Menu ✖

Mode Gelap
Pengawasan Kendaraan ODOL di Pelabuhan Tanjung Perak Diperkuat Anggota DPRD Jawa Barat Prihatin atas Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia Okupansi KA Joglosemarkerto Tembus 256 Persen, Ini 10 KA Jarak Jauh Terpadat Dampak Karhutla pada Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara 15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital KAI Services Hadirkan Warteg on Train di Kereta Batavia, Penumpang Bisa Pilih Menu Rumahan

SENI BUDAYA

Chairil Ramadhan Dorong Spirit “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Kritik Cara Pandang Sempit terhadap Sang Maestro

badge-check


 Chairil Ramadhan Dorong Spirit “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Kritik Cara Pandang Sempit terhadap Sang Maestro Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Budayawan muda Betawi, Chairil Ramadhan, menegaskan bahwa gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki” merupakan konsep orisinal yang lahir dari pemikirannya sendiri. Ia menyampaikan hal tersebut sebagai respons atas munculnya klaim bahwa ide serupa pernah digagas sejumlah tokoh Betawi sebelumnya.

Menurut Chairil, selama berguru dan berinteraksi dengan almarhum Ridwan Saidi, dirinya tidak pernah mendengar adanya konsep tersebut. Karena itu, ia mempertanyakan klaim yang menyebut gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki” pernah diinisiasi oleh tokoh-tokoh terdahulu.

“Dengan kebesaran nama Babeh Ridwan Saidi, bila konsep tersebut pernah ada, mustahil tidak terdengar,” ujar Chairil dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Ia menilai polemik yang muncul justru memperlihatkan persoalan klasik dalam dinamika kebudayaan Betawi. Chairil menyebut masih adanya kecenderungan sebagian kalangan senior yang sulit menerima munculnya gagasan baru dari generasi muda.

“Kalangan tua selalu merasa ‘diliwatin’ bila ada orang yang lebih muda menghasilkan pemikiran. Maka Betawi sulit maju,” katanya.

Chairil juga menyinggung sikap sejumlah pihak yang kini memperdebatkan konsep tersebut, namun sebelumnya tidak terlibat saat dukungan terhadap petisi “Mei Bulan Ismail Marzuki” digalang.

Bagi Chairil, perdebatan itu seharusnya tidak mengaburkan substansi utama, yakni upaya menghadirkan kembali perhatian publik terhadap sosok besar Ismail Marzuki sebagai tokoh seni dan kebudayaan nasional.

Dalam pandangannya, Ismail Marzuki tidak layak dipersempit hanya sebagai simbol etnis Betawi semata. Meski lahir di kawasan Kwitang dan wafat di Kampung Bali, Jakarta, menurut Chairil, karya dan pengaruh Ismail Marzuki telah melampaui batas geografis maupun identitas lokal.

“Nama Ismail Marzuki akhirnya keluar kampung, menyebar ke seantero Nusantara bahkan negara-negara tetangga,” ujarnya.

Karena itu, Chairil mengaku mulai jenuh ketika nama Ismail Marzuki terus-menerus dibingkai secara sempit dalam konteks budaya Betawi. Ia menilai pendekatan demikian justru mereduksi kebesaran seorang komponis nasional.

Pernyataan itu juga berkaitan dengan proyek film biopik tentang Ismail Marzuki yang tengah ia kerjakan. Chairil memastikan film tersebut tidak akan menghadirkan penggambaran stereotipikal tentang masyarakat Betawi.

Ia menolak pendekatan karikatural yang hanya menampilkan gaya humor populer tanpa kedalaman karakter dan konteks sejarah.

“Terkait skenario biopic Ismail Marzuki yang saya kerjakan, jangan berharap nanti yang muncul kehidupan seorang Betawi bergaya bicara si Doel dengan tempelan tokoh-tokoh karikatural,” katanya.

Melalui gagasan “Mei Bulan Ismail Marzuki”, Chairil berharap publik kembali memandang sosok Ismail Marzuki sebagai figur kebudayaan Indonesia yang utuh: seorang seniman besar yang lahir dari tanah Betawi, tetapi karya dan pengaruhnya menjadi milik bangsa.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karena Dianggap Cacat Hukum, Yon Bayu Wahyono Desak Pemilihan Ulang DKJ, DPRD Jakarta Siap Panggil Pihak Terkait

15 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Polemik DKJ Merembet ke DPRD, Tata Kelola Taman Ismail Marzuki Terancam Dievaluasi

15 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Indra Adhari Rilis Surga Cinta Jelang Remake Lagu Dirantai Gelang Rindu dari Exists Band Legendaris Malaysia

15 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Trending di SENI BUDAYA