemuan dengan Gubernur Aceh serta survei lapangan di sejumlah pelabuhan perikanan terdampak.

Direktur Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Permana Yudiarso, mengatakan penanganan dilakukan menyusul permohonan Gubernur Aceh Muzakir Manaf terkait kondisi muara sungai dan muara perikanan yang mengalami pendangkalan akibat banjir.

“Pendangkalan ini berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan dan operasional pelabuhan perikanan sehingga diperlukan perbaikan muara sungai dan pelabuhan perikanan yang dangkal,” ujar Permana dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Senin (11/5/2026).

KKP bersama Pemerintah Aceh juga membahas rencana survei terhadap 13 lokasi pelabuhan perikanan yang menjadi prioritas penanganan. Survei tahap awal dilakukan di sejumlah lokasi, di antaranya Pelabuhan Perikanan (PP) Lambada Lhok di Aceh Besar, PP Kuala Pasi Peukan Baro dan PP Kuala Tari di Kabupaten Pidie, serta Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Panteraja di Kabupaten Pidie Jaya.

Hasil tinjauan awal menunjukkan sebagian besar lokasi berada di sistem muara sungai yang mengalami pendangkalan akibat banjir, dinamika oseanografi pesisir, dan sedimentasi lumpur pascabanjir.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyebut penanganan muara yang dangkal menjadi kebutuhan mendesak mengingat banyak masyarakat Aceh bergantung pada sektor kelautan dan perikanan.

Menurutnya, pendangkalan tidak hanya menghambat akses keluar masuk kapal nelayan, tetapi juga meningkatkan risiko banjir berulang akibat aliran sungai yang terhambat.

“Pemerintah Aceh mendorong agar penanganan dilakukan secara menyeluruh, termasuk mengatasi abrasi di wilayah pesisir sehingga langkah ini dapat mempercepat pemulihan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Aceh,” kata Muzakir.

Direktur Pemanfaatan Ruang Kolom Perairan dan Dasar Laut KKP, Didit Eko Prasetiyo, mengatakan Menteri Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) untuk pengembangan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja serta mendukung penanganan 12 lokasi prioritas lainnya di Aceh.

“KKP akan mendukung percepatan proses perizinan pemanfaatan ruang laut, termasuk proses KKPRL pada lokasi pelabuhan perikanan prioritas, agar penanganan pendangkalan alur dan pemulihan akses nelayan dapat berjalan sesuai ketentuan dan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan,” ujar Didit.

KKP menilai penanganan alur pelayaran dan muara pelabuhan perlu dilakukan secara terukur dan berbasis kajian teknis, seperti survei batimetri, kajian oseanografi, analisis sedimen, dan pengelolaan kawasan pesisir terpadu agar solusi yang diterapkan efektif dan berkelanjutan.

Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Denny N. Sugianto, yang turut terlibat dalam tim kajian, menyebut sedimentasi di sejumlah muara Aceh dipengaruhi persoalan hulu hingga hilir, termasuk perubahan tutupan lahan, dinamika sungai, dan proses pesisir.

“Permasalahan muara di Aceh tidak berdiri sendiri. Penanganannya perlu dilakukan dengan pendekatan terpadu dari wilayah DAS hingga kawasan pesisir agar sedimentasi tidak terus berulang,” ujar Denny.

Sebagai tindak lanjut, KKP bersama Pemerintah Aceh akan mengumpulkan data teknis dan dokumen pendukung untuk penanganan prioritas di lokasi terdampak. Survei lanjutan juga akan dilakukan secara bertahap bersama unit pelaksana teknis KKP dan Pemerintah Aceh di seluruh lokasi prioritas.(fahmi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

25 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Pelindo Regional 2 dan BNN Jakarta Utara Perkuat Edukasi Bahaya Narkoba bagi Generasi Muda

24 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Pelindo Semai Harapan di Langowan melalui Relawan Bakti BUMN Batch IX

24 Agustus 2026 - 16:36 WIB

IPCC Layani Sepenuh Hati, Dukung Pengiriman Bantuan Kemanusiaan PMI ke Nusa Tenggara Timur

22 Agustus 2026 - 21:21 WIB

Dukung Keandalan dan Keselamatan Perjalanan KA, KAI Logistik Lakukan Pengeceran Balas Secara Bertahap

21 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Pelindo–Pelni Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

21 Agustus 2026 - 21:13 WIB

Mulai Rp215 Ribu, DAMRI Buka Layanan Kalianda–Jakarta via Lintas Sumatera

21 Agustus 2026 - 18:33 WIB

Posko Bersama Dibuka, Kemenhub-Pelindo-PELNI Perkuat Respons Kemanusiaan untuk NTT

21 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Peduli Kesehatan Masyarakat, Pelindo dan IHC Gelar Pemeriksaan Gratis bagi Balita dan Lansia

21 Agustus 2026 - 17:15 WIB

Trending di RAGAM