Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

SENI BUDAYA

Chairil Ramadhan Dorong Spirit “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Kritik Cara Pandang Sempit terhadap Sang Maestro

badge-check


 Chairil Ramadhan Dorong Spirit “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Kritik Cara Pandang Sempit terhadap Sang Maestro Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Budayawan muda Betawi, Chairil Ramadhan, menegaskan bahwa gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki” merupakan konsep orisinal yang lahir dari pemikirannya sendiri. Ia menyampaikan hal tersebut sebagai respons atas munculnya klaim bahwa ide serupa pernah digagas sejumlah tokoh Betawi sebelumnya.

Menurut Chairil, selama berguru dan berinteraksi dengan almarhum Ridwan Saidi, dirinya tidak pernah mendengar adanya konsep tersebut. Karena itu, ia mempertanyakan klaim yang menyebut gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki” pernah diinisiasi oleh tokoh-tokoh terdahulu.

“Dengan kebesaran nama Babeh Ridwan Saidi, bila konsep tersebut pernah ada, mustahil tidak terdengar,” ujar Chairil dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Ia menilai polemik yang muncul justru memperlihatkan persoalan klasik dalam dinamika kebudayaan Betawi. Chairil menyebut masih adanya kecenderungan sebagian kalangan senior yang sulit menerima munculnya gagasan baru dari generasi muda.

“Kalangan tua selalu merasa ‘diliwatin’ bila ada orang yang lebih muda menghasilkan pemikiran. Maka Betawi sulit maju,” katanya.

Chairil juga menyinggung sikap sejumlah pihak yang kini memperdebatkan konsep tersebut, namun sebelumnya tidak terlibat saat dukungan terhadap petisi “Mei Bulan Ismail Marzuki” digalang.

Bagi Chairil, perdebatan itu seharusnya tidak mengaburkan substansi utama, yakni upaya menghadirkan kembali perhatian publik terhadap sosok besar Ismail Marzuki sebagai tokoh seni dan kebudayaan nasional.

Dalam pandangannya, Ismail Marzuki tidak layak dipersempit hanya sebagai simbol etnis Betawi semata. Meski lahir di kawasan Kwitang dan wafat di Kampung Bali, Jakarta, menurut Chairil, karya dan pengaruh Ismail Marzuki telah melampaui batas geografis maupun identitas lokal.

“Nama Ismail Marzuki akhirnya keluar kampung, menyebar ke seantero Nusantara bahkan negara-negara tetangga,” ujarnya.

Karena itu, Chairil mengaku mulai jenuh ketika nama Ismail Marzuki terus-menerus dibingkai secara sempit dalam konteks budaya Betawi. Ia menilai pendekatan demikian justru mereduksi kebesaran seorang komponis nasional.

Pernyataan itu juga berkaitan dengan proyek film biopik tentang Ismail Marzuki yang tengah ia kerjakan. Chairil memastikan film tersebut tidak akan menghadirkan penggambaran stereotipikal tentang masyarakat Betawi.

Ia menolak pendekatan karikatural yang hanya menampilkan gaya humor populer tanpa kedalaman karakter dan konteks sejarah.

“Terkait skenario biopic Ismail Marzuki yang saya kerjakan, jangan berharap nanti yang muncul kehidupan seorang Betawi bergaya bicara si Doel dengan tempelan tokoh-tokoh karikatural,” katanya.

Melalui gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Chairil berharap publik kembali memandang sosok Ismail Marzuki sebagai figur kebudayaan Indonesia yang utuh: seorang seniman besar yang lahir dari tanah Betawi, tetapi karya dan pengaruhnya menjadi milik bangsa.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Maknai Kemerdekaan RI, InJourney Group Hadirkan Kesenian Rakyat

18 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Trending di EKOBIS