Wartatrans.com, JAKARTA — 100 kelahiran Ali Sadikin mengingatkan kita pada satu warisan besar yang tak lekang oleh waktu: keberaniannya menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Jakarta. Di tengah berbagai kebutuhan kota, ia menyadari bahwa sebuah ibu kota juga membutuhkan ruang bagi imajinasi, kreativitas, dan kebebasan berekspresi.
Ketika sastrawan Ajip Rosidi mengusulkan berdirinya pusat kesenian, Ali Sadikin tidak berlama-lama menimbang. Gagasan itu disambut, diwujudkan, dan lahirlah Taman Ismail Marzuki (TIM), yang kemudian menjadi rumah bagi para seniman Indonesia lintas generasi. Tak heran, hingga kini nama Bang Ali tetap dikenang dengan penuh hormat oleh kalangan seni dan budaya.

Saya pun memiliki kenangan dengan tempat itu. Saat masih duduk di bangku SMA, saya mulai mengenal dunia teater bersama Teater Bela binaan Radio ARH. Kami berlatih di ruang terbuka yang kini telah berubah menjadi Gedung Teater Kecil. Seiring pembangunan kawasan TIM, Radio ARH beserta jejak para senimannya perlahan menghilang ditelan perubahan zaman. Yang tersisa adalah kenangan dan harapan agar ruh kesenian tidak ikut hilang.
Kini, setiap kali rindu pada atmosfer TIM tempo dulu, saya hanya bisa menyeruput secangkir kopi sambil mengenang masa-masa ketika kawasan itu benar-benar menjadi ruang hidup para seniman, bukan sekadar bangunan megah.
Menjelang lima abad Jakarta, saya berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan saat ini, terlebih dengan kehadiran Wakil Gubernur Rano Karno yang berasal dari dunia seni pertunjukan, dapat menghidupkan kembali semangat yang diwariskan Ali Sadikin. Bukan sekadar mempercantik fisik TIM, tetapi mengembalikannya sebagai pusat kesenian yang terbuka, inklusif, dan menjadi rumah yang sesungguhnya bagi para seniman.
Karena sebuah kota besar tidak hanya dikenang dari gedung-gedung pencakar langitnya, tetapi juga dari keberpihakannya kepada kebudayaan. Dan dalam hal itu, Ali Sadikin telah memberi teladan yang layak diwariskan.***


























