Wartatrans.com, JAKARTA — Hari Raya Idul adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, melainkan momentum untuk memahami makna keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah SWT. Peristiwa agung yang menjadi dasar ibadah kurban berawal dari mimpi yang diterima Nabi Ibrahim AS.
Bagi manusia biasa, mimpi bisa saja hanya menjadi bunga tidur. Namun bagi seorang nabi, mimpi adalah wahyu dan perintah dari Allah SWT. Karena itulah ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, beliau tidak menganggapnya sebagai khayalan atau gangguan tidur semata. Perintah itu diterima dengan penuh keyakinan dan dijalankan dengan keikhlasan yang luar biasa.

Keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan ketundukan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran besar bagi umat manusia. Di balik ujian yang berat, tersimpan nilai ketakwaan yang begitu mendalam. Kepatuhan kepada Allah ditempatkan di atas kepentingan pribadi, rasa takut, bahkan rasa cinta kepada keluarga.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang materi atau hewan kurban, tetapi juga tentang kesiapan hati untuk tunduk kepada kehendak Allah SWT. Ketika manusia mampu mengutamakan perintah-Nya, maka di situlah letak kemuliaan seorang hamba.
Idul adha juga mengingatkan bahwa setiap ujian kehidupan membutuhkan keikhlasan. Dalam keikhlasan terdapat kekuatan, dan dalam kepatuhan terdapat keteladanan bagi umat. Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan bahwa iman sejati lahir dari keyakinan yang kokoh dan kesediaan menjalankan perintah Allah tanpa ragu.
Semangat itulah yang seharusnya terus hidup dalam kehidupan umat Islam hari ini. Menjadikan Iduladha bukan hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai pengingat untuk memperkuat iman, memperbesar kepedulian sosial, serta mempererat persaudaraan antar sesama.***
Duren Sawit – 2026


























