Wartatrans.com, BALI — Di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan di media sosial, hampir setiap langkah pemimpin selalu mengundang tafsir yang beragam. Apa pun yang dilakukan sering kali dipandang dari sisi negatif terlebih dahulu. Begitu pula yang terjadi terhadap Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Mulai dari pemberian sapi kurban hingga lawatan luar negeri pada momentum Idul Adha, sebagian pihak memilih melihatnya dengan prasangka dan kritik. Padahal, jika dicermati dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang jernih, ada banyak sisi positif yang justru layak diapresiasi demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

Di tengah situasi seperti ini, pesan dari Said Aqil Siradj menjadi relevan untuk direnungkan: mendoakan kebaikan bagi pemimpin adalah bagian dari ikhtiar menjaga negeri. Kritik tentu boleh, namun alangkah baiknya jika disertai niat memperbaiki, bukan sekadar memperkeruh suasana.
Kurban sebagai Simbol Kepedulian dan Kedekatan dengan Rakyat
Idul Adha bukan sekadar perayaan keagamaan. Ia adalah momentum pengorbanan, kepedulian sosial, dan penguatan persaudaraan. Ketika Presiden memberikan sapi kurban ke berbagai daerah, sejatinya itu bukan hanya seremoni simbolik. Ada pesan kebersamaan dan perhatian kepada masyarakat.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, hewan kurban dari kepala negara sering kali menjadi bentuk penghormatan kepada daerah, pesan persatuan nasional, sekaligus upaya menghadirkan negara lebih dekat dengan rakyat. Daging kurban yang dibagikan menyentuh masyarakat bawah, pesan moralnya menyentuh ruang sosial, dan semangat berbagi menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak boleh jauh dari nilai kemanusiaan.
Namun di era digital hari ini, bahkan kebaikan pun sering dicurigai. Ada yang mempertanyakan ukuran sapi, anggaran, hingga motif politik di baliknya. Padahal, jika semua hal selalu dicari sisi buruknya, maka ruang persatuan akan semakin sempit. Bangsa ini membutuhkan optimisme, bukan hanya kecurigaan tanpa akhir.
Idul Adha sendiri mengajarkan bahwa pengorbanan lahir dari keikhlasan. Nabi Ibrahim AS tidak mempertanyakan beratnya ujian, melainkan menunjukkan kepatuhan dan keteguhan. Spirit itulah yang semestinya menjadi pelajaran bersama: melihat setiap ikhtiar dengan kebijaksanaan, bukan semata prasangka.
Lawatan Luar Negeri Bukan Sekadar Perjalanan
Hal lain yang sering menjadi sorotan adalah perjalanan luar negeri Presiden di tengah momentum Idul Adha. Sebagian orang melihatnya sekadar sebagai perjalanan elite atau aktivitas yang dianggap tidak perlu. Padahal dalam konteks kepemimpinan negara, diplomasi internasional adalah bagian penting dari perjuangan menjaga kepentingan nasional.
Seorang presiden tidak hanya bekerja di dalam negeri. Ia juga membawa nama Indonesia di hadapan dunia. Pertemuan dengan pemimpin negara lain menyangkut investasi, ketahanan pangan, pertahanan, energi, pendidikan, hingga posisi Indonesia dalam percaturan global.
Di era geopolitik yang penuh ketidakpastian, hubungan internasional menjadi kebutuhan strategis. Dunia sedang menghadapi tantangan besar: konflik kawasan, krisis energi, ancaman pangan, hingga perlambatan ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, diplomasi aktif bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan negara.
Momentum Idul Adha juga dapat menjadi ruang diplomasi budaya dan spiritual. Indonesia dikenal sebagai negara muslim terbesar di dunia yang menjunjung moderasi, toleransi, dan perdamaian. Kehadiran Presiden dalam forum internasional pada masa-masa penting keagamaan dapat memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa besar yang aktif membangun dialog dunia.
Pemimpin Juga Memikul Beban Besar
Sering kali masyarakat melihat hasil, tetapi tidak melihat beban yang dipikul seorang pemimpin negara. Menjadi presiden berarti menghadapi tekanan ekonomi, politik, keamanan, hingga ekspektasi jutaan rakyat secara bersamaan. Tidak semua keputusan akan memuaskan semua pihak.
Karena itu, bangsa yang sehat bukan bangsa yang membungkam kritik, tetapi bangsa yang mampu menyeimbangkan kritik dengan doa, evaluasi dengan harapan, dan pengawasan dengan persatuan.
Mendoakan pemimpin bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Sebaliknya, itu menunjukkan kedewasaan moral bahwa keberhasilan pemimpin akan berdampak pada rakyatnya juga. Ketika negara stabil, ekonomi tumbuh, hubungan internasional baik, dan persatuan terjaga, maka manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Menjaga Ruang Optimisme Bangsa
Indonesia terlalu besar untuk terus dihabiskan dalam pertengkaran tanpa ujung. Media sosial sering menggiring masyarakat pada kebiasaan mencari kesalahan lebih cepat daripada mencari hikmah. Padahal bangsa ini dibangun bukan hanya oleh kritik, tetapi juga oleh semangat gotong royong dan kepercayaan bersama.
Kurban Presiden dan lawatan luar negeri di momentum Idul Adha dapat dilihat sebagai bagian dari dua wajah kepemimpinan sekaligus: kepedulian sosial di dalam negeri dan perjuangan diplomasi di luar negeri. Keduanya bukan hal yang harus dipertentangkan.
Dalam kehidupan berbangsa, kita membutuhkan keseimbangan antara akal sehat dan hati yang lapang. Tidak semua kebijakan harus dipuji, tetapi tidak pula semua langkah harus dicurigai. Ada saatnya bangsa ini memilih untuk melihat sisi positif sebagai energi menjaga persatuan.
Karena pada akhirnya, negeri ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang bekerja, tetapi juga rakyat yang mampu menjaga harapan.
Salam, dan selamat hari kurban.***
Bali – 2026

























