Menu

Mode Gelap
KAI Wisata Gandeng Jakarta Infrastruktur Propertindo, Hadirkan Integrasi Transportasi Wisata dan Media Iklan Digital Meningkat, Pengguna Commuter Line Jabodetabek Tembus 86,8 Juta pada Triwulan I 2026 Dica Melo Sukses Sebagai Brand Ambassador, Kembali Dikontrak Meinl. Jumat Berkah di Tanjung Priok: Wujud Kepedulian Polri Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat KA Blora Jaya Tumbuh 72,76% pada Triwulan I 2026, Perjalanan yang Menghubungkan Harapan Banyak Masyarakat KAI Kirim 780 Gerbong Datar Produk Dalam Negeri ke Palembang, Perkuat Angkutan Batu Bara dan Logistik Nasional

Uncategorized

Catatan LK Ara: Puisi dan Kesabaran Orang Aceh

badge-check


 Catatan LK Ara: Puisi dan Kesabaran Orang Aceh Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Penyair ternama Aceh – LK Ara, tak pernah henti menuliskan jejak peristiwa. Kehidupan baginya adalah puisi. Kali ini ia mencatat:

PUISI DAN KESABARAN ORANG ACEH

Ketika bencana datang, bahasa sering menjadi yang pertama roboh.

Ia runtuh bersama rumah, jalan, dan penanda hidup yang lain.

Kata-kata kehilangan bentuk, tak lagi sanggup menampung duka.

Di Aceh, bencana pernah menjelma gelombang sunyi—menyapu hampir seluruh wilayah, meninggalkan tanah sebagai halaman luka, dan manusia sebagai penunggu kesabaran.

Pada saat seperti inilah penyair menulis puisi, sebab puisi bukan teriakan, melainkan bisikan yang bertahan.

Penyair menulis puisi tentang bencana karena hatinya diajari mendengar.

Ia mendengar tangis yang tenggelam sebelum sempat menjadi berita,

melihat doa yang hanyut bersama air mata,

dan menyimpan harapan kecil yang tersisa di sela-sela puing.

Aceh dalam puisi bukan peta yang tercabik,

melainkan tubuh yang memar,

ibu yang meratap dalam diam,

dan rumah-rumah yang kehilangan denyut, namun belum kehilangan iman.

 

Bencana menjadikan kesedihan seperti hujan panjang tanpa jeda.

Hari-hari basah oleh sabar.

Melalui puisi, penyair mengumpulkan tetes-tetes duka itu agar tidak menguap menjadi lupa.

Puisi menjadi lentera di tengah gelap—

bukan untuk menerangi segalanya,

cukup untuk menjaga hati agar tidak padam.

Sebab setiap puing menyimpan kisah,

dan setiap sunyi adalah ayat yang menunggu dibaca.

 

Puisi tentang bencana juga cermin bagi manusia.

Ia mengajak kita menatap alam yang murka,

tangan manusia yang kadang lalai,

dan iman yang sedang diuji dengan cara paling sunyi.

Dari tanah Aceh yang terluka, puisi tumbuh seperti rumput di sela batu—

tak gagah, tak angkuh,

namun bersikeras hidup.

Metafora-metafora itu menjadi jembatan antara roboh dan sadar,

antara luka dan tawakal.

 

Pada akhirnya, penyair menulis puisi tentang bencana karena ia percaya kata-kata dapat menjadi penjahit luka.

Puisi adalah doa yang tidak berani keras,

zikir yang berjalan perlahan,

pelukan yang tak terlihat.

Dari bencana yang membekas di hampir seluruh Aceh,

puisi berdiri sebagai tanda kesabaran—

sunyi, sederhana,

dan berserah kepada Yang Maha Menjaga.

 

Doa Penutup

 

Ya Allah,

di tanah yang Kau uji dengan air, tanah, dan kehilangan,

kami belajar menyebut nama-Mu dengan suara yang lebih pelan.

Kuatkanlah kesabaran orang-orang Aceh,

jadikan luka mereka jalan pulang kepada-Mu,

dan jangan Kau biarkan duka ini berubah menjadi putus asa.

 

Terimalah puisi-puisi yang lahir dari air mata

sebagai zikir yang tak pandai berkata keras.

Ampuni kelalaian kami terhadap alam,

lembutkan tangan yang pernah serakah,

dan jernihkan hati yang mudah lupa.

 

Lindungilah yang lemah,

peluklah mereka yang kehilangan,

dan tumbuhkan kembali harapan

seperti rumput yang Kau izinkan hidup

di sela-sela batu.

 

Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Maret 2026, IPC TPK Jambi Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas 22,5 Persen

17 April 2026 - 14:10 WIB

360 PPIH Daker Madinah Siap Sukseskan Haji 2026

17 April 2026 - 12:15 WIB

Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik

17 April 2026 - 11:31 WIB

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Pemulihan Pascabencana Aceh Didorong Terintegrasi, Dana Rp 824,8 Miliar Disiapkan

16 April 2026 - 20:01 WIB

Sinergi TNI–Pemkab Bogor Diperkuat, Pembangunan dan Kamtibmas Jadi Fokus TMMD

16 April 2026 - 18:52 WIB

Tokoh Pemuda Aceh di Jakarta Soroti Lambannya Penanganan Bencana

16 April 2026 - 18:39 WIB

Jalan Rel Bukan Jalan Pintas: KAI Tegaskan Bahaya Fatal dan Ancaman Sanksi Hukum

16 April 2026 - 17:59 WIB

Kajati Sulteng Kunker ke Tolitoli, Resmikan Mess Kejari Hasil Hibah Pemda

16 April 2026 - 16:40 WIB

Trending di RAGAM