Menu ✖

Mode Gelap
Bandara Lombok Sambut Kedatangan Ofisial, Kru, Pembalap, dan Kargo MotoGP 2026 MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot Penumpang Mancanegara KA Pangrango-Siliwangi Naik 17,17 Persen Garuda Indonesia Group Siapkan 14 Ribu Kursi, Antisipasi Lonjakan Jelang MotoGP Mandalika Bengkel Kreatif Aceh Multi Vision, 15 Tahun Mengembangkan Karya dan Ekonomi Kreatif Aceh Pengurus APPSI Aceh Tengah Periode 2025–2030 Siap Dilantik

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Lima Abad Jakarta Jangan Hanya Membangun Kota

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Lima Abad Jakarta Jangan Hanya Membangun Kota Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Suatu hari, atas inisiatif Kak Agung, kakak kelas kami di SMA 3 Jakarta, kami datang mengucapkan selamat kepada Wali Kota Jakarta Selatan yang baru, Pak Syafrin. Hadir pula Kak Asri Hadi, senior almamater SMA 3 Jakarta angkatan 1976.

Pertemuan itu berlangsung sederhana. Kami datang mendadak. Tetapi justru dari percakapan yang tidak dirancang terlalu formal itu, muncul satu pertanyaan besar: ketika Jakarta memasuki lima abad, apa yang sebenarnya hendak kita wariskan kepada generasi setelah kita?

Lima abad adalah waktu yang terlalu panjang jika hanya dirayakan dengan seremoni, panggung, spanduk, dan slogan.

Jakarta membutuhkan warisan yang lebih dalam.

Warisan peradaban.

Saya menyampaikan gagasan sederhana kepada Pak Wali: harus ada sesuatu yang lahir dari Jakarta Selatan untuk menyambut Lima Abad Jakarta. Sesuatu yang tidak selesai ketika acara berakhir. Sesuatu yang menyentuh manusia, terutama anak-anak muda.

Dalam percakapan itu, saya menyampaikan ide tentang pemanfaatan bangunan yang dikenal sebagai Unyil, di lingkungan Produksi Film Negara (PFN). Mengapa tidak ruang tersebut dihidupkan kembali sebagai ruang pembentukan karakter bagi pelajar?

Semacam retreat. Semacam motivation training. Tetapi dengan pendekatan yang berbeda.

Anak-anak sekolah menengah kita tidak cukup hanya dijejali motivasi. Mereka tidak kekurangan kata-kata penyemangat. Yang mungkin mulai hilang adalah kedalaman.

Maka, ajak mereka kembali membaca buku. Ajak mereka membaca sastra. Ajak mereka berdiskusi. Ajak mereka menonton film yang bermutu. Ajak mereka menulis. Ajak mereka berdebat tanpa saling membenci.

Sebab, bangsa yang berhenti membaca pada akhirnya akan kehilangan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri.

Sastra, dalam pandangan saya, bukan barang mewah. Sastra adalah salah satu cara manusia belajar menjadi manusia. Dari sastra kita belajar merasakan penderitaan orang lain, memahami perbedaan, mengenali kesunyian, mempertanyakan kekuasaan, dan melihat dunia tidak hanya dari jendela diri sendiri.

Di tengah banjir konten pendek dan budaya serba instan, anak-anak kita membutuhkan ruang untuk memperlambat diri. Membaca satu buku sampai selesai. Menyimak satu cerita sampai tuntas. Memikirkan satu gagasan tanpa buru-buru menggulir layar.

Barangkali inilah salah satu pekerjaan kebudayaan Jakarta menjelang lima abad: mengembalikan manusia Jakarta kepada kedalaman.

Karena itu, saya melihat gagasan ini tidak semata-mata milik Jakarta Selatan. PFN berada di Jakarta Timur. Maka, kalau gagasan ini hendak diwujudkan, harus ada sinergi lintas wilayah.

Jakarta Selatan membawa gagasan. Jakarta Timur menyediakan ruang. Dunia pendidikan mengirimkan anak-anak. Para seniman, sastrawan, pekerja film, dan budayawan mengisi programnya.

Lalu Jakarta menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak mudanya tumbuh.

Bukankah itu lebih berarti daripada sekadar menambah satu lagi acara seremonial?

Lima abad Jakarta semestinya menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh: Jakarta macam apa yang ingin kita tinggalkan?

Apakah Jakarta yang hanya semakin tinggi gedungnya, semakin padat jalannya, semakin mahal tanahnya?

Ataukah Jakarta yang manusianya semakin berbudaya, semakin kritis, semakin berempati, dan semakin mampu membaca zaman?

Saya percaya, ukuran kemajuan sebuah kota pada akhirnya bukan hanya berapa banyak gedung yang berdiri. Tetapi berapa banyak manusia yang berhasil dibentuk menjadi lebih baik oleh kota itu.

Terima kasih kepada Pak Wali Kota Jakarta Selatan atas sambutan hangatnya, meski kami datang secara mendadak. Mudah-mudahan pertemuan singkat itu tidak berhenti sebagai percakapan petang.

Barangkali, lain waktu kita bisa chit-chat lagi. Lebih panjang. Lebih serius. Tentang Jakarta, tentang anak-anak muda, tentang kebudayaan, dan tentang apa yang bisa kita wariskan ketika kota ini benar-benar memasuki usia lima abad.

Sebab, lima abad bukan sekadar usia. Ia adalah pertanggungjawaban sejarah. Dan pertanyaan terbesarnya sederhana: Setelah lima abad Jakarta, manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan?***

Baca Lainnya

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot

7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Bengkel Kreatif Aceh Multi Vision, 15 Tahun Mengembangkan Karya dan Ekonomi Kreatif Aceh

7 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Pengurus APPSI Aceh Tengah Periode 2025–2030 Siap Dilantik

7 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Maulid Akbar dan Peusijuk Kapolda Aceh Warnai Silaturrahmi Masyarakat Aceh Tenggara di Banda Aceh

7 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Adab dan Ilusi Pengetahuan di Era Digital

7 Oktober 2026 - 13:26 WIB

Zulfitri Nahkodai APPSI Aceh 2026–2031, Pedagang Pasar Siap Perkuat Ekonomi Kerakyatan

7 Oktober 2026 - 09:35 WIB

Kekeringan Hampir Empat Bulan, Bupati Fakfak Kerahkan Seluruh OPD Bantu Salurkan Air Bersih

6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Almujaini Abdul Karim Kembali Pimpin Musara Gayo Jabodetabek

6 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Kabut Asap Selimuti Karas, Polisi Sektor Karas Bagikan Masker kepada Warga Malakuli.

6 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Becak Listrik Prabowo: Ketika Teknologi Datang ke Jalanan Rakyat

6 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Trending di RAGAM