Wartatrans.com, JAKARTA — Ada kegelisahan yang semakin sering muncul ketika melihat wajah pendidikan hari ini. Kemajuan teknologi, capaian akademik, dan perlombaan mengejar angka sering kali membuat kita lupa pada satu hal mendasar: pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia.
Di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi, esensi keinsanan perlahan memudar. Kita menghasilkan generasi yang mungkin cerdas secara teknis, tetapi belum tentu matang secara budi pekerti. Karena itu, pengajaran di tingkat dasar perlu kembali menempatkan seni, olahraga, dan sastra sebagai pilar penting pembentukan karakter.

Seni bukan sekadar pelajaran tambahan. Seni mengasah rasa, menumbuhkan empati, melatih kehalusan budi, dan mengajarkan manusia memahami keindahan sekaligus penderitaan. Melalui seni, anak belajar menjadi manusia yang mampu merasakan.
Olahraga pun demikian. Di dalamnya terdapat nilai sportivitas, disiplin, kerja sama, serta kemampuan menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. Nilai-nilai ini tidak kalah penting dibandingkan kemampuan menghafal rumus atau menjawab soal ujian.
Yang tak kalah mendesak adalah kebiasaan membaca sastra, terutama novel-novel bermutu. Di sejumlah negara maju, karya sastra klasik masih menjadi bacaan wajib siswa sekolah menengah. Di Inggris, misalnya, karya-karya Shakespeare tetap diajarkan lintas generasi. Bukan semata karena nilai kesastraannya, melainkan karena karya-karya tersebut mengajarkan manusia memahami konflik, moralitas, cinta, pengkhianatan, kekuasaan, dan kemanusiaan.
Indonesia pun memiliki khazanah sastra yang kaya. Novel-novel besar seharusnya menjadi bacaan wajib bagi siswa. Salah satu yang layak terus dibaca adalah Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis. Novel ini tidak hanya bercerita tentang harimau yang mengancam sekelompok pencari damar di hutan, tetapi juga mengajak pembacanya menghadapi “harimau” yang bersembunyi di dalam diri sendiri: ketakutan, keserakahan, kemunafikan, dan dosa yang selama ini disembunyikan.
Pesan yang terkandung di dalamnya sederhana namun sangat mendalam: bunuhlah harimau dalam dirimu terlebih dahulu sebelum berusaha menaklukkan harimau di luar sana.
Barangkali inilah yang sedang kita butuhkan saat ini. Pendidikan yang tidak hanya mengajarkan cara mencari nafkah, tetapi juga mengajarkan cara menjadi manusia. Pendidikan yang tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, melainkan melahirkan pribadi yang beradab.
Jika seni, olahraga, dan sastra kembali mendapat tempat yang layak dalam pendidikan, kita mungkin bisa berharap lahir generasi yang lebih peka, lebih jujur, lebih berempati, dan lebih manusiawi.
Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat yang menghisap kemanusiaan sesama layaknya vampir, serta terhindar dari segala bentuk tipu daya yang menyesatkan. Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi dari kualitas manusia yang dihasilkannya.***


























