Menu

Mode Gelap
BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga InJourney Airports Kebut Persiapan Optimalisasi Bandara Husein Sastranegara Layanan Perdana Umrah di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta Berjalan Lancar

SENI BUDAYA

Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik New York

badge-check


 Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik New York Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pianis dan akademisi musik Indonesia, Edy Panjaitan, mendapat kehormatan mempresentasikan penelitian terbarunya mengenai karya piano maestro Indonesia Ananda Sukarlan dalam forum bergengsi American Musicological Society (AMS) Greater New York Chapter di New York University, Amerika Serikat, Sabtu (9/5/2026).

Dr. Edy Panjaitan baru saja meraih gelar Ph.D. dalam bidang Seni Interdisipliner jalur Artist-Scholar dari Ohio University, dengan fokus pada Musikologi/Etnomusikologi dan Piano Performance. Dalam studi doktoralnya, ia mendalami piano di bawah bimbingan Prof. Christopher Fisher dan melakukan penelitian bersama Prof. Garret Field.

Dalam presentasinya di forum internasional tersebut, Edy mengangkat rangkaian karya monumental Rapsodia Nusantara ciptaan Ananda Sukarlan, yang terdiri atas 44 komposisi piano. Menurutnya, karya tersebut merupakan sintesis penting antara idiom musik tradisional Indonesia dan tradisi musik klasik Barat.

“Ananda Sukarlan diakui sebagai salah satu pianis-komposer paling berpengaruh di Indonesia, yang kontribusinya telah membentuk musik klasik kontemporer dan pendidikan musik baik secara nasional maupun internasional,” ujar Edy saat membuka presentasinya.

Ia menilai Rapsodia Nusantara menghadirkan bentuk nasionalisme pianistik yang unik. Melalui pendekatan virtuoso dan desain komposisi yang kompleks, karya itu dinilai berhasil mengangkat repertoar musik Indonesia ke dalam literatur piano klasik global.

“Penelitian ini menyoroti bagaimana unsur-unsur musik tradisional Indonesia ditransformasikan ke dalam kerangka pianistik Barat sehingga membangun identitas musik yang berakar kuat secara budaya namun tetap beresonansi secara global,” paparnya.

Forum AMS sendiri merupakan organisasi musikologi nirlaba yang berdiri sejak 1934 dan kini beranggotakan sekitar 3.000 akademisi dan praktisi musik dari 40 negara.

Nama Ananda Sukarlan turut mendapat perhatian khusus dalam presentasi tersebut. Selain dikenal sebagai komponis dan pianis terkemuka Indonesia, ia pernah masuk dalam daftar “100 Asian Most Influential” versi Tatler Asia. Ananda juga menerima penghargaan sipil tertinggi dari Kerajaan Spanyol, Real Orden de Isabel la Católica, serta gelar kehormatan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia dari Presiden Italia Sergio Mattarella pada 2020.

Tak hanya aktif di dunia piano klasik, Edy Panjaitan juga menaruh perhatian besar pada kajian etnomusikologi Indonesia. Ia pernah menerima Student Enhancement Award untuk melakukan penelitian etnografi mengenai ritual penggalian tulang leluhur masyarakat Batak Toba dengan fokus pada musik gondang sabangunan di kawasan Sianjur Mulamula.

Selain itu, Edy juga memperoleh sertifikat konduktor pascasarjana di bawah bimbingan Profesor Jose Rocha. Ia sebelumnya memperkenalkan album debut bertajuk Odyssey dalam resital piano solo serta menampilkan perdana karya instrumental etnik orisinalnya, Bonapasogit, pada Festival New Music Pellegrini dan International Global Arts Conference and Festival.

Melalui akun Instagram pribadinya, Edy mengaku bangga dapat memperkenalkan karya komponis Indonesia di forum akademik internasional.

“Saya merasa sangat terhormat dan antusias mempresentasikan penelitian terbaru saya tentang keseluruhan 44 karya piano Rapsodia Nusantara, mahakarya monumental maestro Indonesia, Ananda Sukarlan,” tulisnya.

Selain Edy Panjaitan, forum tersebut juga menghadirkan sejumlah intelektual musik internasional, di antaranya Tristan Wilson dari Detroit, Joseph S. Kaminski dari College of Staten Island, Dr. Juliet Pascal Glazer dari Boston College, MyungJin Oh dari Rutgers University, dan Carol Kitzes Baron dari SUNY Stonybrook.***

Kontributor: Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA