Catatan tentang pejuang penyiar Proklamasi, diplomat, pecinta seni, dan warisan yang terus hidup dalam ingatan
_____

Wartatrans.com, JAKARTA — Setiap kali bertemu Mas Irawan Ronodipuro, ingatan saya selalu melayang kepada sosok ayahandanya, almarhum Jusuf Ronodipuro. Pejuang sejati yang namanya mungkin tak selalu tercatat tebal dalam buku sejarah, tetapi jejak keberaniannya melekat dalam perjalanan Republik ini.
Kala itu, teks Proklamasi Kemerdekaan belum tersiar ke berbagai penjuru dunia. RRI belum berdiri. Yang ada hanya radio milik Jepang. Di tengah situasi yang serba terbatas dan penuh risiko, Jusuf mendapat kabar dari seorang kawan yang bekerja di radio tersebut bahwa ada sebuah studio yang bisa digunakan untuk siaran.
Ia menerobos masuk. Mengendap laksana ninja. Dengan keberanian yang sulit dibayangkan generasi sekarang, Jusuf membacakan teks Proklamasi kepada dunia. Indonesia yang baru lahir diperkenalkannya kepada bangsa-bangsa lain melalui gelombang udara.
Tak berhenti di situ, ia berusaha mengibarkan Sang Merah Putih di lingkungan Radio Jepang. Akibatnya, tempurung kakinya dihajar hingga pecah. Lehernya nyaris ditebas pedang. Namun semangatnya tak pernah patah.
Mungkin karena kisah-kisah seperti inilah Ibu Sud kemudian menggubah lagu Berkibarlah Benderaku. Sebuah penghormatan bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa demi Merah Putih.
Ajal memang berada di tangan Tuhan. Pak Jusuf Ronodipuro berpulang pada 27 Januari 2008, bertepatan dengan hari wafatnya Presiden Soeharto. Saya masih mengingat suasana ketika melayat ke rumah duka di Jalan Talang Betutu, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah itu terasa lengang. Perhatian bangsa saat itu tertuju ke satu titik: Jalan Cendana.
Di deretan kursi yang banyak kosong, saya hanya bisa melantunkan Al-Fatihah dalam hati berulang kali. Tak lama kemudian, Pak Fauzi Bowo—Gubernur DKI Jakarta kala itu—datang, memanjatkan doa, lalu kembali menuju Cendana.
Bagi saya, Pak Jusuf bukan hanya diplomat hebat yang pernah menjadi duta besar. Ia juga pecinta seni dan musik. Pergaulannya luas, bersahabat dengan banyak maestro Indonesia. Dari kedekatan itu, berbagai karya seni berharga pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
“Lukisan Basuki Abdullah tentang Siekarno kini ada di Hambalang,” kata Mas Iro suatu ketika. Begitulah kami akrab menyapa Irawan Ronodipuro, putra kedua almarhum Pak Jusuf.
Hambalang yang dimaksud tentu kediaman Presiden Prabowo Subianto. Mas Iro memang sudah lama dekat dengan beliau. Loyalitas dan kedekatannya bukan cerita baru. Ia pernah menjadi pembuka jalan diplomasi bagi Prabowo untuk bertemu Barack Obama di Gedung Putih, sekaligus ikut membangun jembatan komunikasi dengan Tiongkok.
Menjelang Pilpres 2019, saya pernah datang dengan sebuah gagasan yang menurut saya menarik: mendatangkan Diego Maradona ke Indonesia. Kebetulan Maradona adalah sahabat Mas Iro. Sayangnya, rencana itu kandas karena sponsor tak kunjung didapatkan. Padahal, bola dummy yang rencananya akan ditendang Maradona sudah kami buat dan hingga kini masih saya simpan sebagai kenangan.
Tak banyak yang tahu, Mas Iro juga pernah menjadi anchor English News Service TVRI. Pembawaannya tenang, artikulasinya jelas, dan wawasan internasionalnya luas.
Setiap bertemu Mas Iro, saya seperti sedang membuka kembali lembaran sejarah yang hidup. Sejarah tentang keberanian seorang ayah yang mempertaruhkan nyawa demi republik, dan tentang seorang anak yang terus menjaga warisan itu dengan caranya sendiri. Sebab, sejarah sesungguhnya tidak hanya tersimpan dalam arsip dan buku-buku, melainkan juga hidup dalam ingatan, persahabatan, dan cerita yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.***
Jakarta – 2026.


























