Wartatrans.com, TAKENGON — Dinas Kesehatan Aceh menempuh jalur ekstrem demi memastikan pelayanan kesehatan tetap menjangkau masyarakat terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah. Medan berat, akses terbatas, hingga cuaca tak menentu tak menyurutkan langkah tim medis yang turun langsung ke lokasi pengungsian.
Untuk misi kemanusiaan tersebut, Dinkes Aceh membentuk Emergency Medical Team (EMT) yang terdiri dari lintas profesi, di antaranya dokter umum, dokter spesialis gigi forensik, dokter spesialis THT, dokter spesialis keluarga dan layanan primer , bidan, perawat, psikolog, tenaga farmasi, serta sanitarian.

Kegiatan pelayanan kesehatan ini berlangsung selama tujuh hari, mulai 16 hingga 22 Januari 2026, dengan mengerahkan empat tim EMT khusus untuk wilayah Aceh Tengah.

Adapun tugas utama EMT adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana yang berada di berbagai posko pengungsian, seperti di Owaq, Ise-ise, Bintang Pepara, Rejewali, Kuyun, Rusip, Bergang, Kala Segi, Bamil Nosar, Telpam, Delung Sekinel, Daling, dan Tebuk.
Kehadiran tim medis ini disambut antusias oleh masyarakat. Selama masa pengungsian, banyak warga mengalami gangguan kesehatan, sementara kondisi medan dan jarak membuat mereka tidak memungkinkan untuk berobat ke fasilitas kesehatan.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Banyak yang sakit selama mengungsi, tapi tidak sanggup turun ke puskesmas,” ungkap salah seorang warga pengungsian.

Bentuk pelayanan yang diberikan tidak hanya pengobatan umum, tetapi juga penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, pencabutan gigi, pemeriksaan telinga, hingga layanan homecare bagi warga yang membutuhkan perawatan khusus.
Langkah Dinas Kesehatan Aceh ini menjadi contoh terbaik untuk memastikan hak dasar kesehatan tetap terpenuhi meski harus menembus jalur-jalur ekstrem pascabencana.*** (Kamaruzzaman).
























