Menu ✖

Mode Gelap
Pabrik Sabu di Pidie Diduga Dikendalikan Jaringan Luar Daerah, Ustaz Ajak Masyarakat Lebih Waspada Dirantai Digelang Rindu Dipopulerkan Exists Band Legendaris Malaysia, Kini Diremake Indra Adhari Cut Tari Bikin Konflik Makin Panas, Rahasia Masa Lalu Terkuak di Sinetron Wajah Cinta Yang Lain Film Banyak Anak Banyak Rejeki Siap Tayang Januari 2027 Lima Tahun Jaga Konsistensi, FIFGROUP Raih The Finance Golden Star Award 2026 Belum Tayang di Bioskop, Fadli Fuad Siapkan Sekuel Film Sumur Jiwo 1977

BANDARA

Dampak Abu Anak Krakatau Tak Hilang Seketika, Ikatan Pilot Jelaskan Risiko Penerbangan

badge-check


 Dampak Abu Anak Krakatau Tak Hilang Seketika, Ikatan Pilot Jelaskan Risiko Penerbangan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga Ahad (6/9/2026) pukul 10.35 WIB masih terus terjadi.

Enam bandara ditutup sementara, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara Bandung, Radin Inten II Lampung, Budiarto Curug, dan Bandara Pondok Cabe.

Ini menunjukkan gangguan penerbangan tidak otomatis berakhir ketika aktivitas erupsi berubah atau mereda.

Abu vulkanik juga tidak memiliki batas waktu tunggal untuk dinyatakan hilang. Partikel di atmosfer dapat terbawa angin, sementara abu yang mengendap di runway dapat kembali beterbangan dan membutuhkan pembersihan sebelum operasi dipulihkan.

United States Geological Survey (USGS) menjelaskan, abu vulkanik merupakan ancaman serius bagi penerbangan dan operasi bandara.

Akumulasi abu beberapa milimeter di landasan dapat memaksa penutupan, sementara pemulihan membutuhkan pembersihan abu dari fasilitas dan area operasi.

Ikatan Pilot Indonesia (IPI) menegaskan risiko tidak berhenti ketika pesawat keluar dari awan abu.

“Partikel yang keras dan abrasif dapat mengganggu mesin, sistem pitot-static, kaca kokpit, ventilasi dan pressurization, sehingga pesawat yang dicurigai mengalami ash encounter tetap memerlukan evaluasi sesuai prosedur operator,” jelas Capt. Muammar Reza Nugraha.

IPI juga menekankan keselamatan penerbangan harus bekerja sebelum pesawat berhadapan dengan bahaya.

Karena abu tidak selalu terlihat, keputusan operasi perlu mengacu pada informasi vulkanologi, meteorologi, peringatan penerbangan, laporan pilot dan penilaian risiko, bukan semata pengamatan visual.

Hal itu terlihat juga dari pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Plt.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan sebaran abu bergerak pada dua lapisan ketinggian.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.

BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pergerakan tersebut membuat risiko penerbangan mengikuti dinamika atmosfer, sehingga kondisi ruang udara harus terus dipantau. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

AirNav Bersama Malaysia Perkuat Koordinasi Pelayanan Navigasi Penerbangan

23 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Indonesia AirAsia Dukung Kebijakan Pemerintah, Libur Nataru Harga Tiket Domestik Turun Mulai dari 12%

23 Oktober 2026 - 12:13 WIB

Asap Karhutla Meluas hingga NTT, Pengguna Jasa Agar Cek Status Penerbangan

23 Oktober 2026 - 08:03 WIB

TNI AU Uji Pendaratan Pesawat Tempur di Tol Paspro

23 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Kemenpar: Penerbangan Shenzhen–Jakarta Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Tiongkok

22 Oktober 2026 - 10:54 WIB

Kemenhub dan TNI AD Kerja Sama Pemanfaatan Aset Negara di Bandara Kalimarau

21 Oktober 2026 - 18:20 WIB

AirNav Tegaskan Komitmen Penguatan Layanan Navigasi Penerbangan

20 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Dampak Karhutla Ganggu 2.604 Penerbangan, Kemenhub Perkuat Mitigasi dan Pengawasan Keselamatan

20 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Dampak Karhutla pada Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara

18 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Gandeng EIGER, Garuda Daur Ulang Pelampung dan Pelapis Kursi Pesawat jadi Koleksi Menarik

17 Oktober 2026 - 18:16 WIB

Trending di EKOBIS