Menu

Mode Gelap
KAI dan Railfans Berkumpul di Balaiyasa Manggarai dalam Community Gathering 2026 PELNI Logistics Targetkan Bongkar Muat Tumbuh Positif di 2026, Tembus 56.482 TEUs Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja! IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025 Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan Bupati Bogor Tegaskan Pembebasan Lahan Jalur Tambang Masuk APBD 2026

PERISTIWA

Catatan LK Ara Selamat Dari Bencana

badge-check


					Catatan LK Ara Selamat Dari Bencana Perbesar

Wartatrans.com, LINGE  – Kabut pagi menggantung di lembah Linge, menyelimuti pepohonan basah dan bebatuan licin. Usai hujan deras yang memutus jembatan dan menimbun sejumlah badan jalan, penyair senior L.K. Ara tetap melanjutkan agenda kebudayaannya di wilayah tersebut. Ia hadir sebagai tamu undangan Festival Linge ke-2 untuk membacakan puisi dan menjadi juri lomba sastra.

Dalam acara itu, L.K. Ara memukau pengunjung dengan pembacaan puisinya “Syair Riwayat Adi Genali, Raja ke-4”, sebuah karya yang sarat pesan moral bagi masyarakat Linge: agar tetap “juyur, berani, dan memiliki harga diri.” Pembacaan tersebut menggema di aula festival, menggetarkan hati warga dan para peserta lomba.

Selama berada di Linge, L.K. Ara menginap di rumah juru kunci Rumah Adat Gayo, Rumah Pitu Ruang. Malam-malamnya diisi perbincangan mengenai sastra, kehidupan, dan budaya Gayo, menghadirkan suasana hangat di tengah cuaca yang tak bersahabat.

Pada Kamis pagi, rombongan bergerak menuju penyeberangan sungai di Kala Ili. Rakit tak dapat beroperasi akibat arus deras; hanya sling tipis yang tersisa untuk diseberangi. Sebelum menyeberang, Reje Kampung Linge kembali meminta penyair itu membacakan bait-bait “Syair Riwayat Adi Genali”. Suara L.K. Ara kembali menggema di tepian sungai, menguatkan warga bahwa nilai-nilai kejujuran dan keberanian tak boleh luntur meski dihadapkan pada tantangan alam.

Momen menyeberang menjadi sorotan. Langkah demi langkah L.K. Ara di atas sling berlangsung dalam ketegangan, diiringi percikan air dari arus sungai yang mengamuk. Warga menyaksikan dengan napas tertahan hingga penyair berusia lanjut itu tiba dengan selamat di seberang, disambut tepuk tangan hangat.

Perjalanan dilanjutkan menuju Wag, didampingi Rusli—Kepala Sekolah SD setempat—dengan sepeda motor. Jalan licin dan berbatu menuntut konsentrasi tinggi. Ban motor hanya berjarak beberapa jengkal dari tebing curam, medan yang membuat setiap tikungan terasa menegangkan. Namun pemandangan lembah dan hutan pegunungan memberikan ketenangan di tengah risiko perjalanan.

Keesokan harinya, Rusli kembali mengantar L.K. Ara menuju Takengon. Meski jalur masih becek dan berliku, perjalanan berlangsung lebih aman berkat pengalaman sehari sebelumnya serta kepedulian masyarakat setempat.

Bagi warga Linge, perjalanan ini meninggalkan kesan mendalam. Mereka menilai bahwa puisi, budaya, dan semangat kebudayaan tetap hidup, bahkan di tengah medan yang paling sulit. Arus sungai, malam-malam di Rumah Pitu Ruang, hingga jalan-jalan terjal di perbukitan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang mengulang pesan yang selalu disampaikan L.K. Ara dalam karyanya: tetap juyur, berani, dan memiliki harga diri.*** (LK Ara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja!

14 Januari 2026 - 20:52 WIB

IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025

14 Januari 2026 - 20:34 WIB

Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan

14 Januari 2026 - 19:48 WIB

Direktur CV Tanoga Trading Company Salurkan Bantuan dari BFLF untuk Korban Banjir Bandang di Desa Tebuk Aceh Tengah

14 Januari 2026 - 15:41 WIB

Relawan Salurkan Bantuan dan Air Bersih untuk Korban Bencana di Silihnara

14 Januari 2026 - 13:19 WIB

Trending di PERISTIWA