Menu

Mode Gelap
Eks Bassist Zivilia Gabung The Orion, Formasi Baru Siap Tancap Gas dengan Tiga Single Bupati Banggai Mangkir Lagi, PTUN Palu Siapkan Tahapan Eksekusi 6 Kades KGP Menyusuri Pelosok Gayo, dari Pipa Air hingga Seragam Pramuka Pelaku Usaha Makin Selektif Pilih Mal MK Pulihkan Aturan Anti-Evergreening, Batasi Celah Perpanjangan Paten Obat Stasiun Karet Ditutup Mulai 1 September, Penumpang KRL Dialihkan ke BNI City

RAGAM

Diduga Shadowban, Unggahan Banjir di Wilayah Aceh Anjlok Interaksinya

badge-check


 Diduga Shadowban, Unggahan Banjir di Wilayah Aceh Anjlok Interaksinya Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Sejumlah akun media sosial yang aktif mempublikasikan kondisi banjir dan wilayah terisolir di kawasan Aceh diduga mengalami pembatasan jangkauan atau shadowban. Dugaan ini mencuat setelah terjadi penurunan drastis interaksi pada unggahan yang sebelumnya sempat viral.

Dugaan tersebut disampaikan Relawan Pemuda Gayo, Satria Darmawan. Ia menyebut, penurunan jumlah tayangan, komentar, dan like mulai dirasakan sekitar hari kelima pascabencana, meski sejak hari pertama relawan secara konsisten mengunggah kondisi lapangan.

“Awalnya kami sempat viral, lalu jumlah like menurun drastis, komentar juga. Kami curiga ada shadowban, tapi tidak tahu siapa otoritasnya,” ujar Satria, Senin.

Akun-akun yang diduga terdampak antara lain Explore Gayo, Gayo Today, Kebergayo, serta beberapa akun lain dengan jumlah pengikut cukup besar. Menurut Satria, fenomena serupa juga dialami sejumlah influencer dan media nasional yang mengangkat isu banjir Aceh.

“Banyak postingan tentang banjir Aceh itu di-takedown, di akun-akun besar juga,” katanya.

Sejak hari pertama bencana, para relawan berupaya mengabarkan kondisi lapangan dari wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues yang terisolasi akibat putusnya akses jalan, padamnya listrik, serta lumpuhnya jaringan komunikasi.

“Wilayah tengah itu terisolir, tidak ada jaringan internet, listrik mati. Walaupun sulit, kami tetap berusaha menginformasikan kondisi lapangan yang sebenar-benarnya, karena kondisinya sangat menyedihkan dan masyarakat butuh bantuan segera,” ujar Satria.

Ia menambahkan, permintaan bantuan udara sudah disampaikan sejak hari kedua bencana, mengingat relawan menyadari pemulihan akses darat akan membutuhkan waktu lama.

“Di hari kedua itu kami sudah minta helikopter, karena kami tahu pemulihannya tidak bisa cepat,” ucapnya.

Namun, bantuan yang datang dinilai masih sangat terbatas. Menurut Satria, meski titik koordinat dan data lapangan telah dikirim sejak awal, bantuan udara baru tiba pada hari kelima dengan muatan minim.

“Helikopter datang cuma membawa dua unit Starlink, dua jerigen minyak, dan lima genset,” katanya.

Para relawan berharap informasi mengenai kondisi riil di wilayah tengah Aceh dapat terus tersebar luas agar penanganan bencana dan distribusi bantuan dapat dilakukan secara lebih cepat dan memadai.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bupati Banggai Mangkir Lagi, PTUN Palu Siapkan Tahapan Eksekusi 6 Kades

1 September 2026 - 09:26 WIB

KGP Menyusuri Pelosok Gayo, dari Pipa Air hingga Seragam Pramuka

1 September 2026 - 09:05 WIB

TPK Koja Pastikan Kelancaran Operasional dan Pelayanan Terminal Tetap Terjaga

31 Agustus 2026 - 21:27 WIB

13 Hari Hilang di Laut, Awak KM El Malika Ditemukan Selamat di Palau

31 Agustus 2026 - 20:00 WIB

Pelindo, KSOP, dan Pelni Kolaborasi Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di NTT

31 Agustus 2026 - 17:48 WIB

FIFGROUP Raih Indonesia Best Multifinance Awards 2026

31 Agustus 2026 - 17:41 WIB

Pelindo Regional 2 Bersama BNN Jakarta Utara Dorong Pelajar SMAN 80 Jakarta Jadi Generasi Bersih Narkoba

31 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Uji Coba Optimalisasi EAZI di TPK Berlian Berhasil Pangkas Waktu Pergantian Kapal Menjadi 29 Menit

31 Agustus 2026 - 17:31 WIB

Gandeng Berbagai Pihak, PSM Dorong Pemulihan dan Kebangkitan Pascabencana NTT

31 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Program IPCC GEMBIRA Beri Dampak Nyata, IPCC Raih InvestorTrust CSR Awards 2026

31 Agustus 2026 - 10:24 WIB

Trending di NASIONAL