Wartatrans.com, SASTRA — Penyair ternama Aceh – LK Ara, tak pernah henti menuliskan jejak peristiwa. Kehidupan baginya adalah puisi. Kali ini ia mencatat:
PUISI DAN KESABARAN ORANG ACEH

Ketika bencana datang, bahasa sering menjadi yang pertama roboh.
Ia runtuh bersama rumah, jalan, dan penanda hidup yang lain.
Kata-kata kehilangan bentuk, tak lagi sanggup menampung duka.
Di Aceh, bencana pernah menjelma gelombang sunyi—menyapu hampir seluruh wilayah, meninggalkan tanah sebagai halaman luka, dan manusia sebagai penunggu kesabaran.
Pada saat seperti inilah penyair menulis puisi, sebab puisi bukan teriakan, melainkan bisikan yang bertahan.
Penyair menulis puisi tentang bencana karena hatinya diajari mendengar.
Ia mendengar tangis yang tenggelam sebelum sempat menjadi berita,
melihat doa yang hanyut bersama air mata,
dan menyimpan harapan kecil yang tersisa di sela-sela puing.
Aceh dalam puisi bukan peta yang tercabik,
melainkan tubuh yang memar,
ibu yang meratap dalam diam,
dan rumah-rumah yang kehilangan denyut, namun belum kehilangan iman.
Bencana menjadikan kesedihan seperti hujan panjang tanpa jeda.
Hari-hari basah oleh sabar.
Melalui puisi, penyair mengumpulkan tetes-tetes duka itu agar tidak menguap menjadi lupa.
Puisi menjadi lentera di tengah gelap—
bukan untuk menerangi segalanya,
cukup untuk menjaga hati agar tidak padam.
Sebab setiap puing menyimpan kisah,
dan setiap sunyi adalah ayat yang menunggu dibaca.
Puisi tentang bencana juga cermin bagi manusia.
Ia mengajak kita menatap alam yang murka,
tangan manusia yang kadang lalai,
dan iman yang sedang diuji dengan cara paling sunyi.
Dari tanah Aceh yang terluka, puisi tumbuh seperti rumput di sela batu—
tak gagah, tak angkuh,
namun bersikeras hidup.
Metafora-metafora itu menjadi jembatan antara roboh dan sadar,
antara luka dan tawakal.
Pada akhirnya, penyair menulis puisi tentang bencana karena ia percaya kata-kata dapat menjadi penjahit luka.
Puisi adalah doa yang tidak berani keras,
zikir yang berjalan perlahan,
pelukan yang tak terlihat.
Dari bencana yang membekas di hampir seluruh Aceh,
puisi berdiri sebagai tanda kesabaran—
sunyi, sederhana,
dan berserah kepada Yang Maha Menjaga.
Doa Penutup
Ya Allah,
di tanah yang Kau uji dengan air, tanah, dan kehilangan,
kami belajar menyebut nama-Mu dengan suara yang lebih pelan.
Kuatkanlah kesabaran orang-orang Aceh,
jadikan luka mereka jalan pulang kepada-Mu,
dan jangan Kau biarkan duka ini berubah menjadi putus asa.
Terimalah puisi-puisi yang lahir dari air mata
sebagai zikir yang tak pandai berkata keras.
Ampuni kelalaian kami terhadap alam,
lembutkan tangan yang pernah serakah,
dan jernihkan hati yang mudah lupa.
Lindungilah yang lemah,
peluklah mereka yang kehilangan,
dan tumbuhkan kembali harapan
seperti rumput yang Kau izinkan hidup
di sela-sela batu.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
























