Menu ✖

Mode Gelap
Pengawasan Kendaraan ODOL di Pelabuhan Tanjung Perak Diperkuat Anggota DPRD Jawa Barat Prihatin atas Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia Okupansi KA Joglosemarkerto Tembus 256 Persen, Ini 10 KA Jarak Jauh Terpadat Dampak Karhutla pada Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara 15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital KAI Services Hadirkan Warteg on Train di Kereta Batavia, Penumpang Bisa Pilih Menu Rumahan

SENI BUDAYA

Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik New York

badge-check


 Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik New York Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pianis dan akademisi musik Indonesia, Edy Panjaitan, mendapat kehormatan mempresentasikan penelitian terbarunya mengenai karya piano maestro Indonesia Ananda Sukarlan dalam forum bergengsi American Musicological Society (AMS) Greater New York Chapter di New York University, Amerika Serikat, Sabtu (9/5/2026).

Dr. Edy Panjaitan baru saja meraih gelar Ph.D. dalam bidang Seni Interdisipliner jalur Artist-Scholar dari Ohio University, dengan fokus pada Musikologi/Etnomusikologi dan Piano Performance. Dalam studi doktoralnya, ia mendalami piano di bawah bimbingan Prof. Christopher Fisher dan melakukan penelitian bersama Prof. Garret Field.

Dalam presentasinya di forum internasional tersebut, Edy mengangkat rangkaian karya monumental Rapsodia Nusantara ciptaan Ananda Sukarlan, yang terdiri atas 44 komposisi piano. Menurutnya, karya tersebut merupakan sintesis penting antara idiom musik tradisional Indonesia dan tradisi musik klasik Barat.

“Ananda Sukarlan diakui sebagai salah satu pianis-komposer paling berpengaruh di Indonesia, yang kontribusinya telah membentuk musik klasik kontemporer dan pendidikan musik baik secara nasional maupun internasional,” ujar Edy saat membuka presentasinya.

Ia menilai Rapsodia Nusantara menghadirkan bentuk nasionalisme pianistik yang unik. Melalui pendekatan virtuoso dan desain komposisi yang kompleks, karya itu dinilai berhasil mengangkat repertoar musik Indonesia ke dalam literatur piano klasik global.

“Penelitian ini menyoroti bagaimana unsur-unsur musik tradisional Indonesia ditransformasikan ke dalam kerangka pianistik Barat sehingga membangun identitas musik yang berakar kuat secara budaya namun tetap beresonansi secara global,” paparnya.

Forum AMS sendiri merupakan organisasi musikologi nirlaba yang berdiri sejak 1934 dan kini beranggotakan sekitar 3.000 akademisi dan praktisi musik dari 40 negara.

Nama Ananda Sukarlan turut mendapat perhatian khusus dalam presentasi tersebut. Selain dikenal sebagai komponis dan pianis terkemuka Indonesia, ia pernah masuk dalam daftar “100 Asian Most Influential” versi Tatler Asia. Ananda juga menerima penghargaan sipil tertinggi dari Kerajaan Spanyol, Real Orden de Isabel la Católica, serta gelar kehormatan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia dari Presiden Italia Sergio Mattarella pada 2020.

Tak hanya aktif di dunia piano klasik, Edy Panjaitan juga menaruh perhatian besar pada kajian etnomusikologi Indonesia. Ia pernah menerima Student Enhancement Award untuk melakukan penelitian etnografi mengenai ritual penggalian tulang leluhur masyarakat Batak Toba dengan fokus pada musik gondang sabangunan di kawasan Sianjur Mulamula.

Selain itu, Edy juga memperoleh sertifikat konduktor pascasarjana di bawah bimbingan Profesor Jose Rocha. Ia sebelumnya memperkenalkan album debut bertajuk Odyssey dalam resital piano solo serta menampilkan perdana karya instrumental etnik orisinalnya, Bonapasogit, pada Festival New Music Pellegrini dan International Global Arts Conference and Festival.

Melalui akun Instagram pribadinya, Edy mengaku bangga dapat memperkenalkan karya komponis Indonesia di forum akademik internasional.

“Saya merasa sangat terhormat dan antusias mempresentasikan penelitian terbaru saya tentang keseluruhan 44 karya piano Rapsodia Nusantara, mahakarya monumental maestro Indonesia, Ananda Sukarlan,” tulisnya.

Selain Edy Panjaitan, forum tersebut juga menghadirkan sejumlah intelektual musik internasional, di antaranya Tristan Wilson dari Detroit, Joseph S. Kaminski dari College of Staten Island, Dr. Juliet Pascal Glazer dari Boston College, MyungJin Oh dari Rutgers University, dan Carol Kitzes Baron dari SUNY Stonybrook.***

Kontributor: Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karena Dianggap Cacat Hukum, Yon Bayu Wahyono Desak Pemilihan Ulang DKJ, DPRD Jakarta Siap Panggil Pihak Terkait

15 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Polemik DKJ Merembet ke DPRD, Tata Kelola Taman Ismail Marzuki Terancam Dievaluasi

15 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Indra Adhari Rilis Surga Cinta Jelang Remake Lagu Dirantai Gelang Rindu dari Exists Band Legendaris Malaysia

15 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Trending di SENI BUDAYA