Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah maraknya film horor di bioskop, rumah produksi ini memilih menghadirkan kisah hangat tentang kehidupan masyarakat sederhana yang sarat makna.
Film yang disutradarai Hanung Bramantyo tersebut dijadwalkan tayang mulai 27 Mei 2026. Mengangkat cerita tentang keluarga kecil di kampung Pulau Jawa era akhir 1980-an, Children Of Heaven menawarkan perpaduan drama emosional dan komedi ringan yang dekat dengan keseharian penonton.

Ketua Umum Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Sutrisno Buyil, menilai film ini tidak hanya menguras emosi, tetapi juga menyajikan hiburan yang ringan lewat kehadiran sejumlah komika.
“Film ini punya keseimbangan antara sedih dan lucu. Penonton diajak ikut merasakan perjuangan keluarga kecil, tapi tetap ada momen-momen yang menghibur,” kata Sutrisno Buyil.
Cerita berpusat pada Ali dan Zahra, kakak beradik yang diperankan Jared Ali dan Humaira Jahra. Keduanya hidup dalam keterbatasan ekonomi bersama orang tua mereka. Konflik mulai muncul ketika sepatu Zahra hilang dan mereka memilih merahasiakannya demi tidak membebani keluarga.
Dari persoalan sederhana itu, cerita berkembang menjadi perjalanan penuh perjuangan, kasih sayang, hingga pengorbanan antar anggota keluarga. Kedekatan emosional Ali dan Zahra menjadi kekuatan utama yang membangun suasana haru sepanjang film.
Selain dua pemeran utama, film ini turut dibintangi Andri Mashadi, Faradina Mufti, Muhadkly Acho, Lolox, dan Dodit. Kehadiran para komika tersebut memberi warna segar di tengah cerita drama yang menyentuh.
Hanung Bramantyo juga berhasil menghadirkan nuansa kampung yang hangat dan sederhana melalui visual yang dekat dengan kehidupan masyarakat kecil. Nilai tentang kejujuran, ketulusan, dan kebersamaan keluarga menjadi pesan utama yang diangkat dalam film ini.
Children Of Heaven versi Indonesia merupakan adaptasi dari film Iran karya Majid Majidi yang dirilis pada 1997. Film orisinalnya mendapat pengakuan dunia setelah masuk nominasi Best Foreign Language Film pada Academy Awards 1998.
Meski diadaptasi dari film legendaris, versi Indonesia ini tetap menghadirkan pendekatan baru dengan sentuhan budaya lokal yang lebih relevan bagi penonton Tanah Air. Kisah perjuangan dua anak kecil di tengah keterbatasan ekonomi pun diharapkan mampu menyentuh hati penonton lintas generasi.*** (Tebe)





























