Wartatrans.com, JAKARTA — Dengan penuh rasa syukur kepada Allah Swt., saya menerima Anugerah Adiluhung ini sebagai amanah, bukan sebagai penanda bahwa perjalanan telah selesai.
Ada beberapa larik yang saya tulis, dan malam ini izinkan saya membacakannya.

Bukan piala
yang membuat puisi hidup.
Puisi
tetap berjalan,
meski penyairnya
tak pernah dipanggil
ke panggung.
Hadirin yang saya muliakan,
Selama puluhan tahun saya hanya berusaha setia kepada puisi. Saya percaya, penyair bukanlah orang yang paling pandai berkata-kata, melainkan orang yang terus belajar mendengarkan suara kemanusiaan, suara kebudayaan, dan suara Tuhannya.
Karena itu, ketika hari ini saya berdiri di hadapan Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, saya teringat kembali larik yang saya tulis.
Yang mereka hormati
bukan diriku,
🤪
melainkan
kesetiaan
untuk terus menulis,
meski dunia
tak selalu sempat
membaca.
Anugerah ini saya persembahkan kepada keluarga, para guru, para sahabat sastra, masyarakat Gayo dan Aceh, serta seluruh pembaca yang telah menemani perjalanan kepenyairan saya.
Saya percaya, penghargaan hanya singgah pada seorang penyair, tetapi sastra harus tetap tinggal di tengah masyarakat sebagai cahaya yang menjaga martabat manusia.
Izinkan saya menutup sambutan ini dengan larik terakhir dari puisi tersebut.
Anugerah ini bukan akhir perjalanan.
Ia hanya sebuah lampu kecil,
agar langkah berikutnya
lebih berhati-hati.
Sebab puisi yang sesungguhnya,
bukan yang dipuji manusia,
melainkan yang tetap diterima
oleh nurani.
Terima kasih kepada lembaga yang telah memberikan kepercayaan ini. Semoga Allah Swt. membimbing kita semua agar tetap berkarya dengan jujur, rendah hati, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.***





























