Wartatrans.com, ACEH — Ia pernah miskin, menang pemilu dengan biaya nyaris tak masuk akal, menjadi advokat, melukis para tokoh Aceh, dan menulis sendiri perjalanan hidupnya. Satu hal yang selalu ingin dijaganya: hidup sebagai pejuang dengan harta yang halal.
Nourman Hidayat sebenarnya orang biasa.

Lahir di Sigli pada 1973, ia bukan anak pejabat dan bukan pula keturunan ulama besar. Ia tumbuh dengan kasih sayang sekaligus kerasnya kehidupan. Nourman bahkan bangga pernah merasakan kemiskinan. Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia lebih mudah memahami orang kecil dan mereka yang mengalami ketidakadilan.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala itu kemudian masuk politik. Meski berasal dari Pidie, Nourman relatif mudah diterima masyarakat Aceh Besar. Ia terpilih dua kali menjadi anggota DPRK Aceh Besar, periode 2004–2009 dan 2009–2014.
Cerita paling unik justru datang dari Pemilu 2009. Nourman mengaku hanya menghabiskan sekitar Rp750 ribu untuk kampanye periode keduanya.
Ia sering bergurau: mungkin itu salah satu biaya kampanye termurah di dunia.
Selepas parlemen, Nourman semakin menekuni profesi advokat. Awalnya ia banyak melayani orang di warung kopi. Seorang dermawan yang melihat aktivitasnya kemudian membantu menyewakan tempat untuk kantor hukum.
Sampai sekarang warung kopi tetap menjadi bagian kehidupannya. Pergaulannya tidak mengenal banyak sekat: advokat, aparat penegak hukum, pejabat, mahasiswa hingga tukang parkir.
Baginya, manusia tidak ditentukan oleh jabatannya.
Dalam bekerja, Nourman lebih menyukai perdamaian. UU Ia membela klien, tetapi berusaha tetap menghormati lawan perkara. Prinsipnya sederhana: membela tidak harus membenci.
Ada sisi lain yang jarang diketahui orang. Nourman juga melukis. Di antara tokoh pertama yang hadir di kanvasnya adalah Tgk. Hasan di Tiro dan Tgk. Abdullah Syafi’i. Setelah itu ia melukis sejumlah ulama Aceh seperti Abu Indrapuri, Abu Krueng Kalee, Abu Tumin dan Abu Mudi.
Seolah melalui kanvas, Nourman ingin mengatakan bahwa penghormatan tidak harus dibatasi oleh kelompok.
Perjalanan itu kemudian ia tuliskan sendiri dalam buku Nourman, Sebuah Autobiografi. Di sana ia bercerita tentang kehidupan, kemiskinan, politik, keluarga, profesi hingga harta.
Ada satu perkara yang dianggapnya sangat penting: halal.
Nourman ingin dapat mempertanggungjawabkan bahwa apa yang ia bawa pulang untuk keluarganya berasal dari jalan yang halal. Baginya, keberhasilan profesi kehilangan makna apabila harus dibayar dengan mengkhianati prinsip.
Itulah pula pesan yang ia sampaikan kepada anak-anaknya:
“Jangan berkhianat. Jadilah pejuang.”
Sahabat-sahabatnya mengenal Nourman sebagai dai sebelum berbagai profesi lain melekat kepadanya. Ia mudah ditemui di warung kopi, tetapi juga mudah ditemui di masjid.
Mungkin karena itu, setelah puluhan tahun bersentuhan dengan politik, perkara dan berbagai kepentingan, ada satu hal yang justru membuat Nourman bingung.
Ia tidak pernah benar-benar tahu siapa musuhnya. Ia merasa telah berusaha berteman dengan banyak orang, mendamaikan mereka yang bertikai, dan memperlakukan orang secara wajar meskipun berbeda pandangan.
Tentu Nourman bukan manusia sempurna. Tetapi ia ingin tetap dikenang secara sederhana: seorang lelaki biasa yang pernah miskin, diberi kepercayaan orang banyak, berusaha menjaga yang halal, dan memilih menjadi pejuang tanpa belajar membenci.*** (Jasa)

























