Menu

Mode Gelap
BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga InJourney Airports Kebut Persiapan Optimalisasi Bandara Husein Sastranegara Layanan Perdana Umrah di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta Berjalan Lancar

SENI BUDAYA

Chairil Ramadhan Dorong Spirit “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Kritik Cara Pandang Sempit terhadap Sang Maestro

badge-check


 Chairil Ramadhan Dorong Spirit “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Kritik Cara Pandang Sempit terhadap Sang Maestro Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Budayawan muda Betawi, Chairil Ramadhan, menegaskan bahwa gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki” merupakan konsep orisinal yang lahir dari pemikirannya sendiri. Ia menyampaikan hal tersebut sebagai respons atas munculnya klaim bahwa ide serupa pernah digagas sejumlah tokoh Betawi sebelumnya.

Menurut Chairil, selama berguru dan berinteraksi dengan almarhum Ridwan Saidi, dirinya tidak pernah mendengar adanya konsep tersebut. Karena itu, ia mempertanyakan klaim yang menyebut gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki” pernah diinisiasi oleh tokoh-tokoh terdahulu.

“Dengan kebesaran nama Babeh Ridwan Saidi, bila konsep tersebut pernah ada, mustahil tidak terdengar,” ujar Chairil dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Ia menilai polemik yang muncul justru memperlihatkan persoalan klasik dalam dinamika kebudayaan Betawi. Chairil menyebut masih adanya kecenderungan sebagian kalangan senior yang sulit menerima munculnya gagasan baru dari generasi muda.

“Kalangan tua selalu merasa ‘diliwatin’ bila ada orang yang lebih muda menghasilkan pemikiran. Maka Betawi sulit maju,” katanya.

Chairil juga menyinggung sikap sejumlah pihak yang kini memperdebatkan konsep tersebut, namun sebelumnya tidak terlibat saat dukungan terhadap petisi “Mei Bulan Ismail Marzuki” digalang.

Bagi Chairil, perdebatan itu seharusnya tidak mengaburkan substansi utama, yakni upaya menghadirkan kembali perhatian publik terhadap sosok besar Ismail Marzuki sebagai tokoh seni dan kebudayaan nasional.

Dalam pandangannya, Ismail Marzuki tidak layak dipersempit hanya sebagai simbol etnis Betawi semata. Meski lahir di kawasan Kwitang dan wafat di Kampung Bali, Jakarta, menurut Chairil, karya dan pengaruh Ismail Marzuki telah melampaui batas geografis maupun identitas lokal.

“Nama Ismail Marzuki akhirnya keluar kampung, menyebar ke seantero Nusantara bahkan negara-negara tetangga,” ujarnya.

Karena itu, Chairil mengaku mulai jenuh ketika nama Ismail Marzuki terus-menerus dibingkai secara sempit dalam konteks budaya Betawi. Ia menilai pendekatan demikian justru mereduksi kebesaran seorang komponis nasional.

Pernyataan itu juga berkaitan dengan proyek film biopik tentang Ismail Marzuki yang tengah ia kerjakan. Chairil memastikan film tersebut tidak akan menghadirkan penggambaran stereotipikal tentang masyarakat Betawi.

Ia menolak pendekatan karikatural yang hanya menampilkan gaya humor populer tanpa kedalaman karakter dan konteks sejarah.

“Terkait skenario biopic Ismail Marzuki yang saya kerjakan, jangan berharap nanti yang muncul kehidupan seorang Betawi bergaya bicara si Doel dengan tempelan tokoh-tokoh karikatural,” katanya.

Melalui gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Chairil berharap publik kembali memandang sosok Ismail Marzuki sebagai figur kebudayaan Indonesia yang utuh: seorang seniman besar yang lahir dari tanah Betawi, tetapi karya dan pengaruhnya menjadi milik bangsa.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA