Wartatrans.com, JAKARTA — Selama 62 tahun usia saya, saya belum pernah bertemu dengan Anak Krakatau.
Kami hidup di ruang yang berbeda. Saya lahir dan menua di Jakarta, sementara Anak Krakatau tumbuh di tengah Selat Sunda, di antara laut dan langit, dalam denyut bumi yang tak pernah benar-benar diam.

Tetapi pagi ini, kami seperti dipertemukan oleh sebuah peristiwa. Di jendela kamar, di lengan kursi, bahkan di meja makan, ada debu halus yang misterius. Ia datang tanpa mengetuk pintu. Terbang dibawa angin, menempuh perjalanan berpuluh-puluh bahkan mungkin ratusan kilometer, lalu bertamu ke rumah-rumah manusia.
Ia adalah debu vulkanik. Dan pagi itu, saya merasa Anak Krakatau sedang menyapa. “Jauhnya engkau berjalan menemui kami, wahai debu vulkanik.”
Saya mengusap debu itu dari setiap benda yang disapanya. Dalam hati saya berkata, kalian sampai di sini atas kehendak Yang Memiliki.
Orang-orang mulai mengenakan masker. Media ramai memberitakan. Para ahli menjelaskan kemungkinan-kemungkinan. Masyarakat mulai bertanya, apakah aktivitas gunung akan meningkat, apakah debu akan semakin jauh, dan apa yang harus dilakukan?
Saya justru terdiam. Sebab di balik debu yang begitu halus itu, saya merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar fenomena alam.
Ada pesan. Debu yang Membuat Kita Tersadar. Ketika debu vulkanik menyentuh wajah, dada, jendela dan meja makan, manusia tiba-tiba sadar betapa rapuhnya dirinya.
Kita yang setiap hari sibuk dengan kekuasaan, uang, jabatan, transaksi, kepentingan dan ambisi, mendadak sibuk membicarakan sesuatu yang bahkan ukurannya nyaris tak terlihat oleh mata.
Debu sekecil itu mampu membuat manusia berhenti sejenak. Mengenakan masker. Menutup jendela. Mencari informasi. Bertanya kepada para ahli. Menduga-duga apa yang akan terjadi.
Padahal tidak seorang pun benar-benar tahu secara pasti bagaimana peristiwa alam akan berkembang. Di situlah mungkin letak pesannya.
Saya lahir dan besar di Jakarta, pusat kebijakan nasional, pusat transaksi dunia, sekaligus salah satu barometer berbagai pertarungan kepentingan. Di kota ini, kebaikan dan kejahatan sering berhadapan. Kekuasaan diperebutkan. Strategi disusun. Kepentingan dirawat. Harta ditumpuk.
Namun satu lapis debu vulkanik saja cukup untuk mengingatkan kita bahwa manusia sebenarnya bukan penguasa mutlak atas kehidupan.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri: Masihkah negeri ini akan terus dijadikan ajang perebutan kekuasaan?
Masihkah strategi kotor disusun demi melanggengkan kepentingan sendiri? Masihkah persekongkolan dilakukan untuk menguasai sumber daya?
Masihkah kekayaan ditumpuk di atas penderitaan rakyat yang belum selesai dengan berbagai persoalannya?
Ketika Alam Berbicara
Kita sering merasa memiliki kendali atas segalanya. Kita membangun gedung-gedung tinggi, jalan tol, pusat perdagangan, kawasan industri dan berbagai simbol kemajuan. Kita membuat sistem politik, ekonomi dan pemerintahan. Kita menyusun strategi dan merasa mampu mengatur masa depan.
Tetapi alam hanya perlu mengirimkan debu. Dan manusia langsung gelisah. Bukankah itu cukup untuk membuat kita berpikir?
Bukankah sebuah peristiwa kecil seharusnya menjadi cermin bagi manusia untuk menyadari keterbatasannya?
Kita bahkan sering tidak mampu mengetahui apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Namun dalam urusan kekuasaan, kita bertingkah seolah-olah masa depan sepenuhnya berada di tangan kita.
Padahal ada Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Menentukan segala sesuatu. Dialah Yang berkuasa atas bumi, langit, gunung-gunung dan seluruh semesta.
Jika Dia menghendaki, gunung dapat bergerak. Langit dapat berubah. Laut dapat bergolak. Dan manusia yang merasa begitu besar dapat seketika menyadari betapa kecil dirinya.
Tidakkah manusia mampu memikirkan itu?
Otak yang Mampat
Sayangnya, manusia sering lebih mudah membaca debu daripada membaca pesan.
Otak yang tersumbat oleh kepentingan pribadi kadang seperti got kotor yang mampat. Informasi masuk, tetapi kesadaran tidak mengalir.
Peringatan datang, tetapi manusia hanya sibuk mencari keuntungan. Bencana datang, tetapi setelah bencana berlalu, semuanya kembali seperti semula.
Bahkan dalam situasi tertentu, ketika bencana datang, masih ada manusia yang melakukan ritual-ritual persembahan kepada sesuatu yang diyakininya mampu mengendalikan alam. Seolah-olah manusia lupa bahwa keselamatan dan kehidupan berada dalam kekuasaan Tuhan.
Ironisnya, setelah bencana mereda, manusia kembali kepada kebiasaan lamanya.
Kekuasaan kembali diperebutkan. Kepentingan kembali dimainkan. Harta kembali dikejar. Rakyat kembali menjadi penonton. Dan para pemilik kepentingan kembali tertawa.
Jangan Sampai Pesan Itu Hilang Bersama Debu
Mungkin inilah yang membuat saya merasa bahwa debu Anak Krakatau pagi ini bukan sekadar debu. Ia memang harus dibaca secara ilmiah.
Masyarakat membutuhkan informasi tentang arah angin, kualitas udara, tingkat bahaya, aktivitas vulkanik dan langkah penyelamatan diri. Pemerintah dan para ahli wajib memberikan informasi yang akurat agar masyarakat tidak panik.
Tetapi setelah semua penjelasan teknis itu selesai, bukankah manusia juga perlu membaca pesan yang lebih dalam?
Jangan sampai kita hanya memahami debu sebagai peringatan teknis, tetapi gagal memahami peringatan moral.
Jangan sampai setelah debu hilang, kita kembali lupa.
Jangan sampai ketika Anak Krakatau kembali tenang, manusia kembali merasa menjadi penguasa bumi.
Sebab mungkin saja, melalui peristiwa kecil itu, Tuhan sedang mengetuk kesadaran kita.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Bukan pula untuk mengajak manusia berspekulasi tentang kiamat atau kehancuran.
Tetapi untuk mengingatkan: Kalian ini siapa?
Seberapa besar sebenarnya kekuasaan kalian? Mengapa negeri yang seharusnya kalian rawat justru terus diperebutkan? Mengapa kekuasaan sering lebih penting daripada rakyat?Mengapa kepentingan pribadi lebih kuat daripada kepentingan bangsa?
Dan ketika semuanya berakhir, siapa yang akan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan?
Saya kembali memandang debu di meja makan.
Halus. Hampir tak terlihat. Namun ia telah membuat saya berpikir panjang. Mungkin begitulah cara alam menyapa manusia. Kadang tidak dengan suara keras. Cukup dengan sebutir debu.
Dan barangkali, yang paling berbahaya bukanlah debu yang memenuhi udara, melainkan debu yang memenuhi mata dan hati manusia sehingga ia tidak lagi mampu melihat kebenaran.
Setelah debu hilang dan Anak Krakatau kembali tenang, para perompak oligarki mungkin akan kembali tertawa bersama para pejabat yang kehilangan nurani.
Penjarahan kepentingan mungkin kembali berjalan. Pemerintah yang masih dibebani bayang-bayang kebobrokan masa lalu mungkin kembali sibuk menghadapi berbagai persoalan.
Dan rakyat kembali menunggu. Pertanyaannya sederhana: Apakah kita akan menangkap pesan itu?
Ataukah pesan tersebut akan hilang bersama debu yang pagi ini diterbangkan angin?
Sebab boleh jadi, yang datang dari Anak Krakatau bukan hanya debu. Ada pesan di balik debu.***

























