Menu

Mode Gelap
Nina Septiana Nugroho, Konsisten Dukung FORWAN Optimalisasi Layanan Pelabuhan, Kemenhub Hibahkan Aset BMN ke Pemkab Mamuju KAI Daop 1 Jakarta Tambah Perjalanan KA, Akses ke Yogyakarta, Solo, Cilacap, dan Bandung Semakin Fleksibel Aceh Dihadapkan Dua Krisis: Banjir Meluas dan Sorotan Pelanggaran Moral di Media Sosial Ini Respon Kemenhub Terkait Info Rencana Pemberian Akses Overflight Pesawat Militer Asing  PTP Nonpetikemas Perkuat Layanan Bongkar Muat Bijih Timah di Tanjung Pandan

RAGAM

Di Antara Langit dan Lumpur: Aceh Menjaga Anak-Anaknya di Jalan Iman

badge-check


 Di Antara Langit dan Lumpur: Aceh Menjaga Anak-Anaknya di Jalan Iman Perbesar

23 Rajab 1447 Hijriah | 12 Januari 2026

Empat hari menuju Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

________________

Wartatrans.com, KOLOM — Pagi di Aceh hari ini tidak sepenuhnya datang. Ia tertahan di kabut tipis yang menggantung di atas tanah basah, seolah enggan benar-benar membuka mata. Di banyak gampong, yang tersisa dari pagi hanyalah suara langkah pelan di lumpur, bunyi kayu retak yang diinjak, dan tarikan napas panjang orang-orang yang masih mencoba memahami apa yang telah hilang.

Rumah-rumah tidak hanya rusak. Sebagian hancur hingga tak lagi dapat disebut rumah. Dinding roboh, atap terlipat, lantai terangkat. Ada rumah yang terbelah dua. Ada yang terseret puluhan meter. Ada yang lenyap sepenuhnya, seakan tak pernah berdiri di sana. Di tempat-tempat itu, ibu-ibu berdiri lama, memandangi tanah kosong, sambil mengingat di mana anak mereka biasa tidur, di mana suara tawa pernah mengisi sore.

Di halaman yang dulu menjadi tempat kenduri kecil dan permainan anak-anak, kini tergeletak gelondongan kayu besar.
Kayu-kayu dari hulu datang bersama arus yang tak memberi waktu untuk menyelamatkan apa pun. Kayu itu menghantam kandang, merobohkan tiang, memecahkan dinding, dan berhenti tepat di tengah kampung, seperti benda asing yang tidak pernah diundang, tetapi kini harus diterima.

Kandang-kandang tidak hanya kosong.
Ia hancur. Papan patah. Tiang tercabut. Atap roboh. Ayam-ayam yang biasanya berlarian di pagi hari hanyut dan mati. Suara yang biasa membangunkan kampung hilang tanpa pamit. Kambing dan lembu, yang selama ini menjadi tabungan hidup, ada yang terseret arus, ada yang mati terjebak lumpur, ada yang tidak pernah ditemukan. Di Aceh, kehilangan ternak adalah kehilangan masa depan. Ia adalah hilangnya rencana sekolah anak, hilangnya harapan saat sakit, hilangnya sandaran hidup.

Seorang anak berdiri di depan kandang yang runtuh. Tangannya kecil, memegang papan patah. Ia bertanya pelan kepada ibunya, “Ayam kita ke mana?”

Ibunya tidak menjawab. Ia menunduk lama. Tidak ada kata yang cukup aman untuk menjelaskan kematian kepada anak yang belum mengerti kehilangan.

Sawah-sawah belum kembali menjadi sawah. Lumpur menutup tanah subur. Pematang hilang. Air menggenang tanpa arah. Petani berdiri di tepi ladang mereka dengan mata kosong. Mereka tahu, menanam sekarang berarti mengubur benih. Maka mereka menunggu, sambil menghitung hari, sambil menyimpan cemas yang tidak pernah benar-benar pergi.

Di perbukitan, kebun kopi Aceh yang dirawat bertahun-tahun hancur.
Pohon muda tercabut. Batang tua patah. Jalan produksi terputus. Bagi banyak keluarga, kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah identitas. Ia adalah cara orang tua membiayai sekolah anak tanpa berhutang. Ketika kebun kopi hilang, masa depan ikut tergelincir.

Di pesisir, usaha garam rakyat berhenti.
Tambak tertutup lumpur. Garam tidak lagi mengkristal. Perempuan-perempuan yang biasanya menjemur hasil kerja mereka kini hanya membersihkan sisa-sisa banjir, sambil bertanya dalam hati, kapan bisa mulai lagi.

Tambak ikan dan udang jebol. Ikan mati. Udang hanyut. Modal hilang. Hutang tersisa. UMKM lumpuh hampir tanpa suara. Warung kecil kehilangan stok. Alat rusak. Pasar sepi. Kehidupan berhenti bukan karena kehabisan tenaga, tetapi karena tidak ada pijakan untuk berdiri.

Jembatan-jembatan belum tersambung.
Beberapa kampung masih terpisah. Sebagian dusun belum menikmati listrik. Malam datang lebih panjang. Anak-anak tidur lebih cepat bukan karena lelah, tetapi karena gelap tidak memberi pilihan lain.

Korban meninggal tidak sedikit. Sebagian telah dimakamkan. Tetapi ada yang hingga hari ini belum ditemukan. Nama-nama mereka hidup dalam doa-doa yang diucapkan lirih. Di Aceh, duka tidak selalu berteriak. Ia sering diam, menetap, dan tumbuh di dada. Anak-anak dan balita adalah wajah paling rapuh dari semua ini.

Tubuh mereka kecil, tetapi memikul trauma yang besar. Ada yang terbangun di malam hari karena mimpi air. Ada yang menangis setiap hujan turun. Ada yang sakit berkali-kali, belum sembuh, lalu jatuh sakit lagi. Batuk panjang, demam, diare, penyakit kulit. Ibu-ibu berjaga hampir tanpa tidur, memeluk anak yang panas, menyuapi obat, menahan rasa takut agar tidak jatuh di depan mata kecil yang sedang belajar memahami dunia.

Di sinilah perempuan Aceh berdiri. Sebagai penyangga terakhir kehidupan. Mereka membersihkan lumpur, mengurus yang sakit, mengantre bantuan, menenangkan anak-anak, dan tetap memasak meski dapur hanya tersisa tungku sederhana. Mereka tidak menyebut diri mereka kuat. Mereka hanya berkata, “Anak-anak tidak boleh patah.”

Hari ini 23 Rajab 1447 Hijriah. Empat hari lagi Isra Mi’raj akan diperingati. Kisah tentang perjalanan Nabi dari bumi menuju langit. Tentang Shalat yang diturunkan bukan di saat umat kuat, tetapi di saat Nabi berada dalam kesedihan terdalam.

Tahun ini, kisah itu diceritakan di tempat yang berbeda. Di rumah darurat. Di meunasah yang dindingnya retak. Di ruang tanpa listrik. Dengan lampu minyak. Dengan suara pelan agar anak-anak merasa aman. Isra Mi’raj tidak lagi sekadar kisah langit, tetapi kisah tentang bertahan di bumi yang terluka.

Shalat ditegakkan di antara lumpur dan kehancuran. Di sajadah yang dijemur bersama lumpur kering. Di situlah perempuan Aceh menitipkan tangis agar tidak jatuh di pangkuan anak-anak.

Rajab berlalu. Aceh memasuki Sya’ban. Menjelang Nisfu Sya’ban, doa-doa dipanjatkan bukan untuk kemewahan, tetapi untuk kesehatan anak-anak, untuk kekuatan bangkit, untuk rezeki yang tidak memalukan. Meugang akan datang. Mungkin tanpa ayam, tanpa kambing, tanpa lembu. Tetapi perempuan Aceh tetap memasak. Karena anak-anak harus belajar bahwa hidup tidak berhenti hanya karena duka.

Aceh tahu, tidak mungkin selamanya berharap pada bantuan. Sejarah Aceh telah membuktikan itu. Setelah perang, Aceh bangkit. Setelah tsunami, Aceh bangkit. Bukan karena tidak hancur, tetapi karena memilih untuk berdiri kembali, meski dengan lutut gemetar.

Puasa akan datang. Ia akan datang ke rumah yang belum utuh, ke kampung yang belum tersambung, ke tubuh kecil yang masih lemah. Di sinilah puasa menemukan maknanya yang paling jujur: menahan putus asa, berbagi meski sedikit, dan menjaga martabat hidup.

Aceh hari ini berdiri di antara langit dan lumpur. Langit memanggil melalui Isra Mi’raj, Sya’ban, dan puasa. Lumpur masih menahan langkah. Tetapi Aceh telah berkali-kali membuktikan, iman tidak pernah tenggelam bersama banjir.
Dan kelak, yang akan dikenang bukan hanya kehancuran. Tetapi bagaimana ibu-ibu Aceh menjaga anak-anaknya tetap percaya pada langit, ketika bumi di bawah kaki mereka runtuh.

Di sanalah, Aceh sedang menulis dirinya kembali. Dengan luka yang diterima sebagai jalan ujian. Dengan iman yang dijaga dalam adat, zikir, dan kesabaran. Dengan keberanian yang tumbuh dari kesetiaan panjang pada marwah, tanah, dan amanah sejarah, kepada anak-anaknya, bangsanya, darahnya, tanahnya, dan terutama kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW.

Wallāhu a‘lam bis ṣawāb.***

Nyakman Lamjame

Meurak Jeumpa Institut
Aceh – Sumatra. Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aceh Dihadapkan Dua Krisis: Banjir Meluas dan Sorotan Pelanggaran Moral di Media Sosial

13 April 2026 - 19:00 WIB

Efisiensi Anggaran, Pemkot Depok Alihkan Insentif Bimroh ke Guru Ngaji

13 April 2026 - 17:02 WIB

Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi

13 April 2026 - 09:33 WIB

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Trending di ANJUNGAN