Menu ✖

Mode Gelap
IPCM Perluas Pasar, Perkuat Kesiapan Operasional di Balikpapan dan Tarakan Kemenhub Dorong Integrasi Transportasi dan Tata Ruang pada KBT Hamdi Afkar Hadirkan Keindahan Alam Aceh dalam Kanvas di Pameran Internasional USK Thomas Oentoro jadi Dirut Garuda Indonesia, ini Profilnya KKP Luncurkan Aturan Pengelolaan Alat Tangkap Tertinggal, Hilang, dan Rusak Krishna Sakti Buktikan Talenta Anak Indonesia, Rilis Dua Single dengan Dua Wajah Berbeda

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Indonesia Dibangun Tidak Dengan Keserakahan

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Indonesia Dibangun Tidak Dengan Keserakahan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Beberapa waktu lalu, dalam sebuah obrolan bersama Aqiel Siradj, muncul satu pembahasan menarik tentang amanah Tuhan kepada seorang pemimpin keluarga. Bahwa tugas utama seorang ayah sesungguhnya bukan sekadar meninggalkan harta berlimpah bagi anak cucunya, melainkan mendidik mereka setinggi mungkin dalam ilmu, akhlak, dan kemanusiaan.

Obrolan itu terasa relevan di tengah zaman ketika ukuran keberhasilan sering kali dihitung dari seberapa banyak kekayaan yang mampu diwariskan. Muncul kebanggaan tentang “harta tujuh turunan”, bahkan ada yang bercita-cita membangun kekayaan untuk 21 keturunan.

Padahal cara berpikir semacam itu bisa melahirkan ketimpangan sosial yang serius. Ketika seseorang terlalu bernafsu mengumpulkan kekayaan tanpa batas demi garis keturunannya sendiri, maka pada saat yang sama ia berpotensi membiarkan masyarakat lain hidup dalam kemiskinan dan ketertinggalan.

Indonesia tidak dibangun dengan semangat seperti itu.

Pancasila menempatkan keadilan sosial sebagai fondasi bernegara. Ada nilai gotong royong, keseimbangan, dan tanggung jawab bersama agar kesejahteraan tidak hanya berputar pada segelintir kelompok.

Namun dalam praktiknya, kerakusan ekonomi sering menemukan jalannya sendiri. Apa yang bisa diakali, diakali. Apa yang bisa diraup, diraup. Bahkan berbagai praktik kejahatan kerah putih seperti transfer pricing, manipulasi pajak, hingga eksploitasi sumber daya berlangsung bertahun-tahun, sering kali tanpa rasa bersalah.

Yang dirugikan bukan hanya negara secara angka, tetapi juga rakyat, lingkungan, dan masa depan generasi berikutnya. Alam rusak, ketimpangan melebar, sementara segelintir elite terus memperbesar akumulasi kekayaan mereka.

Dalam obrolan itu, terasa sekali pesan moral yang sederhana namun mendalam: mendidik anak menjadi manusia baik jauh lebih penting dibanding mewariskan kerakusan yang dibungkus nama kesuksesan.

Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang kaya. Yang sering kurang adalah rasa cukup, rasa malu, dan tanggung jawab sosial.

Dan mungkin di situlah pendidikan keluarga menjadi titik awal perubahan.***

Jakarta – 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

IPCM Perluas Pasar, Perkuat Kesiapan Operasional di Balikpapan dan Tarakan

8 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Politikus PSI Dian Sandi: Putusan MK Bukti Negara Tidak Dikelola Amatiran

8 Oktober 2026 - 15:36 WIB

HUT ke-79 Korpasgat, Donor Darah Serentak Digelar di Lhokseumawe

8 Oktober 2026 - 15:31 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir

8 Oktober 2026 - 10:59 WIB

WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026

8 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi

8 Oktober 2026 - 10:41 WIB

PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

8 Oktober 2026 - 10:36 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Trending di ANJUNGAN