Wartatrans.com, JAKARTA – Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026 resmi dibuka 11 Juni di JIExpo Kemayoran untuk memeriahkan HUT ke-499 Kota Jakarta. Di balik gemerlap promo, kuliner, dan konser, PRJ menyimpan jejak panjang dari Monas ke Kemayoran, sekaligus menjadi barometer ekonomi rakyat dan UMKM nasional.
Gagasan pameran besar dicetuskan Gubernur DKI Ali Sadikin akhir 1960-an. Saat Jakarta tumbuh cepat, ia ingin ruang yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan warga, sekaligus memajukan produk dalam negeri. Ide itu lahir sebagai Djakarta Fair pertama 5 Juni 1968 di kawasan Monas, dibuka simbolis Presiden Soeharto lewat pelepasan burung merpati pos. Antusiasme publik meledak: edisi perdana menarik 1,4 juta pengunjung, angka fantastis untuk ukuran waktu itu. Konsepnya meniru Pasar Gambir, pasar malam Batavia yang jadi pusat seni, budaya, dan hiburan rakyat.

Setahun kemudian, PRJ edisi kedua justru berlangsung 71 hari, jauh melampaui durasi normal 30-35 hari. Pameran ini menarik perhatian internasional, termasuk kunjungan Presiden AS Richard Nixon saat bertamu ke Indonesia.
Seiring waktu, Djakarta Fair berubah nama menjadi Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ), tapi semangatnya tetap: pesta rakyat sekaligus etalase perkembangan industri Indonesia. Selama dua dekade Monas jadi rumah PRJ, namun jumlah peserta dan pengunjung terus membesar. Titik balik terjadi 1992 ketika lokasi dipindah ke Jakarta International Expo Kemayoran, bekas Bandara Kemayoran. Luas area melonjak dari 7 hektare menjadi 44 hektare. Pengelola pun beralih dari Yayasan Penyelenggara Pameran ke PT Jakarta International Tradefair Corporation (JITC).
Memasuki 2000-an, modernisasi mengubah wajah PRJ. Tiket elektronik, promosi berbasis media sosial, dan aplikasi seluler memudahkan akses informasi. PRJ tidak lagi sekadar pameran produk unggulan dalam negeri. Ia berkembang menjadi destinasi hiburan keluarga: wahana permainan, parade budaya, festival kuliner Nusantara, hingga konser musisi dalam dan luar negeri yang selalu padat penonton.
Angka transaksi menegaskan peran PRJ bagi ekonomi. Jakarta Fair 2019 membukukan Rp7,5 triliun dari 6,8 juta pengunjung selama 40 hari, diikuti 2.700 perusahaan dengan 1.500 stan dari korporasi besar hingga UMKM. Setelah vakum pandemi, PRJ 2022 hadir kembali sebagai penopang pemulihan. Gubernur Anies Baswedan saat itu menekankan pentingnya peran PRJ membangkitkan ekonomi, dengan 103 booth OPD, BUMD, dan UMKM di anjungan Pemprov DKI.
Tren positif berlanjut. PRJ 2023 mencatat Rp7,3 triliun dengan 6,3 juta pengunjung. Dinas PPKUKM DKI menyebut rebound ini bukti antusiasme masyarakat dan pelaku usaha. PRJ 2024 kembali menembus Rp7,5 triliun, tetap 6,3 juta pengunjung dalam 33 hari. Sekda DKI Joko Agus Setyono mengapresiasi dukungan JIExpo, pelaku usaha, dan warga.
PRJ 2025 mencatat Rp7,3 triliun dari 5,9 juta pengunjung selama 25 hari. Panitia menyebut durasi lebih pendek 7 hari dari 2024 sebagai penyebab penurunan, namun lebih 1.500 stan tetap ikut, melibatkan ratusan UMKM dan sektor industri se-Indonesia.
Dari Monas ke Kemayoran, dari 1,4 juta ke hampir 7 juta pengunjung, PRJ menjelma ikon Jakarta. Ia bukan hanya pameran, tapi cermin pertumbuhan ekonomi dan identitas ibu kota yang tiap Juni selalu dirindukan.*** (Artha Tidar)






























