Wartatrans.com, TANGERANG – AirNav Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional dengan sukses menjadi tuan rumah sekaligus memimpin pertemuan perdana First Meeting of the APAC Project 30/10 Task Force (AP30-10/TF/1) yang digelar International Civil Aviation Organization (ICAO) Asia Pacific Office di Tangerang, Banten, 16–18 Juni 2026.
Forum strategis yang dihadiri 61 delegasi dari 18 negara tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam pengembangan sistem navigasi penerbangan kawasan Asia Pasifik.

Keberhasilan AirNav Indonesia dalam memfasilitasi jalannya forum pun mendapat apresiasi dari para peserta dan organisasi penerbangan internasional.
Direktur Operasi AirNav Indonesia yang juga menjabat sebagai Chairperson APAC Project 30/10 Task Force, Setio Anggoro, mengatakan, kepercayaan yang diberikan ICAO merupakan pengakuan atas peran aktif Indonesia dalam mendukung transformasi navigasi penerbangan regional.
“Kepercayaan ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi AirNav untuk terus memperkuat kolaborasi internasional dan mendukung layanan navigasi penerbangan yang aman, efisien, dan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik,” ungkap Setio.
Dalam forum tersebut, para pemangku kepentingan penerbangan dari berbagai negara membahas langkah-langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lalu lintas udara, di tengah proyeksi pertumbuhan penerbangan yang terus meningkat di kawasan Asia Pasifik.
Project 30/10 kata dia, merupakan inisiatif global ICAO yang bertujuan meningkatkan kapasitas ruang udara melalui pengurangan standar separasi antarpesawat menjadi 30 nautical miles (NM) di wilayah oceanic dan remote airspace, serta 10 NM di ruang udara yang telah didukung teknologi surveillance, tanpa mengurangi aspek keselamatan penerbangan.
Implementasi konsep ini diyakini mampu meningkatkan kapasitas ruang udara, memperpendek rute penerbangan, menghemat konsumsi bahan bakar, menekan emisi karbon, sekaligus mendukung pertumbuhan industri penerbangan yang lebih ramah lingkungan.
“Asia Pasifik memiliki karakteristik ruang udara dan tingkat kesiapan teknologi yang beragam. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci agar implementasi Project 30/10 dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi seluruh negara di kawasan,” ungkap Setio.
Indonesia Tunjukkan Kemajuan Implementasi
Pertemuan perdana AP30-10 Task Force dihadiri regulator penerbangan, penyelenggara layanan navigasi penerbangan (ANSP), serta para pakar manajemen lalu lintas udara dari berbagai negara.
Selain ICAO, forum ini juga melibatkan perwakilan International Air Transport Association (IATA) dan International Federation of Air Traffic Controllers’ Associations (IFATCA).
Dalam sesi pembahasan, para delegasi menyusun mekanisme implementasi regional guna mempercepat penerapan rekomendasi ICAO di negara-negara anggota.
Diskusi difokuskan pada berbagai isu teknis, mulai dari kesiapan teknologi, prosedur operasional, hingga koordinasi lintas batas negara.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat sorotan positif atas kemajuan implementasi konsep separasi yang lebih optimal.
Di Makassar FIR, pengembangan dilakukan melalui kerja sama operasional dengan FIR Papua Nugini dan Australia serta uji coba bersama FIR Manila.
Sementara di Jakarta FIR, implementasi terus diperluas untuk mendukung optimalisasi layanan penerbangan domestik maupun internasional.
Dapat Apresiasi dari Negara Anggota
Kepemimpinan AirNav Indonesia dalam memfasilitasi forum ini juga mendapat apresiasi dari sejumlah delegasi negara anggota.
Perwakilan Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM), Nur A’fifah Binti Mansor, menyampaikan dukungannya terhadap peran Indonesia dalam memimpin APAC Project 30/10 Task Force.
“Malaysia sejak awal mendukung penuh AirNav untuk memimpin APAC Project 30/10 Task Force. Kami mengapresiasi AirNav Indonesia sebagai tuan rumah forum ini. Alhamdulillah, forum berjalan lancar dan sukses dari awal hingga akhir,” ujar Nur.
Keberhasilan forum ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam pengelolaan navigasi penerbangan kawasan Asia Pasifik.
“Kepercayaan ICAO kepada AirNav untuk memimpin task force regional tersebut sekaligus menjadi bukti pengakuan internasional terhadap kapabilitas Indonesia dalam menghadirkan sistem navigasi penerbangan yang modern, aman, dan berkelanjutan,” tutup Setio. (omy)
































