Menu

Mode Gelap
Jakarta Butuh Hub Logistik Dirjen Perhubungan Udara Tinjau Bandara Terdampak Gempa NTT Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai Pedang, Amanah, dan Marwah Linge Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Taman Ismail Marzuki, Ibu yang Tak Boleh Dibunuh

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Taman Ismail Marzuki, Ibu yang Tak Boleh Dibunuh Perbesar

Wartatrans.con, KOLOM — Taman Ismail Marzuki (TIM) bukan sekadar sebidang lahan di jantung Jakarta. Ia adalah rahim kebudayaan. Sebuah ibu yang sejak kelahirannya terus mengandung, melahirkan, dan membesarkan para seniman Indonesia lintas generasi. Karena itu, ketika TIM hari ini terancam kehilangan ruhnya, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya ruang fisik, melainkan napas kebudayaan bangsa.

Jejak napas TIM adalah jejak para seniman—dari seniman untuk seniman. Ia bukan milik pemerintah dalam pengertian administratif semata, melainkan milik kebudayaan Indonesia. Secara historis, kawasan ini adalah hibah kebudayaan dari pelukis maestro Raden Saleh pada tahun 1862. Dengan keyakinan visioner, Raden Saleh merelakan pekarangan rumahnya yang luas untuk menjadi semacam “laboratorium” seni dan budaya: rumah tempat embrio-embrio seniman dilahirkan dan diasuh.

Dari ruang itulah kelak memantul cahaya kesenian Indonesia ke berbagai penjuru dunia. TIM menjadi etalase kebanggaan nasional—ikon pusat kesenian yang hidup, dinamis, dan membumi.

Kesadaran akan nilai luhur ruang ini mencapai momentumnya pada era Gubernur Ali Sadikin. Dengan penghormatan yang tulus terhadap seniman, Ali Sadikin meresmikan kawasan tersebut sebagai Taman Ismail Marzuki, mengambil nama komponis besar Indonesia yang karya-karyanya—seperti Gugur Bunga dan Rayuan Pulau Kelapa—terus bergema lintas zaman dan lintas batas negara.

Sejak akhir 1960-an, TIM benar-benar “hamil” dan melahirkan tokoh-tokoh besar kebudayaan Indonesia. Dari rahimnya lahir nama-nama seperti W.S. Rendra, Arifin C. Noer, Huriah Adam, Sardono W. Kusumo, Wahyu Sihombing, Slamet Abdul Syukur, hingga Sutardji Calzoum Bachri—penyair yang kerap disebut sebagai presiden penyair Indonesia. Mereka bukan hanya produk ruang, tetapi juga bukti bahwa kebudayaan memerlukan rumah untuk tumbuh.

Ironisnya, hari ini TIM justru terasa membuat sesak napas para penghuninya sendiri: para seniman. Ruang yang seharusnya memerdekakan ekspresi kini terancam oleh kepentingan-kepentingan yang memandangnya semata sebagai aset ekonomi. Letaknya yang strategis dan bernilai tinggi menjadikannya incaran kaum serakah—mereka yang cara berpikirnya berhenti pada kalkulasi “cuan”.

Yang kerap dilupakan, atau sengaja diabaikan, adalah peran seniman sebagai penyeimbang kehidupan sebuah negara. Seniman bukan parasit pembangunan. Mereka adalah energi—penghasil cahaya yang menerangi arah peradaban. Tanpa ruang hidup yang layak bagi seni, sebuah bangsa akan kehilangan cermin untuk bercermin dan kompas untuk melangkah.

TIM semestinya tetap menjadi rumah seniman, bukan sekadar gedung megah tanpa jiwa. Ia harus terus berfungsi sebagai etalase yang memantulkan cahaya kebudayaan, bukan kaca buram yang menutup ingatan kolektif kita. Modernisasi tidak boleh berarti amputasi sejarah. Penataan tidak boleh menjelma pembunuhan simbolik.

Biarkan Taman Ismail Marzuki tetap menjadi ibu yang melahirkan. Jangan dibunuh atas nama pembangunan. Jangan dikorbankan demi kepentingan jangka pendek. Karena ketika sebuah bangsa membunuh rahim kebudayaannya sendiri, yang lahir kemudian hanyalah kekosongan.***

Duren Sawit 2026

#SaveTIM

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Trending di RAGAM