Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah kawasan bersejarah Menteng, Jakarta, tepatnya di Jalan Surabaya, terdapat sebuah ruang yang tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda berharga. Rumah milik Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si. yang kini difungsikan sebagai galeri, menghadirkan sebuah pengalaman budaya yang kaya akan makna dan kenangan.
Memasuki galeri tersebut, pengunjung segera disambut oleh berbagai foto yang merekam perjalanan panjang kehidupan Dewi Motik. Deretan dokumentasi itu menjadi saksi bisu berbagai fase perjalanan seorang perempuan yang dikenal luas sebagai tokoh pemberdayaan perempuan, pengusaha, sekaligus pegiat sosial dan budaya. Namun, bukan hanya foto-foto sejarah yang menarik perhatian.

Di antara langit-langit ruangan, menjuntai dengan anggun beragam wastra Nusantara. Kain-kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dipajang bukan sekadar sebagai dekorasi, melainkan sebagai simbol kekayaan budaya bangsa yang hidup dan terus diwariskan. Motif, warna, dan corak yang beragam menghadirkan suasana yang hangat sekaligus membangkitkan rasa bangga terhadap identitas Indonesia.
Wastra Nusantara yang menghiasi galeri tersebut berasal dari berbagai penjuru tanah air. Setiap helainya menyimpan cerita tentang tradisi, kearifan lokal, serta keterampilan para perajin yang selama berabad-abad menjaga warisan leluhur. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa produk anak negeri memiliki nilai seni dan filosofi yang tinggi, setara dengan karya budaya bangsa-bangsa besar di dunia.
Penataan wastra yang berpadu dengan foto-foto perjalanan hidup Dewi Motik menciptakan dialog yang menarik antara sejarah pribadi dan sejarah budaya bangsa. Di satu sisi, pengunjung diajak mengenal perjalanan hidup sang pemilik galeri; di sisi lain, mereka juga diajak menyelami kekayaan tekstil tradisional Indonesia yang menjadi bagian penting dari identitas nasional.
Galeri ini menunjukkan bahwa wastra Nusantara tidak harus berada di balik etalase kaca atau tersimpan di museum. Kain-kain tersebut dapat hadir sebagai bagian dari ruang hidup, menjadi medium edukasi sekaligus apresiasi budaya. Dengan cara itulah warisan budaya tetap dekat dengan masyarakat dan terus menemukan relevansinya di tengah perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar galeri pribadi, ruang ini menjadi sebuah pernyataan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: merawat, memamerkan, dan memperkenalkan karya-karya anak bangsa kepada generasi berikutnya. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, keberadaan wastra Nusantara yang menghiasi galeri Dewi Motik menjadi simbol keteguhan untuk terus menjaga akar budaya Indonesia.
Rumah yang kini menjelma menjadi galeri tersebut akhirnya bukan hanya menyimpan kenangan perjalanan hidup seorang tokoh. Ia juga menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, seni, dan budaya Nusantara, tempat di mana setiap helai kain dan setiap bingkai foto berbicara tentang perjalanan panjang bangsa Indonesia yang kaya akan warna dan keberagaman.***
Duren Sawit – 2026


























