Wartatrsns.com, KOLOM — Langit di atas Labuan Bajo tidak pernah benar-benar sama. Ia berubah mengikuti musim, mengikuti angin, dan mengikuti cara cahaya jatuh ke permukaan laut.
Pada bulan-bulan tertentu, awan turun rendah, hujan datang nyaris setiap sore, dan pulau-pulau karang di hadapan Flores itu tampak lebih hijau, lebih lembut, seolah baru disapukan cat basah. Di bulan lain, matahari berdiri tegak, langit membiru tanpa jeda, dan pulau-pulau itu menjelma lanskap kering berwarna emas—eksotis dengan caranya sendiri. Laksana lukisan yang tak indahnya tak terperi.

Pada musim hujan, antara November hingga Maret, Labuan Bajo menunjukkan wajah yang jarang dibicarakan brosur wisata. Bukit-bukit yang biasanya cokelat pucat berubah hijau pekat. Rumput liar tumbuh rapat, mengalir dari punggung bukit hingga mendekati bibir pantai. Air terjun musiman muncul di sela-sela batu kapur, meski hanya bertahan singkat. Hujan turun tidak selalu deras, tapi cukup rutin untuk mengubah aroma udara—basah, segar, dan sedikit tanah.
Laut pun ikut berubah warna. Biru toska yang tajam pada musim kemarau menjadi lebih dalam, kadang kehijauan. Ombak datang lebih pelan di teluk-teluk kecil, sementara awan tebal kerap menggantung di atas Pulau Rinca dan Komodo, menutupi puncaknya hingga tampak seperti lukisan setengah jadi. Pada pagi hari, kabut tipis sering melayang rendah, membuat garis antara laut dan langit nyaris tak terlihat.
Bagi warga lokal, musim hujan bukan sekadar perubahan pemandangan. Ia adalah musim menunggu. Nelayan mengatur ulang jadwal melaut. Petani kecil di pulau-pulau sekitar menanam jagung, singkong, atau padi ladang, memanfaatkan tanah yang kembali lunak. Anak-anak bermain di tanah basah, sementara jalanan Labuan Bajo—yang kini kian ramai—harus berkompromi dengan genangan dan lumpur.
Berbeda halnya ketika musim kemarau tiba. Matahari seolah memerintah tanpa tandingan. Dari April hingga Oktober, hujan nyaris menghilang. Bukit-bukit kembali menanggalkan hijaunya. Rumput mengering, berubah kuning kecokelatan. Dari kejauhan, gugusan pulau tampak seperti lipatan kain tua yang dijemur terlalu lama di bawah matahari.
Langit bersih tanpa noda. Laut jernih hingga dasar terlihat jelas. Terumbu karang tampak seperti lukisan kaca patri yang diletakkan di bawah air. Kapal-kapal wisata hilir mudik, membawa tamu dari berbagai negara, berhenti di Padar, Pink Beach, atau Taka Makassar. Di musim ini, cahaya jatuh tajam, menciptakan kontras kuat antara biru laut dan cokelat bukit—dramatis, fotogenik, dan memikat kamera.
Pulau Padar, misalnya, menjadi ikon justru karena kekeringannya. Jalur pendakian yang berdebu mengantar pengunjung ke puncak, tempat tiga teluk berwarna berbeda terbentang sekaligus. Di musim hujan, jalur ini licin dan hijau. Di musim kemarau, ia kering dan keras, namun pemandangannya lebih tegas, garis-garis alam tampak jelas tanpa kabut.
Labuan Bajo, dengan demikian, bukan hanya destinasi. Ia adalah narasi tentang waktu. Pergantian musim di kawasan ini menyingkap fakta sederhana: keindahan tidak pernah tunggal. Ia berubah, tergantung kapan dan bagaimana kita memandangnya. Musim hujan menawarkan keasrian yang tenang, nyaris intim—warna hijau yang jarang dilihat wisatawan. Musim kemarau menyuguhkan eksotisme yang keras dan terang—ikon yang mendunia.
Di tengah geliat pembangunan dan pariwisata kelas premium, perubahan rupa ini sering terlewat. Padahal, di sanalah letak daya tarik Labuan Bajo yang sesungguhnya: kemampuannya untuk terus menjadi berbeda, tanpa kehilangan jati diri alamnya.
Pulau-pulau itu akan tetap berdiri. Hujan akan datang dan pergi. Matahari akan kembali membakar bukit-bukit kapur. Rupa warna akan terus berganti, seperti halaman majalah yang dibalik perlahan— setiap musim menyimpan ceritanya sendiri. Dan aku, tak akan pernah lelah mencatatnya.***
Kenangan 2022
Duren Sawit 2026









