Menu

Mode Gelap
Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi Polrestabes Semarang Mengadakan E-Sport Cup 2026, Sebuah Inovasi Pembinaan Generasi Muda Final Four Proliga 2026 Belum Usai Tapi Tim Ini Sudah Mendapat Tiket Grand Final  Angkutan Barang KAI Daop 7 Madiun Tumbuh 5,2 Persen pada Triwulan I 2026, On Time Performance 99.20 Capai Persen Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat Pelayanan & Pengamanan Penumpang Kapal Kepulauan Seribu di Dermaga Muara Angke

PERISTIWA

Dinkes Aceh Tempuh Jalur Ekstrem Demi Keselamatan Warga Terdampak Bencana

badge-check


 Dinkes Aceh Tempuh Jalur Ekstrem Demi Keselamatan Warga Terdampak Bencana Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON — Dinas Kesehatan Aceh menempuh jalur ekstrem demi memastikan pelayanan kesehatan tetap menjangkau masyarakat terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah. Medan berat, akses terbatas, hingga cuaca tak menentu tak menyurutkan langkah tim medis yang turun langsung ke lokasi pengungsian.

Untuk misi kemanusiaan tersebut, Dinkes Aceh membentuk Emergency Medical Team (EMT) yang terdiri dari lintas profesi, di antaranya dokter umum, dokter spesialis gigi forensik, dokter spesialis THT, dokter spesialis keluarga dan layanan primer , bidan, perawat, psikolog, tenaga farmasi, serta sanitarian.

Kegiatan pelayanan kesehatan ini berlangsung selama tujuh hari, mulai 16 hingga 22 Januari 2026, dengan mengerahkan empat tim EMT khusus untuk wilayah Aceh Tengah.

Adapun tugas utama EMT adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana yang berada di berbagai posko pengungsian, seperti di Owaq, Ise-ise, Bintang Pepara, Rejewali, Kuyun, Rusip, Bergang, Kala Segi, Bamil Nosar, Telpam, Delung Sekinel, Daling, dan Tebuk.

Kehadiran tim medis ini disambut antusias oleh masyarakat. Selama masa pengungsian, banyak warga mengalami gangguan kesehatan, sementara kondisi medan dan jarak membuat mereka tidak memungkinkan untuk berobat ke fasilitas kesehatan.

“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Banyak yang sakit selama mengungsi, tapi tidak sanggup turun ke puskesmas,” ungkap salah seorang warga pengungsian.

Bentuk pelayanan yang diberikan tidak hanya pengobatan umum, tetapi juga penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, pencabutan gigi, pemeriksaan telinga, hingga layanan homecare bagi warga yang membutuhkan perawatan khusus.

Langkah Dinas Kesehatan Aceh ini menjadi contoh terbaik untuk memastikan hak dasar kesehatan tetap terpenuhi meski harus menembus jalur-jalur ekstrem pascabencana.*** (Kamaruzzaman).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi

13 April 2026 - 09:33 WIB

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Kecelakaan Berulang di Silayur, Wali Kota Semarang Menyalahkan Tata Ruang dan Ujungnya Pengadaan Proyek

11 April 2026 - 12:28 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Begini Skema Kebijakan Penerapan WFH bagi ASN Kemenhub

10 April 2026 - 08:52 WIB

Trending di RAGAM