Wartatrans.com, SUMBA TIMUR – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksikan kawasan budidaya udang terintegrasi atau Integrated Shrimp Farming (ISF) di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mampu menghasilkan 52.800 ton udang per tahun dengan nilai produksi sekitar Rp4 triliun.
Kawasan tersebut juga diperkirakan menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja pada sektor hulu, produksi, hingga hilir.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, Tambak ISF Waingapu seluas 2.150 hektare dirancang sebagai ekosistem industri udang yang terintegrasi, tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga didukung pengembangan industri hulu dan hilir.
“Tambak saja dibangun tidak cukup kalau tidak diikuti hulu dan hilirnya. Nanti dibangun hatchery, pabrik pakan, fasilitas pengolahan, dan pabrik es di sini,” kata Trenggono saat meninjau progres pembangunan ISF Waingapu bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Kamis (30/7/2026).
Menurut Trenggono, pemerintah menyiapkan infrastruktur utama untuk mendukung proses produksi, sementara sektor swasta didorong memperkuat rantai industri agar kawasan tersebut mampu menjadi pusat produksi udang nasional yang berdaya saing.
Area produksi Tambak ISF Waingapu akan dibangun dalam 12 klaster yang terdiri atas 1.536 kolam budidaya, 192 kolam tandon, dan 48 instalasi pengolahan air limbah (IPAL) klaster. Kawasan ini juga dilengkapi jaringan intake, area karantina, jalan produksi, fasilitas penunjang, serta IPAL utama seluas 82,34 hektare guna mendukung budidaya yang efisien dan berkelanjutan.
Hingga 29 Juli 2026, progres pembangunan fisik telah mencapai sekitar 10 persen dengan dukungan 312 unit alat berat dan melibatkan 682 tenaga kerja konstruksi. Tahap pembangunan ditargetkan berlangsung hingga 2027, dilanjutkan operasional awal pada tahun yang sama dan beroperasi penuh pada 2028.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai proyek tersebut akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian daerah maupun nasional melalui peningkatan ekspor dan perolehan devisa.
“Kalau kita yang produksi dan kita ekspor, kita akan mendapat devisa. Yang diuntungkan adalah rakyat Sumba, NTT, dan Indonesia. Itu yang disebut swasembada pangan untuk kehormatan,” ujarnya.
Selain menghasilkan devisa, kawasan ISF Waingapu diproyeksikan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Produksi udang dalam skala besar akan meningkatkan kebutuhan jagung dan tepung ikan sebagai bahan baku pakan, sehingga membuka pasar bagi hasil pertanian dan perikanan lokal serta mendorong pertumbuhan UMKM, sektor transportasi, hingga perhotelan.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari investor. Guangdong Evergreen Group menyatakan komitmennya melalui initial letter of intent untuk berinvestasi sekitar 158,5 juta dolar AS atau setara Rp2,8 triliun dalam tiga tahun ke depan. Investasi tersebut akan digunakan untuk membangun hatchery, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan udang.
Perwakilan Indonesia Evergreen Group, Tina Maria, mengatakan pihaknya melihat potensi besar Sumba Timur sebagai kawasan pengembangan industri udang yang tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.(fahmi)
































