Wartatrans.com, JAKARTA — Belakangan ini, saya mengikuti berbagai persoalan yang kembali mengemuka dalam hubungan Indonesia dengan Singapura. Ada banyak hal yang menjadi perhatian, mulai dari kepentingan nasional, kedaulatan, hubungan diplomatik, hingga bagaimana kedua negara menempatkan diri di tengah kepentingan masing-masing.
Di tengah hiruk-pikuk itu, pikiran saya justru melayang pada sesuatu yang agak berbeda. Saya teringat orang-orang Minangkabau yang pernah ikut membangun sejarah Singapura.
Saya bertanya kepada diri sendiri: bagaimana mungkin sebuah bangsa yang wilayahnya tidak terlalu luas seperti Singapura, memiliki perjalanan sejarah yang juga dibentuk oleh orang-orang dari tanah Sumatera Barat?
Saya kemudian mengingat nama Yusof Ishak.
Ia adalah Presiden pertama Republik Singapura. Sosok yang wajahnya hingga kini terpampang pada uang kertas Singapura. Yusof memiliki darah Minangkabau dari garis ayahnya. Ia bukan sekadar tokoh seremonial. Sebelum menjadi kepala negara, ia dikenal sebagai wartawan dan salah satu pendiri surat kabar Utusan Melayu.
Lalu saya teringat Zubir Said.
Lelaki kelahiran Tilatang, Bukittinggi, Sumatera Barat, yang merantau ke Singapura. Dari tangannya lahir sebuah lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Singapura: Majulah Singapura.
Bayangkan itu.
Seorang anak Minangkabau datang ke negeri orang, kemudian menciptakan lagu yang menjadi simbol kebangsaan sebuah negara. Karyanya dinyanyikan oleh jutaan orang Singapura, lintas generasi dan latar belakang.
Saya juga menemukan nama Mohamed Eunos Abdullah. Tokoh pers dan politik Melayu yang memiliki ayah seorang saudagar Minangkabau. Ia pernah menjadi anggota Legislative Council Straits Settlements dan ikut mendirikan Kesatuan Melayu Singapura.
Ada pula nama Letnan Adnan Saidi, yang dikenang dalam sejarah perjuangan mempertahankan Singapura pada masa Perang Dunia II. Hubungan genealogisnya dengan Minangkabau masih perlu ditelusuri lebih lanjut, tetapi namanya turut muncul dalam narasi sejarah diaspora Minangkabau di Singapura.
Dari nama-nama itu, saya mulai merenungkan sesuatu.
Ternyata, orang Minangkabau bukan hanya datang ke Singapura untuk berdagang, mencari pekerjaan, atau mengadu nasib. Sebagian dari mereka ikut memberikan sumbangan pada pembentukan identitas, kebudayaan, pers, dan perjalanan politik negeri tersebut.
Namun, ada satu pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiran saya, mengapa jejak orang Minang seolah tertinggal? Mengapa kontribusi yang begitu besar tidak selalu sebanding dengan pengakuan terhadap peran mereka?
Saya kemudian teringat satu kebiasaan yang sering saya amati dalam kehidupan orang Minangkabau. Kita sering kali mempersilakan orang lain maju ke depan, meskipun sebenarnya kita turut berjuang. Kita ikut bekerja, ikut membangun, ikut memikirkan, bahkan terkadang menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah perjuangan. Tetapi ketika tiba waktunya tampil, menerima pengakuan, atau mengambil posisi kepemimpinan, kita justru memilih berdiri di belakang.
Tentu, ada nilai kerendahan hati dalam sikap tersebut. Ada semangat kebersamaan dan keikhlasan yang patut dihargai.
Tetapi, apakah kita harus terus-menerus seperti itu? Apakah kerendahan hati harus membuat kita kehilangan tempat dalam sejarah?
Saya tidak sedang mengajak orang Minang menjadi sombong, apalagi merasa lebih tinggi daripada orang lain. Bukan itu maksud saya.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa sudah waktunya orang Minang memahami arti kehadiran, pengakuan, dan kepemimpinan.
Kita tidak boleh terus-menerus menjadi orang yang bekerja di balik layar, sementara orang lain yang selalu tampil di depan. Kita tidak boleh hanya puas menjadi bagian dari perjuangan, tetapi tidak berani mengambil tanggung jawab untuk memimpin.
Orang Minang harus berani maju di garis depan. Bukan untuk menguasai orang lain, melainkan untuk menunjukkan kemampuan, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan memberikan kontribusi yang nyata.
Saya kemudian kembali melihat tradisi merantau yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
Merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman. Merantau adalah membawa pikiran, kemampuan, kebudayaan, dan keberanian untuk hidup di tengah masyarakat yang berbeda.
Orang Minang memiliki falsafah: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Tetapi bagi saya, falsafah itu tidak berarti seseorang harus kehilangan akar sejarahnya. Justru ketika seseorang mampu menghormati tanah tempat ia hidup, ia dapat memberikan sumbangan yang berarti tanpa harus melupakan dari mana ia berasal.
Singapura menjadi salah satu contoh menarik dari perjalanan itu.
Yusof Ishak memberikan pelajaran tentang kepemimpinan dan pers. Zubir Said meninggalkan karya musik yang menjadi identitas sebuah negara. Eunos Abdullah memberikan jejak dalam perjuangan sosial dan politik masyarakat Melayu.
Mereka hadir dalam bidang yang berbeda. Mereka tidak sekadar menjadi perantau yang mencari kehidupan, tetapi ikut meninggalkan warisan bagi negeri tempat mereka mengabdi.
Lantas, ketika hari ini Indonesia dan Singapura menghadapi berbagai persoalan, saya merasa perlu melihat hubungan kedua negara dari perspektif yang lebih panjang.
Hubungan antarnegara memang dibangun melalui kepentingan nasional. Indonesia memiliki kedaulatan yang harus dihormati. Singapura juga memiliki kepentingan nasionalnya sendiri. Perbedaan kepentingan adalah sesuatu yang lumrah dalam hubungan internasional.
Namun, sejarah manusia tidak selalu berjalan mengikuti garis batas negara.
Ada hubungan keluarga, kebudayaan, perdagangan, dan sejarah yang telah terbangun jauh sebelum persoalan diplomatik hari ini muncul.
Orang Minangkabau adalah salah satu bagian dari sejarah itu.
Saya justru membayangkan, betapa menariknya jika generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak Minangkabau, mempelajari kembali perjalanan para perantau tersebut.
Bukan untuk membanggakan diri secara berlebihan, melainkan untuk memahami bahwa kualitas manusia dapat memberikan pengaruh jauh melampaui batas geografis.
Tetapi ada satu hal yang ingin saya tekankan, jangan hanya menjadi penyumbang tenaga. Jadilah pengambil keputusan. Jangan hanya menjadi pelaksana gagasan orang lain. Beranilah melahirkan gagasan sendiri.
Jangan hanya membangun panggung untuk orang lain. Beranilah berdiri di atas panggung yang dibangun bersama.
Jangan hanya menjadi bagian dari sejarah orang lain. Mulailah menulis sejarah sendiri.
Saya kira, orang Minang perlu melakukan refleksi. Kita harus tetap menjaga kerendahan hati, tetapi tidak boleh kehilangan keberanian untuk tampil. Kita harus tetap menjunjung adat dan menghormati orang lain, tetapi juga harus berani memperjuangkan posisi dan martabat.
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai bekerja di belakang layar. Dunia juga membutuhkan orang yang berani mengambil tanggung jawab di depan.
Maka, mulai sekarang harus ada catatan baru dalam perjalanan orang Minangkabau: maju di garis depan, bekerja dengan gagasan, memimpin dengan integritas, dan tetap menjunjung tinggi adat serta martabat.
Saya kira, inilah saatnya kita mengubah cara pandang.
Orang Minang boleh merantau jauh, boleh mengabdi di negeri orang, dan boleh ikut membangun bangsa lain. Tetapi jangan sampai perannya hilang dalam catatan sejarah.
Sebab, orang Minang bukan hanya harus dikenang karena pernah ikut membangun sejarah orang lain.Orang Minang juga harus berani tampil di garis depan untuk menulis sejarahnya sendiri.***






















