Wartatrans.com, JAKARTA – Mantap! Nilai ekspor industri ikan Tuna sepanjang 2025 tembus senilai US$ 1 Miliar.
Ini menandakan bahwa industri Tuna memasuki fase baru transfromasi, tidak lagi sekadar bertumpu pada volume produksi, tapi mulai bergerak menuju industri yang bernilai tambah, menggabungkan keberlanjutan, inovasi, dan pendekatan berbasis pasar.

“Industri tuna Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada volume tangkapan semata. Dengan tekanan terhadap stok yang semakin nyata, kita perlu beralih ke pendekatan berbasis nilai, di mana setiap ikan dimanfaatkan secara optimal,” kelas Indonesia Tuna Consortium Lead Thilma Komaling di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Saat ini kata dia, 40–50% bagian Tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, meski memiliki potensi ekonomi tinggi.
Melalui pendekatan 100% utilization, kita dapat meningkatkan nilai tanpa menambah tekanan terhadap sumber daya.
Momentum ini menjadi sorotan dalam Tuna Talks 2026, gelaran Tuna Consortium dalam rangka World Tuna Day yang mengusung tema “From Ocean Science to (Pop) Culture: Reimagining Indonesia’s Tuna Future”,
Menurutnya, forum ini mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor; mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif; untuk membahas arah masa depan industri tuna Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kinerja ekspor tuna Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan sekitar 7,46% sepanjang 2021–2025.
“Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama dengan komposisi ekspor masing-masing sebesar 19,59%; 16,38%; dan 15,58% dari total nilai ekspor tuna Indonesia sebesar US$ 1,038 miliar pada 2025,” katanya.
Hal ini tentu saja mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.
Produk bernilai tambah seperti Tuna olahan dan fillet kini mendominasi ekspor, menandakan pergeseran dari komoditas mentah menuju produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Dengan nilai ekspor yang telah melampaui US$ 1 miliar pada 2025, sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global,” ujar Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Kementerian Perdagangan Ari Satria.
Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi faktor kunci.
Pemerintah menurutnya, terus memperkuat pengelolaan perikanan Tuna melalui pendekatan berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.
“Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional, guna memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global,” kata Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Syarif Abd. Raup.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan data mulai memainkan peran penting dalam mendukung transformasi industri.
Shinta Yuniarta dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara menyampaikan, inisiatif berbasis digital dan kecerdasan buatan memungkinkan pengumpulan data perikanan yang lebih akurat dan transparan, yang menjadi fondasi penting dalam pengelolaan stok ikan dan peningkatan kepercayaan pasar.
“Pemanfaatan teknologi seperti sistem digital dan artificial intelligence memungkinkan kita mengumpulkan data perikanan secara lebih akurat dan real-time. Ini penting untuk memastikan pengelolaan stok ikan yang berkelanjutan sekaligus mendukung transparansi dalam rantai pasok,” ungkapnya.
Selain penguatan tata kelola dan data, inovasi menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah industri.
Pendekatan pemanfaatan menyeluruh (100% utilization) mulai didorong untuk memastikan setiap bagian tuna dapat memberikan nilai ekonomi. (omy)





























